
PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui Program Makmur berhasil meningkatkan produktivitas kentang petani hingga tiga kali lipat di daerah pegunungan Sembalun, Lombok Timur, NTB.
Program Makmur yang diluncurkan Menteri BUMN, Erick Tohir tahun 2021 ini telah dilaksanakan di berbagai wilayah Indonesia dengan mengacu pada komoditas sesuai keunggulan wilayah.
Vice Presiden Pengelolaan Pelanggan PT Pupuk Indonesia (Persero), M Burmansyah K mengatakan, Makmur merupakan program kemitraan strategis perusahaan dan petani, melalui layanan pembentukan komunitas petani modern dengan menumbuhkan jiwa kewirausahaan.
“Jadi, program Makmur berawal dari bagaimana upaya bersama untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” ungkap Burmansyah dalam webinar Program Makmur yang diadakan oleh Tabloid Sinar Tani, Rabu lalu.
Sesuai Roadmap Program Makmur, pada 2024 terget luas lahan 350.000 hektare dengan jumlah petani 150.000 orang. Jumlah itu naik bertahap hingga 2029 seluas 1 juta hektare dengan petani sebanyak 500.000 orang.
“Untuk tahun 2024, alhamdulillah dari target 350.000 hektare, kita sudah merealisasikan lahan penanaman sebanyak 352.000 hektare dengan jumlah petani 140.000 orang,” ungkap Burmansyah.
Untuk komoditasnya, realisasi untuk tanaman padi paling besar seluas 111.125 hektare. Kemudian tebu 39.301 hektare, jagung 23.700 hektare, sawit 143.959 ha, kopi 6.484 hektare, dan hortikultura, termasuk kentang seluas 28.092 hektare.
“Kami juga mengukur bagaimana kenaikan produktivitas di seluruh komoditas tersebut dan bagaimana peningkatan pendapatan petani,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, Sahri mengatakan, potensi areal di wilayahnya cukup luas untuk pengembangan kentang yakni 2.825 hektare. Keunggulan lainnya adalah adanya dukungan SDM petani, terbebas dari endemik nematoda sista kuning (NSK).
Selain itu, geografis kawasan Sembalun yang terisolasi, sehingga terhindar dari penyebaran hama penyakit dari daerah lain.
“Tanah Sembalun memiliki kadar bahan organik dan kalium tinggi tetapi kadar n dan p yang rendah. Ketersediaan Unsur Hara N, P dan K dengan dosis yang tepat akan menentukan tingkat keberhasilan produksi kentang,” tuturnya.
Karena itu, Sahri mendukung upaya PT. Pupuk indonesia melalui program Makmur dapat meningkatkan produksi kentang petani Sembalun tiga kali lipat.
“Pengalaman saat panen, kami tidak menduga panen bisa mencapai 15-17 ton per hektare,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Gapoktan Tani Makmur Sejahtera, Nurdin Aziz mengatakan, keberhasilan petani membudidayakan kentang tidak lepas dari dukungan penyuluh yang memberikan pengawal dalam budidaya.
Dalam bimbingan tersebut, Nurdin mengatakan, petani juga mendapat pelatihan teknis membudidayakan kentang industri dari salah satu perusahan benih kentang. Sedangkan dalam penggunaan pupuk, petani kemntang di Lombok Timur menggunakan aplikasi pupuk sesuai hasil uji tanah bersama PT Pupuk Indonesia.
“pH tanah yang semula hanya sekitar 5, sekarang sudah di atas 6. Jadi sebelum menanam kita lakukan uji tanah terlebih dahulu,” katanya.
Bahkan dalam program Makmur, petani bisa mendapatkan pupuk dahulu ke perusahaan, kemudian setelah panen baru dibayar, istilahnya Yarnen.
Dengan potensi pengembangan kentang yang cukup besar, termasuk kentang industri, Penyuluh Swadaya Nasional, Pending Dadih Permana mengatakan, perlu peran pemerintah membangun tata kelola pengembangan komoditas pertanian, khususnya kentang. Untuk itu, pemerintah harus berkomitmen menyiapkan kebijakan, penyiapan regulasi yang memadai.
Pemerintah dapat memberikan jaminan pengawalan hulu sampai hilir, melalui jejaring kemitraan strategis yang berkeadilan.
“Jadi, pemerintah harus mempunyak kebijakan yang ajeg, sehingga pelaku usaha mempunyai kepastian dalam berusaha dan tidak ragu berinvestasi bekerjasama dengan petani,” ujarnya.
Sementara itu, Komisaris Utama PT Agra Intan Makmur Sejahtera (AIMS), Benedictus Tommy, berharap bahwa dukungan PT Pupuk Indonesia terhadap petani kentang dalam mendukung sarana produksi, terutama pupuk.
“Saya berharap supproting ini tidak putus dan berlanjut. Bahkan tidak hanya di Sembalun, tapi juga di daerah lain,” ujarnya.
“Saya tertarik dengan Program Makmur karena sangat mendukung, terutama dalam bagaimana petani itu tetap konsisten menggunakan pupuk Indonesia. Jadi peran Pupuk Indonesia harus dominan,” tuturnya.





























