Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menegaskan bahwa industri sawit memiliki peran historis dan strategis dalam membuka serta membangun daerah-daerah terpencil di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.
Hal tersebut disampaikan saat menyampaikan keynote speech pada Seminar Nasional bertajuk Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan di Ruang Seminar Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta, Kamis (22/1).
Eddy mengaku menjadi saksi hidup bagaimana sawit hadir di wilayah-wilayah yang sebelumnya terisolasi dan minim infrastruktur. Ia menceritakan pengalamannya saat pertama kali bekerja di perkebunan sawit di Riau, Kalimantan, hingga Sulawesi pada awal kariernya.
“Saya ini adalah pelaku sejarah bagaimana membuka daerah-daerah yang remote area,” kata dia di hadapan ratusan mahasiswa yang hadir.
Dia mengisahkan, sejak awal setelah lulus kuliah memang tidak berniat berkarier sebagai dosen maupun aparatur sipil negara. Eddy memilih langsung terjun ke lapangan untuk mencari tantangan.
“Jadi, waktu itu saya pengin cari tantangan yang luar biasa waktu itu. Tetapi begitu saya ditempatkan di kebun waktu itu, saya merasa ini saya milih jurusan salah apa ya? Waktu itu luar biasa,” ungkap dia.
Eddy mengatakan, penugasan pertamanya berada di Riau dengan infrastruktur dan teknologi yang masih sangat minim. Saking terbatasnya dia bahkan tidak mengetahui peristiwa lengsernya Presiden Soeharto pada 1998.
“Saya tuh tidak ada TV di sana, tidak ada apa-apa, saya berangkat habis sholat subuh naik sepeda motor ikut apel pagi jam setengah enam. Jadi, saya waktu itu Soeharto dijatuhkan tahun ’98 tanggal 23 Mei itu saya enggak tahu,” ujar dia.
Setelah Riau, Eddy kemudian ditugaskan ke wilayah Sulawesi Barat yang saat itu masih menjadi bagian dari Sulawesi Selatan. Kondisi daerah tersebut, menurutnya, jauh dari kata layak.
“Waktu itu masih Sulawesi Selatan. Itu lebih kaget lagi, saya lebih syok lagi. Saya bilang, tempat ini jin saja tidak mau buang anak ke sini. Kenapa demikian? Tidak ada infrastruktur. Jangankan sepeda motor, sepeda ontel pun tidak ada,” kata dia.
Eddy mengisahkan, selama bertugas membuka wilayah tersebut, ia tinggal di rumah kayu dengan kondisi sangat sederhana.
“Saya membuka daerah tersebut, itu saya tidur itu ya, saya cari tempat, saya sewa tempat itu rumah yang bolong-bolong, rumah kayu gitu, saya tempel pakai koran sama kardus waktu itu. Waktu itu saya di Astra,” kata dia.
Namun, Eddy mengaku bangga melihat perubahan yang terjadi saat ini. Wilayah Pasangkayu yang dahulu terpencil kini berkembang pesat dan telah menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Barat.
“Waktu itu saya ikut membangun daerah tersebut dengan sawit, sekarang menjadi Provinsi Sulawesi Barat. Dari di situ hanya satu kecamatan waktu itu Kecamatan Pasangkayu, sekarang menjadi di situ dari Kecamatan Budong-Budong sekarang menjadi tiga kabupaten.
Dia mengaku sempat kembali ke wilayah tersebut beberapa waktu lalu dan melihat perubahan yang signifikan.
“Saya baru pulang dari sana bulan Oktober akhir atau November awal, saya sangat bangga karena sekarang sudah jalan hotmix. Bahkan jalan itu pun termasuk jalan yang saya buka dalam kebun,” ujar dia.
Menurut Eddy, kondisi tersebut menunjukkan peran nyata sawit dalam mendorong pembangunan wilayah. “Artinya, sawit itu membuka daerah-daerah seperti itu dan sekarang berhasil. Pertumbuhan ekonominya juga cukup bagus,” kata dia.
Setelah itu, Eddy mengisahkan pengalamannya saat ditugaskan ke Kalimantan Tengah untuk membuka wilayah transmigrasi yang terlantar. Masyarakat di daerah banyak belum memiliki kartu tanda penduduk (KTP).
Dia menyebut, kondisi tersebut membuatnya harus mengambil inisiatif agar masyarakat bisa mendapatkan identitas kependudukan.
“Saya panggil tukang foto dari kota untuk memfoto mereka supaya bisa bikin KTP, karena saya akan membangun PIR KKPA di situ. Alhamdulillah, sekarang daerah itu sudah menjadi kabupaten,” katanya.
Eddy menegaskan, seluruh pengalaman tersebut menjadi bukti konkret peran industri sawit dalam membuka keterisolasian wilayah.
“Jadi saya adalah saksi hidup bahwa sawit membuka daerah-daerah terpencil. Dulu sangat sulit, sekarang daerah-daerah itu menjadi maju,” tegas dia.
Peran dan Tantangan Sawit
Eddy menyatakan hingga kini industri sawit tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional. Sawit menyumbang devisa terbesar di luar migas dan batu bara serta menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Tenaga kerja langsung hampir 5,5 juta orang. Petani sawit itu sekitar 4 juta kepala keluarga. Kalau dikalikan, lebih dari 16 juta orang Indonesia hidup dari sawit,” jelas dia.
Dia juga menyinggung peran sawit saat pandemi Covid-19. Menurut Eddy, di tengah krisis global, industri sawit tetap bertahan dan bahkan memberikan kontribusi devisa yang signifikan.
“Waktu Covid, devisa sawit bisa tembus 39 miliar dolar AS. Dan tidak ada PHK, malah ada rekrutmen,” katanya.
Namun demikian, Eddy mengingatkan industri sawit menghadapi tantangan serius berupa stagnasi produksi dalam lima tahun terakhir, terutama karena persoalan peremajaan sawit rakyat.
“Produksi kita lima tahun stagnan. Sementara 41 persen kebun sawit itu milik rakyat. Banyak yang terkendala replanting, legalitas, dan pembiayaan,” ujarnya.
Dia menilai kebijakan Mandatory Biodiesel seperti B35 membantu meningkatkan serapan domestik, tetapi harus dijaga keseimbangannya agar tidak mengganggu ekspor.
“Kalau serapan terus dipaksa naik sementara produksi stagnan, ujung-ujungnya ekspor yang dikorbankan,” kata Eddy.
Eddy menegaskan keberlanjutan industri sawit sangat penting bagi masa depan Indonesia, termasuk dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“Sampai hari ini saya belum melihat ada komoditas lain yang bisa menggantikan sawit. Kalau sawit hilang, berat bagi Indonesia,” pungkas dia.





























