Di balik renyahnya kentang goreng atau french fries yang tersaji di restoran cepat saji, kafe, hingga hotel berbintang di Indonesia, tersimpan persoalan besar dalam rantai pasok industri kentang nasional. Kebutuhan bahan baku industri pengolahan terus berkembang, tetapi produksi kentang lokal belum sepenuhnya mampu mengambil peran. Ironisnya, ketika petani dalam negeri berjuang menghasilkan kentang berkualitas, impor kentang segar untuk kebutuhan industri olahan justru berlangsung dalam volume sangat besar.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pengembangan industri perbenihan kentang nasional. Salah satu perusahaan yang berupaya mengambil peran dari sisi hulu adalah PT Agra Intan Makmur Sejahtera (AIMS). Perusahaan ini berjuang membangun kemandirian industri melalui penyediaan benih kentang berkualitas, pengembangan varietas unggul, serta pendampingan petani di berbagai sentra produksi.
Direktur PT AIMS, Benediktus Tommy, menilai Indonesia memiliki pasar kentang olahan yang sangat besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dinikmati oleh petani dan pelaku usaha dalam negeri.
Menurutnya, persoalan industri kentang nasional bukan semata-mata kemampuan memproduksi kentang segar, melainkan juga kesiapan membangun rantai pasok yang terintegrasi, mulai dari benih, budidaya, penyerapan hasil panen, hingga pengolahan.
Salah satu persoalan yang perlu segera dibenahi adalah ketergantungan industri terhadap benih kentang impor. Rencana produksi benih kentang industri di dalam negeri hingga kini relatif masih jauh dari kebutuhan perusahaan pengolahan yang selama ini mengimpor benih bersama mitra petaninya.
Kesenjangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kapasitas produksi produsen benih lokal. Masih terdapat keraguan di kalangan pelaku industri mengenai kualitas dan mutu benih kentang produksi dalam negeri.
Keraguan inilah yang perlu dijawab melalui pembuktian langsung di lapangan. Direktorat Perbenihan Hortikultura mengambil inisiatif dengan mengundang tiga perusahaan industri kentang terbesar di Indonesia yang selama ini mengajukan impor benih untuk melihat pertanaman kentang industri lokal.
Kunjungan dilakukan di tiga lokasi, yakni Pangalengan, Pemalang, dan Sembalun. Para pelaku industri datang bersama mitra petaninya untuk menyaksikan langsung pertumbuhan tanaman pada fase generatif, khususnya masa pembesaran umbi.
Melalui kegiatan tersebut, perusahaan industri tidak hanya melihat kondisi tanaman, tetapi juga berkesempatan berdialog dengan petani yang menanam benih kentang produksi dalam negeri. Perwakilan Direktorat Hortikultura turut menyaksikan kegiatan tersebut.
Bagi Tommy, langkah ini penting untuk membangun kepercayaan antara produsen benih lokal dan perusahaan industri. Sebab, selama ini salah satu kendala utama dalam memperbesar produksi benih dalam negeri adalah belum adanya kepastian permintaan dari industri pengolahan.
Padahal, produksi benih kentang membutuhkan perencanaan jauh hari. Perusahaan industri yang mengandalkan benih impor pun harus melakukan pemesanan sekitar satu tahun sebelumnya, baik untuk kebutuhan benih maupun perencanaan produksi kentang segar.
Karena itu, menurut Tommy, diperlukan niat baik dan komitmen perusahaan industri untuk mulai membuka komunikasi dengan produsen benih lokal. Jika permintaan dan kerja sama dapat dipastikan sejak awal, produsen dalam negeri memiliki dasar untuk meningkatkan kapasitas produksi sesuai kebutuhan pasar.
Dengan demikian, pengembangan industri benih tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari perencanaan rantai pasok industri pengolahan.
Di sisi lain, persoalan penyerapan hasil panen petani lokal juga membutuhkan perhatian serius. Tommy menyoroti besarnya impor kentang segar untuk kebutuhan industri olahan yang menurutnya berlangsung tanpa pembatasan memadai. Kondisi tersebut berpotensi menekan pasar kentang lokal karena hasil panen petani dalam negeri tidak terserap oleh perusahaan pengolahan.
Akibatnya, ribuan ton kentang hasil produksi petani lokal berisiko tidak mendapatkan pasar yang layak. Petani yang telah mengeluarkan biaya untuk benih, pupuk, tenaga kerja, dan pemeliharaan tanaman akhirnya harus menghadapi kerugian.
Persoalan ini memperlihatkan bahwa kemandirian industri kentang tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi benih. Harus ada keseimbangan antara pengembangan produksi lokal, kepastian penyerapan hasil panen, dan kebijakan impor yang memperhatikan kepentingan petani nasional.
AIMS memilih memperkuat fondasi dari sisi perbenihan. Perusahaan yang mengembangkan usaha di Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini memiliki kapasitas produksi benih sumber generasi G-0 mencapai 4–6 juta knol, bergantung pada permintaan pasar.
Kapasitas tersebut menjadi modal penting untuk mendukung pengembangan produksi kentang konsumsi maupun kentang industri. Dari satu knol benih sumber G-0, tanaman kentang berpotensi menghasilkan sekitar 600–800 gram umbi. Bahkan, pada petani berpengalaman dengan pengelolaan budidaya yang baik, hasilnya dapat mencapai sekitar 1,6 kilogram per tanaman.
Potensi produktivitas tersebut menunjukkan pentingnya penggunaan benih bermutu yang didukung teknik budidaya tepat. Kualitas benih menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan produksi, selain kondisi lahan, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan keterampilan petani.
Portofolio AIMS mencakup kentang konsumsi atau table potato, antara lain varietas Granola Lembang dan Granola Kembang. Kentang jenis ini banyak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan berbagai olahan tradisional, seperti perkedel, sup, sambal goreng, hingga semur.
Untuk kebutuhan industri pengolahan, AIMS mengembangkan varietas Chitra yang diarahkan bagi industri keripik kentang. Pengembangannya dilakukan melalui jaringan petani mitra untuk memperkuat pasokan bahan baku industri makanan ringan.
Tidak berhenti di situ, AIMS juga telah mendaftarkan varietas kentang untuk kebutuhan industri french fries, yakni Russet Sembalun. Kehadiran varietas ini menjadi perkembangan penting dalam upaya membangun alternatif benih lokal bagi industri kentang goreng.
Menurut Tommy, Russet Sembalun memiliki kualitas yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri french fries, dengan karakter hasil dan cita rasa yang setara dengan kentang impor yang selama ini digunakan industri.
Pengembangan varietas tersebut diharapkan membuka jalan bagi perusahaan pengolahan untuk mulai menggunakan kentang hasil produksi petani Indonesia. Dengan dukungan benih yang sesuai spesifikasi industri, peluang substitusi bahan baku impor semakin terbuka.
Tantangan berikutnya terletak pada proses perbanyakan benih atau multiplikasi. Benih sumber G-0 selanjutnya dikembangkan ke generasi berikutnya, seperti G-1 dan G-2, melalui proses yang harus memenuhi standar perbenihan. Dalam rantai produksi ini, mutu benih harus tetap terjaga agar potensi produktivitas tanaman tidak menurun.
Benih kentang produksi AIMS kini telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mencakup seluruh Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Minahasa Selatan, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Penyebaran tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses petani terhadap benih kentang berkualitas.
Meski demikian, pengembangan industri perbenihan masih menghadapi persoalan klasik, yakni keterbatasan lahan. Menurut Tommy, tidak mudah menemukan lahan dataran tinggi yang relatif datar dan sesuai untuk pengembangan perbenihan kentang dalam skala luas.
Ketersediaan lahan menjadi faktor penting karena proses multiplikasi membutuhkan kondisi lingkungan dan pengelolaan budidaya yang terkontrol. Tanpa dukungan lahan yang memadai, peningkatan kapasitas produksi benih akan sulit dilakukan secara berkelanjutan.
Selain lahan, penguatan sumber daya manusia juga menjadi perhatian AIMS. Perusahaan berupaya melakukan pelatihan dan pendampingan petani agar mampu menerapkan teknik budidaya yang sesuai dengan standar produksi kentang industri.
Pengelolaan kesehatan tanah, pengendalian penyakit tanaman, pemupukan, dan rotasi tanaman menjadi bagian penting dalam pendampingan tersebut. Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah nematoda sista kuning yang dapat mengganggu pertumbuhan serta produktivitas tanaman kentang.
Pemeriksaan kesehatan tanah secara berkala diperlukan untuk mendeteksi potensi masalah sejak dini. Pengambilan sampel tanah dan pemeriksaan melalui laboratorium menjadi bagian dari pendekatan untuk membantu petani mengambil keputusan budidaya secara lebih tepat.
Bagi Tommy, petani merupakan bagian penting dalam membangun industri kentang nasional. Ketersediaan benih berkualitas harus diikuti peningkatan keterampilan, pendampingan teknis, dan kepastian pasar. Tanpa ketiga hal tersebut, potensi peningkatan produksi tidak akan memberikan manfaat optimal bagi petani.
Di sisi lain, perusahaan industri juga perlu mengubah cara pandang terhadap produsen benih lokal. Kepercayaan tidak akan tumbuh hanya melalui komunikasi, tetapi harus dibangun melalui pengujian, pembuktian mutu, dan kerja sama yang berkelanjutan.
Kunjungan tiga perusahaan industri bersama mitra petaninya ke lokasi pertanaman kentang lokal menjadi langkah awal yang penting. Jika hasil pengamatan lapangan dapat menjawab keraguan terhadap kualitas benih dalam negeri, peluang kerja sama antara industri pengolahan dan produsen benih lokal akan semakin terbuka.
Komitmen pemesanan menjadi kunci berikutnya. Produsen benih membutuhkan kepastian permintaan agar dapat merencanakan produksi jauh hari. Sebaliknya, perusahaan industri membutuhkan kepastian pasokan kentang segar dengan volume, kualitas, dan kontinuitas sesuai standar pengolahan.
Melalui pengembangan varietas Chitra dan Russet Sembalun, peningkatan kapasitas produksi benih sumber hingga 4–6 juta knol, serta penyebaran benih ke berbagai sentra produksi, PT AIMS berupaya mengambil bagian dalam membangun ekosistem tersebut.
Perjuangan ini bukan sekadar memperbanyak benih, melainkan membangun kepercayaan dan keberanian industri untuk menggunakan produk dalam negeri. Sebab, kemandirian industri kentang Indonesia tidak akan terwujud apabila petani terus didorong meningkatkan produksi, tetapi hasil panennya tidak mendapatkan kepastian pasar.
Tommy berharap semakin banyak perusahaan industri yang bersedia memberikan kesempatan kepada benih lokal untuk membuktikan kualitasnya. Dukungan tersebut akan mendorong produsen meningkatkan produksi, memperluas kemitraan, dan memperkuat posisi petani dalam rantai pasok industri.
“Harapan saya, industri kentang di Tanah Air bisa terus berkembang, dan kita bisa melahirkan pionir-pionir lokal yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri,” pungkas Tommy.






















