Mentan Amran Dorong Hilirisasi Kakao Dimulai dari Desa

0
kakao-matang.
Buah kakao organik yang sudah matang berwarna kuning dan merah. Dok: Supianto/Majalah Hortus

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya hilirisasi perkebunan, terutama kakao, di Sulawesi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi desa.

Hal itu disampaikan saat memberikan arahan di hadapan ribuan peserta Jambore Kepala Desa se-Sulawesi Selatan di Rindam XIV/Hasanuddin, Pakatto, Bontomarannu, Gowa, Jumat (12/12).

Amran menekankan, desa adalah ujung tombak pembangunan pertanian, terutama dalam upaya mewujudkan swasembada pangan. Dia mendorong para kepala desa agar tidak terpaku pada pola lama, melainkan berani mengambil terobosan.

“Kurangi narasi, perbanyak tindakan. Kalau kepala desa bergerak, pertanian bergerak. Kalau pertanian bergerak, rakyat sejahtera,” tegas Amran.

Dia menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan hilirisasi komoditas perkebunan strategis. Sejalan dengan itu, Amran menilai hilirisasi pertanian harus dimulai dari desa karena desa merupakan sumber bahan baku sekaligus pusat produksi pangan.

“Program Bapak Presiden kita mau melakukan hilirisasi. Kami diperintahkan khusus, anggaran sudah disiapkan, Kami yang kawal. Komoditas unggulan kita banyak, ada kakao, mente, lada. Doakan mudah-mudahan tidak ada aral melintang,” ujar Amran.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Sulawesi merupakan produsen kakao terbesar secara nasional pada 2023. Sulawesi Tengah menempati posisi puncak dengan produksi sebanyak 125,92 ribu ton.

Urutan kedua ditempati oleh Sulawesi Tenggara dengan produksi kakao sebesar 101,74 ribu ton. Kemudian, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat masing-masing menghasilkan kakao sebanyak 79,78 ribu ton dan 67,15 ribu ton.

“Kakao kita hebat. Bahannya dari Sulawesi. Kenapa kita tidak kuasai industrinya? Kita bisa menjadi negara superpower kalau bahan baku kita olah sendiri,” tegas Amran.

Hilirisasi, menurut Amran dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem produksi di desa, mulai dari peningkatan areal tanam, benih unggul, irigasi, hingga alsintan, yang kemudian mengalir ke industri pengolahan. Dengan rantai ini, nilai tambah tetap berada di desa dan pendapatan masyarakat dapat meningkat. 

Kehadiran Amran mendapat respons positif dari para kepala desa. Asirah Rasyid, Kepala Desa Turu Adae di Kabupaten Bone, menyampaikan apresiasinya atas perhatian pemerintah pusat.

“Terima kasih Bapak Menteri. Di desa kami ada bantuan 10 ribu bibit kakao, dan ke depan akan dibangun juga peternakan. Ini sangat berarti untuk masyarakat kami,” ujarnya.

Sementara itu, Hasnah Sultan dari Desa Manuba, Mallusetasi, Kabupaten Barru, juga memberikan kesan terhadap Mentan Amran. “Terima kasih Pak Menteri. Kedatangan Bapak sungguh memotivasi kami untuk bekerja lebih keras,” kata dia.

Amran menegaskan, perubahan besar dimulai dari desa, dan kepala desa adalah pemimpin garda terdepan yang menentukan arah pembangunan. Dia menutup arahannya dengan mengajak seluruh kepala desa untuk bekerja dan memperkuat kolaborasi.

“Swasembada pangan itu tidak mungkin bisa dicapai jika tidak dikerjakan bersama – sama, Keberhasilan ini karena keberhasilan kita semua,” tutup Amran.

Repoter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini