GAPKI: Kemenangan WTO Tak Serta-Merta Dongkrak Ekspor Biodiesel

0
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono
Ketua Gabungan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono. Dok: tangkap layar

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai kemenangan Indonesia atas Uni Eropa dalam sengketa Countervailing Duty (CVD) biodiesel di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bukan berarti ekspor komoditas itu akan melonjak.

Pasalnya, Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono mengatakan volume ekspor biodiesel relatif kecil karena lebih banyak diserap untuk kebutuhan dalam negeri melalui program mandatory biodiesel.

Berdasarkan data GAPKI, ekspor biodiesel Indonesia meningkat dari 167 ribu ton pada 2021 hingga mencapai 308 ribu ton pada 2023, sebelum merosot tajam menjadi 73 ribu ton pada 2024.

“Ekspor biodiesel Indonesia sudah sangat kecil karena ada mandatory untuk pemenuhan dalam negeri dulu,” kata Eddy kepada Majalah Hortus, Jakarta, Jumat (29/8).

Meski demikian, ia menegaskan kemenangan ini penting karena membuktikan Indonesia tidak melakukan dumping dalam perdagangan biodiesel. Menurutnya, hal ini menjadi modal positif untuk menjaga citra dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

“Positifnya dari kemenangan ini adalah Indonesia tidak terbukti melakukan dumping untuk ekspor biodiesel ke Uni Eropa,” kata Eddy.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Djatmiko Bris Witjaksono menegaskan biodiesel Indonesia tetap kompetitif di pasar global, termasuk di Uni Eropa.

“Tapi juga ternyata ya kalau memang kita kompetitif dikenakan instrumen seperti anti-dumping ataupun bea imbalan, itu belum tentu otomatis menurunkan kinerja,” kata Djatmiko.

“Ini terbukti di 2021–2022, ekspor di Indonesia kita masih cukup baik. Tapi di 2023–2024 kembali mengalami tekanan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Djatmiko menyebutkan tren global juga menunjukkan pola serupa. Ekspor biodiesel dunia naik pada 2018, sedikit terkoreksi pada 2019 akibat kebijakan Uni Eropa, lalu kembali meningkat tajam pada 2023.

“Ke Uni Eropa tetap tumbuh 6,7 persen, dengan rata-rata ekspor sekitar 319,7 juta dolar,” ujarnya.

Sementara itu, industri biodiesel nasional saat ini telah berkembang pesat dengan dukungan 26 produsen biodiesel yang tersebar di 12 provinsi. Kapasitas produksi terus meningkat, di mana pada tahun 2024 produksi biodiesel diperkirakan mencapai 13,9 juta kiloliter.

Konsumsi biodiesel juga terus bertumbuh. Pada tahun 2024, konsumsi diproyeksikan mencapai 13 juta kiloliter. Pemerintah menargetkan konsumsi domestik dapat ditingkatkan hingga mencapai 15,6 juta kiloliter pada tahun 2025.

Selain memberikan kontribusi terhadap energi terbarukan, industri biodiesel juga mendorong penyerapan tenaga kerja. Proyeksi penyerapan tenaga kerja industri biodiesel diperkirakan mencapai 1,3 juta orang, baik di sektor off-farm maupun sekitar 1,5 juta orang di sektor on-farm.

Ada beberapa eksportir utama biodiesel Indonesia adalah PT Ciliandra Perkasa, PT Intibenua Perkasatama dan PT Musim Mas (Musim Mas Group), PT Pelita Agung Agrindustri dan PT Permata Hijau Palm Oleo (Permata Group), serta PT Wilmar Nabati Indonesia dan PT Wilmar Bioenergi Indonesia (Wilmar Group). (ST)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini