
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pembinaan terhadap peternakan ayam di Pulau Bintan untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar ayam broiler di Singapura.
Pasar ekspor ayam broiler ke Singapura telah dibuka sejak 2023, dengan kebutuhan negara tersebut dipenuhi melalui dua peternakan di Gunung Kijang milik PT Indojaya Agrinusa, yang telah mengirimkan sebanyak 110.796 ekor ayam.
Dalam upaya menambah sumber pasokan ekspor ayam broiler, Ditjen PKH melakukan pembinaan terhadap peternakan ayam broiler agar memenuhi persyaratan kesehatan hewan dari Singapura.
Untuk mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Singapura, Singapore Food Agency (SFA) melakukan audit pada Toapaya Asri Farm di Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan pada Selasa, 13 Agustus 2024.
Mereka didampingi tim dari Direktorat Kesehatan Hewan beserta Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Riau, dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bintan.
Direktur Kesehatan Hewan, Drh Imron Suandy, yang turut hadir dalam pengawasan dan pendampingan audit di Bintan, memastikan bahwa Pemerintah Indonesia menjamin pemenuhan syarat kesehatan untuk ayam broiler yang diekspor ke Singapura.
“Setiap ayam yang dikirim dijamin bebas dari penyakit seperti Flu Burung, Salmonella, dan penyakit unggas lainnya,” tegas Imron dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (16/8).
Dia menjelaskan bahwa penjaminan ini dilakukan melalui sertifikasi kompartemen bebas penyakit Flu Burung, yang diberikan kepada peternakan yang secara aktif dan kontinyu melakukan surveilan terhadap keberadaan virus Flu Burung pada ayam, kandang, dan lingkungan sekitarnya.
“Untuk membuktikan ayam bebas Flu Burung, dilakukan pengujian laboratorium di Balai Veteriner Bukittinggi dan Balai Besar Veteriner Wates,” tambah Imron.
Selain bebas Flu Burung, Singapura juga mempersyaratkan ayam bebas Salmonella enteritidis, yang dapat menular ke manusia melalui makanan dan menyebabkan gangguan pencernaan.
“Untuk itu, dibutuhkan pengendalian agar ayam tidak mengandung bakteri ini sampai ke rantai pangan,” ungkap Imron.
Imron menekankan pentingnya penerapan standar biosekuriti yang ketat di peternakan ayam broiler. Ini termasuk pembatasan lalu lintas orang, barang, dan hewan, serta menjaga kebersihan kandang, disinfeksi, vaksinasi, dan pemberian vitamin untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan ayam.
“Ekspor produk hewan, khususnya unggas, dari Indonesia semakin meluas karena kita mampu memenuhi standar kesehatan hewan global. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia semakin diperhitungkan di pasar internasional,” pungkas Imron.





























