
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyatakan harga telur ayam ras memang naik sedikit saat ini. Namun, dia meyakini kondisinya akan kembali normal dalam waktu dekat.
Hal ini disampaikan usai Rapat Koordinasi (Rakor) Stabilisasi Harga Telur Ayam Ras bersama Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (19/11).
“Tapi yang menarik adalah, ini kan ada kenaikan telur sedikit. Jangan dibesar-besarin, sedikit, Rp 30.000 lebih sedikit. Mudah-mudahan ke depan, dalam waktu singkat itu turun,” ujar Amran.
Amran, yang juga Kepala Badan Pangan Nasional meyakini penurunan harga tersebut seiring dengan harga anak ayam (Day Old Chick/DOC) yang didapat peternak dari pabrik juga turun.
“Kenapa? Ini yang memproduksi DOC, itu harganya turun dari Rp 14.000 turun menjadi Rp 11.500 maksimal,” kata Amran.
Amran, yang juga menjabat Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengapresiasi Pinsar karena mereka sangan kompak. Dia juga mengingatkan jangan sampai ada tengkulak yang memanfaatkan kenaikan harga ayam ini.
“Ini yang kami apresiasi, kami bangga petelur seluruh Indonesia. Pinsar ini kami bangga, sangat kompak. Kita jaga, jangan sampai ada middleman atau orang tengah yang mempermainkan situasi ini,” ujar dia.
Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti mencatat, kenaikan harga telur ayam ras yaitu 0,32 persen dibandingkan Oktober 2025.
“Ini sudah di atas batas atas Harga Acuan Penjualan (HAP),” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2025, Jakarta, Senin (17/11).
Amalia menyebutkan, ada 157 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga telur ayam ras. Dia mencatat, paling tinggi di Kabupaten Mamberamo Tengah Rp 100 per kg, Kabupaten Puncak Jaya Rp 90 per kg, dan Kabupaten Intan Jaya Rp 90 per kg.
Sementara itu, Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, menyampaikan bahwa seluruh peternak ayam petelur di Indonesia masih menjual telur pada harga stabil dan berada di bawah batas acuan.
“Saat ini kami menjual dalam koridor Kisman Rp 24.000–Rp 26.500. Tidak pernah naik. Jadi, kalau harga di pasar melonjak, ya pertanyaannya, siapa yang bermain?” kata Yudianto.
Lebih lanjut, Yudianto mengatakan bahwa produksi telur nasional berada pada kisaran 6,4 hingga 6,5 juta ton dan produksi ini masih surplus. Untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), peternak diminta meningkatkan produksi hingga 700 ribu ton secara bertahap dan mereka siap memenuhinya.
“Produksi aman, surplus ada. Tidak ada kekhawatiran pasokan. Kami siap mendukung program nasional,” imbuh Yudianto.




























