Tanggapan Wamentan Sudaryono soal Sawit Penyebab Longsor di Sumatra

0
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudayono dalam acara Dialog HKTI bersama Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementerian, Jakarta, Selasa (16/12)

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono merespons isu yang menyebut perkebunan sawit sebagai penyebab banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Sudaryono yang juga Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2025-2030 menegaskan, anggapan tersebut harus diuji berdasarkan fakta di lapangan.

“Ya itu dicek saja. Saya kira bisa dicek,” ujar dia saat dijumpai di acara Dialog HKTI bersama Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Selasa (16/12).

Sudaryono menegaskan, pemerintah tidak akan ragu menindak pihak mana pun yang terbukti melanggar aturan dan menyebabkan banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Presiden secara tegas di Rapat Kabinet live di TV, pernyataan terbuka bahwa siapapun yang melanggar dan menyebabkan bencana ini harus ditindak, diusut, dan dihukum dengan hukuman yang setimpal,” ujar Sudaryono.

Menurut Sudaryono, sikap pemerintah sudah sangat jelas. Penegakan hukum akan dilakukan tanpa pandang bulu apabila ditemukan pelanggaran yang berkontribusi terhadap terjadinya bencana alam.

Pengamat sosial dan Wanhat Asosiasi Petani dan Industri Bioenergi (APIB), Memet Hakim, menyebutkan, secara ekologis kebun sawit tidak dapat serta-merta disamakan dengan perusak lingkungan. 

Dia menilai, dalam banyak aspek, fungsi lingkungan kebun sawit relatif sebanding dengan hutan sekunder, terutama bila dikelola sesuai prinsip praktik terbaik (best management practice).

Menurut Memet, tuduhan bahwa sawit menjadi penyebab banjir juga tidak sejalan dengan prinsip hidrologi. Kebutuhan air sawit dinilai setara dengan hutan, yakni sekitar 4–5 milimeter per hari. 

Selain itu, sistem perakaran sawit yang menyebar horizontal hingga lebih dari 14 meter dinilai mampu menahan erosi dan memperlambat aliran permukaan air.

“Dalam praktiknya, kebun sawit modern juga dilengkapi rorak, saluran drainase, gawangan, hingga tanaman penutup tanah. Bahkan banyak kebun membangun embung untuk memanen air hujan. Jika ini dijalankan, sawit justru berkontribusi pada mitigasi banjir,” kata Memet.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini