DTI Dorong Perawatan Kebun Teh Rakyat demi Cegah Bencana Ekologi dan Tingkatkan Nilai Ekonomi

0

Ketua Umum Dewan Teh Indonesia (DTI) Iriana Ekasari mengingatkan pentingnya perawatan kebun teh rakyat yang kini banyak berada dalam kondisi menua dan kurang terkelola. Menurut dia, kebun teh yang tidak dirawat dengan baik bukan hanya berdampak pada penurunan produksi, tetapi juga berpotensi memicu bencana ekologi di wilayah hulu.

“Kebun teh itu bukan sekadar aset produksi. Ia juga benteng ekologi. Kalau kebun dibiarkan tua dan tidak dirawat, risikonya bukan hanya produksi turun, tapi juga kerusakan lingkungan,” kata Iriana seusai pelantikan pengurus DTI di Kantor Kementerian Pertanian Jakarta, Kamis, 18/12.

Iriana menuturkan, sebagian besar kebun teh milik petani rakyat kini menghadapi persoalan struktural. Tanaman yang sudah berusia tua tidak diremajakan, pemeliharaan minim, dan dukungan ekonomi yang terbatas membuat produktivitas terus menurun. Padahal, secara historis, hamparan kebun teh berfungsi menjaga tata air, mencegah erosi, dan menopang keseimbangan ekosistem pegunungan.

“Kalau kebun teh rusak, yang terjadi bukan hanya krisis produksi, tapi potensi bencana ekologis seperti longsor dan degradasi tanah,” ujarnya.

Meski produktivitas teh nasional relatif rendah dibandingkan negara produsen lain, Iriana menilai teh Indonesia memiliki keunggulan tersendiri dari sisi kualitas dan nilai. “Produktivitas kita memang rendah, tapi kita punya value. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan produktivitas yang lebih baik tanpa mengorbankan nilai itu,” katanya.

Menurut Iriana, pendekatan pembangunan industri teh tidak bisa hanya berorientasi pada volume produksi. Nilai ekonomi harus berjalan seiring dengan nilai ekologis. Di sinilah pentingnya melihat kebun teh sebagai aset multifungsi—bukan hanya penghasil daun teh, tetapi juga penyedia jasa lingkungan.

Ia menyinggung peluang besar dari aspek nilai ekologi dan perdagangan karbon. Hamparan perkebunan teh yang mencapai ribuan hektare sejatinya menyimpan potensi serapan karbon yang signifikan. Namun, hingga kini aset tersebut belum sepenuhnya terlihat dan dimanfaatkan.

“Ribuan hektare kebun teh itu aset. Tapi aset ini belum muncul nilainya. Kita perlu memikirkan bagaimana nilai ekologinya, termasuk potensi carbon trading, bisa diangkat dan memberi manfaat langsung bagi petani,” kata Iriana.

Selain karbon, pengembangan ekowisata dinilai menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan nilai tambah kebun teh. Lanskap perkebunan teh yang khas, udara sejuk, serta budaya lokal di sekitarnya memiliki daya tarik kuat bagi pariwisata, termasuk wisatawan internasional.

“Eco-tourism di kawasan kebun teh itu value-nya banyak. Tidak hanya ekonomi, tapi juga memperkuat kesadaran lingkungan dan menjaga keberlanjutan kebun itu sendiri,” ujarnya.

Iriana menekankan, peningkatan nilai ekonomi menjadi prasyarat utama agar petani mau dan mampu merawat kebunnya. Selama produksi rendah dan harga tidak menarik, petani cenderung meninggalkan kebun atau mengelolanya secara minimal.

“Petani akan merawat kebunnya kalau ada nilai ekonomi yang jelas. Kalau kebun memberi penghidupan yang layak, perawatan akan berjalan dengan sendirinya,” kata dia.

Karena itu, DTI mendorong kolaborasi lintas sektor—mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga lembaga lingkungan—untuk merancang skema yang mengintegrasikan produksi teh, pelestarian ekologi, dan penciptaan nilai ekonomi baru. Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan sekadar mengejar target produksi jangka pendek.

Iriana menegaskan masa depan teh Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kemampuan mengelola kebun secara holistik. “Teh bukan hanya soal produksi. Ini soal ekologi, ekonomi, dan masa depan petani. Kalau kita bisa menyatukan semuanya, teh Indonesia punya peluang besar untuk bangkit,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini