Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor industri sawit melalui pengembangan pendidikan vokasi yang berkelanjutan. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen Kemenperin dalam memperkuat struktur dan daya saing industri sawit nasional.
Hal ini disampaikan Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika pada kegiatan kuliah perdana bagi penerima Program Beasiswa BPDP Angkatan IX Tahun Ajaran 2025/2026 Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) yang diselenggarakan di Kebun Percobaan AKPY, Kabupaten Semarang beberapa waktu lalu.
Putu mengatakan, pengembangan SDM industri disesuaikan dengan kebutuhan berbagai sektor industri untuk mendukung aktivitas industri menjadi lebih produktif dan berdaya saing, salah satunya yaitu sektor industri pengolahan hasil perkebunan nasional.
“SDM yang berkompeten merupakan kunci dalam menjaga kelancaran rantai pasok industri, terutama pada industri pengolahan hasil perkebunan yang memiliki cakupan proses bisnis yang luas, dari hulu ke hilir,” ujar Putu.
Putu, yang juga Anggota Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) pembangunan industri perlu ditopang banyak hal seperti ketersediaan bahan baku, teknologi, dan SDM industri yang mampu mengembangkan inovasi.
“Pendidikan vokasi menjadi langkah strategis dalam mencetak tenaga kerja bagi industri kelapa sawit yang berkualitas dan sesuai kebutuhan industri,” kata Putu.
Lebih lanjut, pengembangan industri komoditas perkebunan berkelanjutan turut memerlukan hilirisasi industri, pengembangan teknologi, penerapan industri hijau, dan penguatan SDM. Hal ini selaras dengan strategi Transformasi Ekonomi 2025-2029 untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperluas riset inovatif, dan mendorong produktivitas tenaga kerja.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di kisaran 21,9 persen dengan target pertumbuhan industri sebesar 6,9–7,8 persen.
Sebelumnya, Kemenperin telah mengeluarkan berbagai inisiatif strategis dalam rangka mendorong industri pengolahan diantaranya seperti, menjaga ketersediaan bahan baku industri hilir dalam negeri melalui Kebijakan Bea Keluar (duty) dan Penguatan Ekspor (levy) yang pro Industri, injeksi teknologi melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan Steamless POME-less Palm Oil Technology (SPPOT).
Selain itu, Kemenperin juga memfasilitasi investasi melalui insentif fiskal dan non-fiskal, komersialisasi hasil riset dengan skema industry-lead consortium, perbaikan tata kelola melalui sistem digitalisasi, inovasi produk pangan fungsional berbasis sawit, teknologi fraksionasi biomassa tandan kosong kelapa sawit (TKKS) untuk biochemical building-block, dan partisipasi pada kampanye positif sawit bersama Kementerian/Lembaga terkait.
Adapun Program Beasiswa BPDP merupakan salah satu program pengembangan SDM industri kelapa sawit yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui Pendidikan Vokasi Industri. BPDP telah bekerja sama dengan 41 lembaga pendidikan sektor kelapa sawit dari hulu ke hilir dalam menyelenggarakan program beasiswa Sawit.
Sementara pada tahun ajaran 2025 ini, AKPY memperoleh penugasan untuk menyelenggarakan Pendidikan vokasi bagi 570 orang penerima beasiswa sawit yang berasal dari 26 provinsi dan 108 Kabupaten di seluruh Indonesia pada Tingkat Pendidikan D1 (Diploma 1).
Pendidikan vokasi pada industri kelapa sawit telah menjadi momen penting bagi sektor industri agro, dengan sumber daya alam Indonesia yang melimpah dan didukung oleh bonus demografi; Putu optimis bahwa industri agro menjadi pilar penting bagi pertumbuhan perekonomian nasional.
“Industri pengolahan hasil perkebunan seperti industri sawit, kakao, dan kelapa tidak hanya memberikan nilai tambah, tetapi juga membuka membuka ruang besar bagi inovasi, investasi, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas. Kami optimis, industri agro mampu menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Putu.






























