Dalam perayaan Dies Natalis ke-67 yang berlangsung hangat di kampus INSTIPER Yogyakarta, sorotan utama tak hanya tertuju pada jumlah mahasiswa dan deretan gedung-gedung baru. Tetapi, hari itu, panggung akademik berubah menjadi ruang apresiasi bagi deretan lembaga dan perusahaan yang selama ini menopang perjalanan INSTIPER dalam menyiapkan sumber daya manusia perkebunan dan kehutanan Indonesia.
Rektor INSTIPER, Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng., berdiri di tengah acara dengan nada penuh penghargaan. Ia memulai dengan menyebut satu fakta penting: sekitar 30 persen dari mahasiswa baru tahun akademik 2025/2026 ini adalah penerima beasiswa, baik dari pemerintah maupun perusahaan. Angka itu, kata dia, bukan hanya statistik penerimaan mahasiswa, melainkan cermin kuatnya kepercayaan berbagai pihak terhadap kualitas pendidikan INSTIPER.
Sebagai institusi yang puluhan tahun berorientasi pada pembangunan agribisnis, INSTIPER menempatkan kolaborasi sebagai fondasi. Karena itu, momen Dies Natalis menjadi kesempatan resmi untuk memberikan penghargaan kepada mitra-mitra strategis—pemberi beasiswa yang memungkinkan banyak mahasiswa dari berbagai daerah mengakses pendidikan tinggi berkualitas.
Di panggung acara, nama-nama perusahaan dan lembaga pemerintah disebutkan satu per satu. Dari bidang kehutanan, Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) menjadi salah satu mitra utama yang kembali mengirimkan calon-calon profesional masa depan melalui skema beasiswa. Rektor menyebut perusahaan ini sebagai contoh kemitraan yang konsisten, bukan hanya dalam pemberian beasiswa tetapi juga dalam membangun ekosistem pembelajaran yang terhubung langsung dengan industri.
Dari sektor perkebunan, daftar mitra terlihat lebih panjang. Asian Agri, PT Bumitama Gunajaya Agro, Wilmar International, dan PT PP London Sumatera Indonesia menjadi perusahaan yang mendapat apresiasi atas kontribusi mereka. Perusahaan-perusahaan ini bukan nama baru bagi INSTIPER; sebagian di antaranya telah bekerja sama selama bertahun-tahun, menjadikan kampus ini sebagai rumah bagi regenerasi tenaga ahli sawit dan perkebunan Indonesia.
Harsawardana menyampaikan penghargaan dengan cara yang khas: tidak sekadar seremonial, tetapi menegaskan bahwa beasiswa bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. “Ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan industri,” ujarnya di tengah hadirin. Ia menambahkan bahwa setiap mahasiswa penerima beasiswa membawa harapan baru bagi keberlanjutan sektor perkebunan dan kehutanan—dua sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Dukungan pemerintah juga mendapat tempat utama dalam daftar apresiasi. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), serta Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui KIP Kuliah disebut sebagai mitra strategis yang memperluas akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia dari berbagai latar belakang ekonomi. Tanpa dukungan mereka, kata Rektor, sulit memastikan pemerataan kesempatan belajar bagi generasi baru yang ingin terjun ke industri perkebunan dan kehutanan.
Pemberian penghargaan ini berlangsung dalam suasana yang lebih intim dibandingkan perayaan Dies Natalis pada umumnya. Para perwakilan perusahaan duduk di barisan depan, beberapa di antaranya tampak bertepuk tangan pelan setiap kali nama mereka disebut. Di sisi lain ruangan, sejumlah mahasiswa penerima beasiswa ikut menyaksikan, beberapa dengan wajah bangga, seolah tengah melihat perjalanan mereka sendiri dipertontonkan di atas panggung.
Sementara itu, 36 mahasiswa baru program magister manajemen perkebunan (S2) juga hadir sebagai representasi bahwa beasiswa di INSTIPER tak hanya menyasar jenjang sarjana. Mereka datang dari berbagai daerah dan industri, memperkaya dinamika akademik sekaligus memperkuat posisi INSTIPER sebagai pusat keahlian yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan perkebunan besar.
Harsawardana menutup rangkaian penghargaan dengan pesan bahwa kolaborasi harus dilihat sebagai kerja jangka panjang. Ia menekankan bahwa investasi yang diberikan oleh mitra perusahaan dan pemerintah bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga memastikan transformasi sektor agro dalam menghadapi tuntutan masa depan—dari isu keberlanjutan hingga teknologi pengelolaan lahan.
Akhirnya, asap tipis dupa seremonial dan tepuk tangan penonton menjadi tanda berakhirnya sesi penghargaan. Pada usia ke-67, INSTIPER bukan hanya merayakan perjalanan panjangnya, tetapi juga mengukuhkan kembali siapa saja yang berdiri bersama mereka.
“Karena di balik setiap mahasiswa baru yang menjejakkan kaki di kampus itu, ada peran para mitra strategis yang hari ini diberi tempat terhormat sebagai penjaga masa depan pendidikan perkebunan dan kehutanan Indonesia,” pungkas Rektor INSTIPER.






























