Ekspor Sawit Melonjak, Stok Nasional Menyusut

0

 

Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia kembali menunjukkan geliatnya pada pertengahan 2025. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, ekspor produk sawit pada Juni melonjak tajam hingga 35,37 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini mendorong nilai perdagangan sawit nasional ke level tertinggi sepanjang tahun, sekaligus menekan stok dalam negeri.

Produksi minyak sawit mentah (CPO) Juni 2025 mencapai 4,82 juta ton, meningkat dari 4,16 juta ton pada Mei. Sementara produksi minyak inti sawit (PKO) juga naik menjadi 465 ribu ton dari 396 ribu ton. Secara kumulatif, produksi CPO dan PKO hingga pertengahan tahun ini sudah mencapai 27,89 juta ton, atau tumbuh 6,51 persen dibanding periode sama tahun lalu yang hanya 26,18 juta ton.

“Pertumbuhan produksi ini sejalan dengan siklus panen dan faktor iklim yang relatif kondusif pada semester pertama tahun ini,” ujar Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI, Kamis, 21 Agustus 2025.

Konsumsi Domestik Stagnan

Meski produksi meningkat, konsumsi dalam negeri tidak tumbuh signifikan. Konsumsi biodiesel tercatat naik menjadi 1,08 juta ton dari 1,04 juta ton, atau tumbuh 3,95 persen. Konsumsi oleokimia juga meningkat tipis 2,67 persen menjadi 192 ribu ton. Namun konsumsi pangan justru turun 0,37 persen, dari 803 ribu ton menjadi 800 ribu ton.

Secara total, konsumsi domestik pada Juni hanya 2,07 juta ton, naik tipis dari bulan sebelumnya. Kondisi ini membuat pasar ekspor tetap menjadi penopang utama serapan sawit nasional.

Lonjakan Ekspor

Ekspor produk sawit Juni 2025 tercatat 3,61 juta ton, melonjak dari 2,66 juta ton pada Mei. Kenaikan terbesar berasal dari minyak sawit olahan yang naik 32,13 persen menjadi 2,6 juta ton. Ekspor CPO bahkan meroket 155,67 persen, dari 164 ribu ton pada Mei menjadi 418 ribu ton pada Juni. Sementara itu, ekspor oleokimia turun 3,74 persen menjadi 420 ribu ton.

Lonjakan ekspor ini terutama disumbang oleh peningkatan permintaan dari sejumlah negara. Tiongkok menjadi pembeli terbesar dengan tambahan 283 ribu ton, disusul India 224 ribu ton, dan Afrika 125 ribu ton. Pasar lain seperti Pakistan, Rusia, Amerika Serikat, Bangladesh, Malaysia, dan Uni Eropa juga mencatat kenaikan meski tidak sebesar dua pasar utama Asia tersebut.

Nilai Ekspor Melonjak

Dari sisi nilai, ekspor sawit Juni mencapai US$ 3,64 miliar, naik 28,84 persen dibanding Mei sebesar US$ 2,82 miliar. Jika dihitung secara tahunan, nilai ekspor sawit Indonesia hingga Juni 2025 sudah mencapai US$ 17,28 miliar, jauh lebih tinggi 34,64 persen dibanding periode sama 2024 yang hanya US$ 12,83 miliar.

Peningkatan nilai ini tidak hanya disebabkan volume yang lebih besar, tapi juga harga yang lebih tinggi. Rata-rata harga sawit di pasar global pada Januari–Juni 2025 mencapai US$ 1.180 per ton Cif Rotterdam, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 1.000 per ton.

“Permintaan global kembali menguat, sementara harga sawit tetap kompetitif dibanding minyak nabati lain. Ini menjadi peluang besar bagi Indonesia,” kata Mukti.

Stok Menurun

Kendati ekspor dan nilai perdagangan melonjak, kondisi stok dalam negeri justru menyusut. Dengan stok awal Juni 2,92 juta ton, ditambah produksi 5,29 juta ton, dikurangi konsumsi domestik 2,07 juta ton dan ekspor 3,61 juta ton, stok akhir Juni turun menjadi 2,53 juta ton.

Tren penurunan stok ini menandakan pasar global tengah menyerap sawit Indonesia dalam volume besar. Namun, kondisi tersebut juga bisa memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan baku untuk kebutuhan domestik, khususnya pangan dan energi terbarukan berbasis biodiesel.

Prospek Semester II

GAPKI memproyeksikan kinerja ekspor sawit masih akan ditopang permintaan dari Tiongkok dan India yang stabil, sementara pasar Afrika dan Asia Selatan diperkirakan ikut meningkat. Namun, faktor risiko tetap mengintai, terutama fluktuasi harga minyak nabati global, kebijakan perdagangan negara tujuan, serta isu lingkungan yang kerap menjadi sorotan.

“Stabilitas kebijakan dan dukungan terhadap industri sawit menjadi kunci menjaga momentum positif ini. Indonesia masih menjadi pemain utama dalam pasar minyak nabati dunia,” ujar Mukti.

Dengan tren ekspor yang terus menguat, Indonesia berpotensi mempertahankan posisi sebagai produsen dan pengekspor sawit terbesar dunia pada 2025. Namun, tantangan menjaga keseimbangan antara ekspor, konsumsi domestik, dan ketersediaan stok tetap harus diantisipasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini