
Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperluas pasar ekspor produk peternakan nasional seiring melimpahnya produksi unggas dalam negeri. Setelah berhasil mempertahankan swasembada daging ayam dan telur, pemerintah kini mendorong pembukaan sejumlah pasar ekspor baru, mulai dari Vietnam, Inggris, hingga negara-negara di Eropa.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda mengatakan Indonesia saat ini tidak lagi bergantung pada impor daging ayam maupun telur. Bahkan, produksi yang terus meningkat telah menciptakan surplus sehingga perlu diimbangi dengan perluasan pasar ekspor.
“Karena produksi kita juga terus melimpah sehingga perlu ada tambahan negara-negara tujuan ekspor baru,” kata Agung dalam Press Reception Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum, Jakarta Selatan, Rabu (10/6).
Salah satu peluang yang tengah didorong adalah ekspor bibit ayam atau day old chick (DOC) ke Vietnam. Selain itu, Indonesia juga tengah mempersiapkan ekspor produk daging ayam olahan ke Inggris dan sejumlah negara Eropa.
“Buyer-nya sudah ada, tinggal kita fasilitasi untuk proses government to government (G2G)-nya,” ujar Agung.
Tak hanya itu, pemerintah juga sedang menjajaki ekspor komoditas unggas lainnya, termasuk ceker ayam ke Malaysia dan China. Sejumlah negosiasi dengan calon pembeli maupun otoritas negara tujuan ekspor terus dilakukan guna mempercepat akses pasar.
“Jadi banyak komoditas yang sedang kita dorong untuk ekspornya dan saat ini sudah dilakukan negosiasi-negosiasi termasuk tentu dengan buyer-buyer-nya,” sambung dia.
Untuk memperkuat promosi produk peternakan nasional, Kementan akan membuka Paviliun Ekspor pada ajang Indo Livestock Forum & Expo 2026 yang akan digelar pada 16–18 Juni 2026 di NICE PIK 2, Tangerang.
Paviliun tersebut akan menampilkan berbagai produk ekspor subsektor peternakan, mulai dari pangan, non-pangan, hingga vaksin dan obat hewan.
Agung mengatakan paviliun tersebut juga menjadi sarana pendampingan bagi pelaku usaha yang ingin memperluas pasar ke luar negeri sekaligus memperkenalkan capaian ekspor Indonesia kepada mitra dagang internasional.
Selain produk unggas, Kementan juga menyoroti potensi ekspor obat hewan yang selama ini memberikan kontribusi devisa cukup besar. Terbaru, Indonesia memperoleh pengakuan dari Rusia untuk mengekspor produk obat hewan ke negara tersebut.
“Ini menjadi salah satu sumber devisa yang cukup besar dan kami berharap semakin banyak pasar baru yang terbuka untuk produk kesehatan hewan Indonesia,” katanya.
Melalui ajang tersebut, Kementan juga akan mempromosikan peluang investasi serta percepatan hilirisasi di subsektor peternakan guna meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk nasional di pasar global.





























