
Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman langsung menginstruksikan jajarannya membeli cabai petani di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah setelah mengetahui daerah tersebut memasuki masa panen.
Amran mengatakan Bupati Aceh Tengah dan Bener Meriah melaporkan kepada Kementerian Pertanian (Kementan) bahwa stok cabai di wilayahnya saat ini melimpah.
Menindaklanjuti laporan tersebut, dia meminta jajarannya melakukan penyerapan dengan harga yang menguntungkan petani sebagai bentuk keberpihakan pemerintah di tengah kondisi sulit yang dihadapi masyarakat setempat.
“Saya katakan jangan beli dengan harga murah. Beli dengan harga yang menguntungkan petani kita, karena mereka adalah saudara kita,” kata Amran saat menyambut kedatangan cabai dari Aceh di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Rabu (17/12) malam.
Amran menjelaskan, pengiriman cabai dari Aceh dilakukan menggunakan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara yang sebelumnya membawa bantuan kemanusiaan dari Jakarta ke Aceh.
“Ini pesawat bolak-balik ke Aceh angkut bantuan dari pemerintah, maupun bantuan dari saudara-saudara kita, Kementerian Pertanian dan mitra-mitranya. Jadi, pulangnya kosong,” ujar Amran.
Total cabai yang diserap adalah 40 ton. Sebagian dikirim ke Medan, sementara 15 ton di antaranya tiba di Jakarta untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga.
“Ini semua atas arahan Bapak Presiden. Apa saja yang bisa kita bantu untuk saudara-saudara kita, kita lakukan,” ujarnya.
Menurut Amran, cabai tersebut dibeli langsung di lokasi panen. Pembayaran dilakukan secara tunai di lapangan untuk meringankan beban petani.
“Cabai ini tidak bisa bertahan lama. Jangan manfaatkan situasi mereka yang sedang terdesak. Beli dengan harga yang menguntungkan petani,” tegas dia.
Amran menegaskan pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat di Aceh dan daerah terdampak lainnya menghadapi kesulitan sendirian.
“Jangan biarkan saudara kita kesulitan. Ini panggilan negara. Cobaan saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, dan Padang adalah cobaan kita semua,” kata Amran.
Dia pun mengenang pengalamannya saat keluarganya mengalami musibah kebakaran pada 1990 sebagai pengingat pentingnya empati negara kepada masyarakat.
“Satu bungkus Indomie, itu seakan sangat membahagiakan kami. Kami dibawakan barang bekas, pakaian bekas, itu sangat membahagiakan kami. Jadi kami mengerti, apa yang dirsasakan saudara-saudara kita di sana,” imbuh dia.




























