Penajam Paser Utara – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggelar program Sobat Sawit Goes to School di Kalimantan Timur, Selasa, 19 Agustus 2025. Acara berlangsung di SMKN 3 Penajam Paser Utara dengan melibatkan ratusan pelajar dari SMA dan SMK di daerah itu.
Program ini bertujuan meluruskan informasi keliru sekaligus memberi pemahaman berbasis fakta tentang peran strategis industri sawit dalam pembangunan berkelanjutan. “Masih banyak persepsi yang salah kaprah. Sawit kerap dilihat hanya dari sisi negatif, padahal kontribusinya besar bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi,” ujar Ketua GAPKI Kaltim, Rachmat Perdana Angga.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kalimantan Timur Wilayah I, Winarno, yang membuka acara, menyambut baik kegiatan tersebut. “Generasi muda perlu ruang untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memahami isu-isu strategis seperti sawit,” katanya.
Berbagai kegiatan digelar, mulai dari lomba mading bertema sawit, pameran karya siswa, talkshow interaktif “Mengenal Sawit Lebih Dekat: Manfaat, Peluang, dan Keberlanjutan”, hingga penyerahan bantuan panel surya, instalasi hidroponik, dan bibit tanaman senilai Rp 24 juta kepada SMKN 3 PPU. Acara ditutup dengan penanaman pohon bersama.
Vice President Operasional Astra Agro Lestari area Kaltim, Januar Wahyudi, menekankan pentingnya pendidikan vokasi. “Lulusan SMK adalah tenaga siap kerja. Dengan Indonesia menyumbang 58 persen produksi sawit global, peluang kerja di sektor ini sangat luas, dari perkebunan, logistik, hingga industri turunan seperti minyak goreng, biodiesel, dan kosmetik,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMKN 3 PPU, Nurlaili Sunawardhani, menyebut kegiatan ini membuka wawasan siswa. “Mereka bisa belajar langsung dari narasumber tentang praktik sawit berkelanjutan,” katanya.
Intan Nurcahayani dari Bidang Kampanye Positif GAPKI menambahkan, sawit hadir di kehidupan sehari-hari, bukan hanya minyak goreng. “Sabun, kosmetik, skincare, hingga cokelat mengandung turunan sawit. Industri ini memberi multiplier effect bagi ekonomi masyarakat,” ujarnya. Ia menegaskan, tudingan sawit sebagai penyebab deforestasi dan kebakaran tidak sepenuhnya benar. “Perusahaan telah menerapkan zero burning dan konservasi. Generasi muda harus kritis dalam menyaring informasi.”





























