Amran Siapkan Pasokan Beras Enam Bulan untuk Sumatra

0
menteri pertanian, andi arman sulaiman
Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman memantau bantuan yang yang akan diberangkatkan ke Aceh, Sumut, dan Sumbar di Dermaga Kolinlamil Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (12/12).

Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok pangan di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatera aman. Bahkan, ketersediaannya telah disiapkan hingga enam bulan ke depan.

Demikian disampaikan Amran saat  mengikuti Koordinasi (Rakor) Pembahasan Bantuan Rumah dan Bantuan Sosial di Ruang Command Center Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (26/1).

Amran menyatakan, pihaknya telah menyiapkan bahan pangan di lapangan, khususnya beras, untuk menjamin kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak bencana.

“Bahan pangan kami siapkan di lapangan. Itu bisa sampai 6 bulan ke depan. Untuk pangan, khususnya beras di lapangan. Insyaallah, khusus untuk pangan aman, itu bisa tertutupi 6 bulan ke depan,” jelas Amran.

Berdasarkan catatan Bapanas, per 27 Januari 2026 total stok beras yang dikelola Perum Bulog di tiga provinsi tersebut mencapai 103,2 ribu ton. Stok tersebut terdiri atas Aceh sebanyak 65,3 ribu ton, Sumatera Utara 27,7 ribu ton, dan Sumatera Barat 10,2 ribu ton.

“Dan sekarang, juga sudah panen. Jadi (daerah) yang tidak kena bencana ini, sekarang (mulai) panen. Bulog juga sudah mulai menyerap di lapangan. Jadi kalau pangan, insyaallah tidak ada masalah ke depan,” kata Amran lagi.

Realisasi penyerapan setara beras dari produksi dalam negeri oleh Bulog pada Januari 2026 telah melampaui capaian bulan yang sama dalam lima tahun terakhir. 

Hingga 26 Januari, total serapan Bulog tercatat mencapai 28,3 ribu ton, terdiri dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 25,7 ribu ton dan beras komersial 2,6 ribu ton.

“Yang terakhir, kami sudah mengirim bantuan Kementan dan Bapanas Peduli, tiga kapal ke Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Hanya saja, yang agak berat adalah yang kurang lebih (lahan sawah) 32 ribu hektare yang berat, tapi insya Allah kami bisa selesaikan tahun ini,” ungkap Amran.

“Kami selesaikan dulu yang 90 persen, sehingga masyarakat, petani di sana bisa berproduksi agar pangannya tidak langka ke depan,” ujar dia.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menekankan perlunya perhatian khusus terhadap wilayah dataran tinggi (highlands) yang terdampak bencana. Menurutnya, daerah tersebut masih terus berproduksi, terutama komoditas kopi dan cabai, namun menghadapi kendala distribusi pascabencana

“Yang perlu atensi di daerah highlands ini adalah mereka harus mengeluarkan produk mereka, karena mereka ada produk kopi, cabai, itu terus (berproduksi), meskipun sudah bencana, tetap panen. Nah ini mohon bantuan Bapak Menteri Pertanian. Sekaligus mohon, di daerah ini diperkuat stoknya,” kata dia.

Tito menjelaskan, masyarakat di wilayah dataran tinggi relatif belum memiliki pengalaman menghadapi bencana berskala besar. Akibatnya, ketika akses transportasi terputus, ketersediaan logistik dengan cepat menjadi persoalan serius.

“Masyarakat di daerah ini tidak pernah punya pengalaman bencana besar. Biasanya logistik hanya cukup dua sampai tiga hari karena berharap lalu lintas segera lancar. Begitu jalan terputus, seperti pengalaman di Aceh Tengah, Takengon, hari ketiga sudah hampir kekurangan logistik dan masyarakat mulai panik. Tapi untungnya cepat, waktu itu Bulog, Bapanas, BNPB, TNI, dan Polri bergerak via udara,” ungkapnya.

Sejak terjadinya bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, pemerintah bersama Perum Bulog telah menggulirkan berbagai program bantuan pangan. Hingga 25 Januari, bantuan yang telah tersalurkan mencapai 54,8 ribu ton beras dan 6,7 ribu kiloliter minyak goreng.

Rinciannya, melalui program bantuan pangan, realisasi di tiga provinsi tersebut mencapai 33,3 ribu ton beras dan 6,7 ribu kiloliter minyak goreng. Di Aceh, masyarakat telah menerima 10,2 ribu ton beras dan 2 ribu kiloliter minyak goreng. Sementara di Sumatera Utara tersalurkan 16,3 ribu ton beras dan 3,3 ribu kiloliter minyak goreng, serta di Sumatera Barat 6,8 ribu ton beras dan 1,35 ribu kiloliter minyak goreng.

Selain itu, penyaluran bantuan juga dilakukan melalui program Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk penanganan bencana alam. Hingga 25 Januari, total CBP yang telah disalurkan mencapai 21,4 ribu ton beras, terdiri atas Aceh 15,3 ribu ton, Sumatera Utara 5,1 ribu ton, dan Sumatera Barat 1,1 ribu ton.

Dia menambahkan, masyarakat di highlands membutuhkan beras dan minyak goreng karena masih belum termasuk yang dapat diproduksi. Sementara untuk lowlands atau dataran rendah, pemerintah akan tetap menjaga stok dan pergerakan inflasi di daerah tersebut.

“Mohon kami menyarankan untuk diperkuat stoknya tiga bulan, (terutama) yang tidak bisa mereka produksi, terutama adalah beras di daerah gunung, itu sama yang minyak goreng misalnya. Di daerah lowlands yang harus di atasi betul adalah Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara. Kemudian Bireuen dan Pidie Jaya,” urai Tito.

Dia juga meminta dukungan Bapanas dan Perum Bulog untuk memperkuat stok pangan di wilayah pegunungan Aceh dan Kepulauan Nias.

“Mohon dukungan Bapak Kepala Bapanas dan Bapak Dirut Bulog untuk stok tiga bulan di Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah. Selain itu, juga di Nias, karena saat ini hampir seluruh wilayahnya mengalami kenaikan harga. Gunungsitoli mencatat inflasi tertinggi dari 98 kota, mencapai sepuluh koma sekian persen,” pungkas Tito.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini