Mentan Amran Nyatakan Era Impor Beras Medium Telah Berakhir

0
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman. Dok: Ist

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyatakan, era impor beras medium yang selama ini membebani keuangan negara telah berakhir, seiring meningkatnya produksi di dalam negeri.

“Kalau dibandingkan tahun lalu, kita masih impor. Sekarang tidak lagi,” ujar Mentan Amran dalam wawancara di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kanpus Kementan), Jakarta, Selasa (7/10).

Mentan Amran mencatat, stok beras saat ini telah mencapai 4 juta ton. Ia menyebut kenaikan produksi ini merupakan hasil kebijakan besar Presiden Prabowo Subianto yang mendorong perubahan di sektor pertanian.

Salah satunya lewat deregulasi besar-besaran dengan mencabut 240 aturan yang selama ini menghambat pembangunan pertanian.

“Dalam 10 bulan, ada 17 Perpres dan Inpres yang diterbitkan mengubah banyak hal. Ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

Ia menuturkan, penyederhanaan regulasi pupuk menjadi kunci peningkatan produksi. “Dulu pupuk langka, sekarang tidak lagi. Dari 145 regulasi disederhanakan agar produsen bisa langsung ke petani,” jelas Amran.

Kementan juga merefokuskan anggaran Rp 1,7 triliun untuk penguatan sektor produktif, mulai dari benih hingga alat mesin pertanian. Keberhasilan ini, kata Mentan Amran, tak lepas dari kolaborasi lintas lembaga.

“Kita bergerak bersama Bulog, PIHC, Kemendag, ESDM, Menko Pangan, BUMN, Polri, TNI, bupati, dan gubernur. Semua berorkestra,” ujarnya.

Pemerintah juga menaikkan HPP gabah menjadi Rp6.500/kg dan jagung Rp5.500/kg, meningkatkan pendapatan petani hingga Rp113 triliun. Biaya produksi ditekan dengan teknologi dan alat pertanian yang nilainya mencapai hampir Rp10 triliun.

Selain itu, Indonesia mulai memberi kontribusi global, seperti pengiriman bantuan 10.000 ton beras ke Palestina. “Kami juga siapkan solusi permanen dengan pengembangan lahan hortikultura di Kalimantan Utara untuk mendukung Palestina,” jelasnya.

Ia menutup dengan optimisme, bahwa Indonesia menuju negara emas melalui pertanian. Dirinya terus berkomitmen untuk meningkatkan produksi pertanian sekaligus kesejahteraan para pelaku di dalamnya.

“Ke depan, fokus kita ada enam komoditas unggulan, yaitu kakao, kelapa, kopi, mente, pala, dan sawit, dengan nilai investasi Rp371,6 triliun dan serapan tenaga kerja 8,6 juta orang.” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini