Yogyakarta — Transformasi besar tengah berlangsung di tubuh PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), BUMN baru yang diproyeksikan menjadi motor ketahanan pangan dan energi terbarukan Indonesia. Perusahaan ini, yang sebelumnya bernama PT Indra Karya, kini mengambil mandat strategis dari Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat sektor minyak sawit nasional sebagai sumber biodiesel B35–B40, energi bersih, dan minyak goreng rakyat. Namun di balik agenda besar tersebut, Agrinas memilih fokus pada fondasi paling mendasar sekaligus paling krusial: pembangunan sumber daya manusia.
Direktur SDM dan Umum Agrinas, Ir. Memed Kosasih Setia Putra, mengatakan transformasi energi dan pangan yang direncanakan pemerintah tak akan berjalan tanpa tenaga profesional yang kuat di lapangan. “Lahan bisa dibuka, teknologi bisa dibeli. Tapi manusia yang berkarakter, berkompeten, dan berintegritas tidak bisa muncul begitu saja. Mereka harus dididik dan dibentuk dengan sistem yang tepat,” ujarnya di Jakarta.
Dokumen internal perusahaan menunjukkan skala operasi Agrinas yang sangat luas. Total area perkebunan yang diproyeksikan dikelola mencapai lebih dari 920 ribu hektare, tersebar di 15 provinsi, mulai dari Aceh, Kalimantan, hingga Papua Selatan. Dengan skala itu, perusahaan membutuhkan 7.108 tenaga kerja agronomi, termasuk 46 general manager, 307 estate manager, lebih dari 1.500 asisten kebun, hingga lebih dari 3.000 mandor dan mandor panen. Angka tersebut menempatkan Agrinas sebagai salah satu organisasi SDM perkebunan terbesar yang sedang dibangun di Indonesia.
Memed Kosasih menyebut penguatan SDM sebagai langkah awal yang wajib agar semua proses operasional berjalan sesuai standar perkebunan modern. “Kami tidak hanya merekrut orang. Kami membangun ekosistem kerja baru yang berbasis kompetensi, disiplin, dan budaya kerja yang kuat. Tanpa itu, visi energi terbarukan hanya akan menjadi jargon,” katanya.
Agrinas telah menyiapkan strategi menyeluruh yang mencakup perencanaan talenta jangka panjang, pemetaan kebutuhan tenaga kerja, pembentukan pipeline untuk posisi kunci, serta sistem suksesi yang memastikan tidak ada jabatan penting yang kosong. Semua proses dirancang dengan pendekatan korporasi modern, termasuk penggunaan indikator kinerja berbasis KPI dan standardisasi kompetensi jabatan. Menurut Memed, industri perkebunan selama ini sering dianggap konvensional dan lambat berubah. Namun Agrinas ingin membuka babak baru dengan tata kelola SDM yang setara dengan industri modern lainnya.
Perusahaan juga membangun Akademi APN, pusat pelatihan internal yang menjadi tulang punggung pembentukan kapasitas teknis dan kepemimpinan. Di akademi ini, seluruh jenjang karyawan—mulai dari pemanen, mandor, asisten, hingga general manager—mendapat pelatihan intensif yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi teknis dan kualitas kepemimpinan. “Kami ingin setiap jenjang pemimpin, terutama di kebun, memahami bahwa mereka bukan hanya pengelola lahan, tapi penggerak organisasi. Kepemimpinan lapangan itu adalah kunci produktivitas,” kata Memed.
Agrinas bahkan merancang program pelatihan berjenjang: Pratama untuk pemanen dan mandor, Madya untuk asisten dan askep, serta Utama untuk manajer dan general manager. Seluruh program menggabungkan kelas, mentoring, coaching, shadowing, dan uji kompetensi. Pada 2026, perusahaan menargetkan lebih dari 800 ribu jam pelatihan, termasuk pelatihan massal implementasi budaya kerja bagi pemanen dan mandor di seluruh unit kebun.
Budaya kerja adalah pilar penting yang terus ditekankan. Agrinas mengusung filosofi “Patriot, Loyal, Profesional.” Nilai ini dipastikan masuk ke setiap struktur pelatihan dan diterapkan dalam keseharian organisasi. Memed menjelaskan bahwa kata “patriot” bukan sekadar simbol, tetapi representasi komitmen Agrinas sebagai perusahaan negara yang bertugas menyediakan energi dan pangan bagi rakyat. “Loyal dalam arti berintegritas, bukan loyal kepada individu, tetapi loyal terhadap misi negara. Profesional berarti akuntabel, transparan, dan bekerja berdasarkan sistem,” katanya.
Dalam konteks perkebunan, penerapan nilai-nilai itu bukan hal yang sederhana. Agrinas harus memastikan bahwa ribuan pekerja, termasuk yang bertugas di lokasi terpencil di Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan pedalaman Riau, memiliki disiplin kerja yang terstandardisasi. Untuk itu, perusahaan memperkuat hubungan industrial, memperbaiki sistem insentif, menyiapkan tunjangan remote area, serta memastikan setiap unit kebun memahami standar Good Agricultural Practices (GAP).
Selain pelatihan teknis, Agrinas juga menjalankan program sertifikasi wajib yang mencakup ISPO, RSPO, ISO, Proper, hingga ISCC. Program ini menjadi keharusan karena perusahaan tidak hanya mengincar produktivitas, tetapi juga keberlanjutan. “Dunia internasional kini tidak hanya menilai hasil, tapi proses. SDM yang tidak memahami keberlanjutan tidak akan mampu menjalankan perkebunan modern,” ujar Memed.
Salah satu tantangan terbesar perusahaan berada di wilayah timur Indonesia. Papua Selatan, misalnya, menjadi area dengan kebutuhan tenaga SDM yang sangat besar, mencapai lebih dari 1.300 posisi. Agrinas menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan rekrutmen dan pengembangan masyarakat lokal. Sasaran akhirnya adalah melahirkan pemimpin kebun dari putra daerah. “Kami tidak ingin masyarakat lokal hanya menjadi tenaga kerja pendukung. Kami ingin mereka naik kelas, menjadi asisten, manajer, hingga GM,” kata Memed. Ke depan, program beasiswa dan kemitraan dengan lembaga vokasi di daerah akan diperluas.
Di sisi lain, perusahaan juga menyiapkan Management Trainee (MT) untuk mencetak kader muda perkebunan yang siap ditempatkan di berbagai wilayah operasional. Program MT ini mengombinasikan pelatihan intensif, praktik lapangan, penilaian berkala, dan penugasan di kebun. Para lulusan MT diharapkan menjadi tulang punggung regenerasi organisasi dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.
Agrinas memandang bahwa penguatan SDM bukan hanya kebutuhan teknis, tetapi juga strategi untuk memastikan ketahanan energi dan pangan nasional. Dengan Indonesia yang terus mengembangkan biodiesel B35–B40 dan memperluas hilirisasi CPO, perusahaan ini memposisikan dirinya sebagai bagian penting dalam rantai pasok nasional. “Indonesia punya potensi besar untuk menjadi pemimpin energi terbarukan berbasis sawit. Namun kuncinya ada pada manusia yang mengelola kebun, bukan pada mesin atau bangunan pabrik,” tegas Memed.
Memasuki 2026, Agrinas menetapkan tahun ini sebagai masa konsolidasi SDM. Perusahaan akan memperkuat sistem manajemen kinerja, menyelesaikan pemetaan kebutuhan tenaga agronomi dan teknik, serta memastikan seluruh standar operasional diterapkan secara seragam di semua provinsi. Selain itu, Akademi APN akan dikembangkan menjadi pusat pelatihan perkebunan skala nasional yang dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga sertifikasi.
Bagi Memed, agenda ini adalah maraton panjang. Ia mengakui bahwa banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari distribusi tenaga kerja, persebaran geografis kebun, hingga perubahan budaya organisasi. Namun ia optimistis. “Indonesia adalah negara besar dengan cita-cita besar. Agrinas ingin menjadi bagian dari perjalanan menuju swasembada energi dan pangan. Dan semua itu dimulai dari satu hal: membentuk manusia yang unggul.”






























