
Pemerintah Indonesia menegaskan pentingnya penyampaian informasi berbasis data dan penerapan praktik berkelanjutan dalam pengelolaan sawit, salah satunya melalui penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti Widya Putri saat melakukan kunjungan kerja ke PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (26/1).Â
Kunjungan ini bertujuan menggali masukan konstruktif dari pelaku usaha strategis sekaligus memperoleh pemahaman langsung terkait proses bisnis, penerapan prinsip keberlanjutan, dan sistem ketertelusuran sawit.
Wamendag Roro menjelaskan, setelah menghadiri The 8th Pakistan Edible Oil Conference (PEOC) 2026 awal Januari lalu, pemerintah mencatat sejumlah isu yang menjadi perhatian pemangku kepentingan di Pakistan. Isu tersebut mencakup keamanan pangan, praktik pengolahan minyak nabati, serta tuntutan pasar terhadap produk yang semakin berkelanjutan.
“Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Perdagangan, memandang isu-isu tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang memperkuat sinergi antara pemerintah dan dunia usaha serta memperkuat posisi produk sawit nasional di pasar global,” jelas Wamendag Roro.
Melalui ISPO, pelaku usaha sawit diwajibkan memenuhi berbagai ketentuan, mulai dari penyelesaian konflik lahan yang terdokumentasi, sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga pemenuhan standar ketenagakerjaan. Dengan demikian, komitmen keberlanjutan tidak hanya berhenti pada kebijakan, tetapi diimplementasikan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Lebih lanjut, dalam kebijakan perdagangan luar negeri, Indonesia secara konsisten menempuh dua arah kebijakan utama. Pertama, memastikan kelancaran arus ekspor dengan tetap menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pasokan di dalam negeri. Kedua, memperkuat transparansi serta kepastian kebijakan agar dunia usaha memiliki prediktabilitas dalam berinvestasi dan mengembangkan pasar.
Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah terus melakukan penyempurnaan tata kelola ekspor sawit, antara lain melalui penyederhanaan prosedur, penguatan sistem ketertelusuran (traceability), serta dorongan penerapan praktik usaha yang berkelanjutan. Langkah-langkah ini menjadi penting untuk menjaga daya saing produk sawit Indonesia, khususnya di pasar yang makin memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.
Pakistan merupakan salah satu pasar utama minyak sawit Indonesia. Dari berbagai pertemuan dengan pemerintah, pelaku usaha, dan asosiasi industri setempat, terkonfirmasi bahwa minyak sawit
Indonesia telah berperan penting dalam menjaga stabilitas pasokan minyak nabati, menyediakan harga yang kompetitif, dan mendukung perkembangan industri pengolahan pangan di Pakistan. Indonesia dipandang sebagai mitra dagang yang konsisten, efisien, dan dapat diandalkan.
Sementara itu, Director of Corporate Affairs SMART Hari Hanawi, menyampaikan paparan tentang kinerja dan capaian penting SMART, seperti kekuatan operasi hulu, pemanfaatan energi biogas, pengolahan bio energi, serta aspek distribusi dan logistik.Â
Dia menuturkan, keberlanjutan bukanlah upaya sampingan, tetapi merupakan cara SMART berbisnis.
“Hingga akhir 2024, sebanyak 99,5 persen rantai pasok kelapa sawit mampu ditelusuri hingga ke perkebunan (Traceable to the Plantation/TTP). SMART memiliki data ketertelusuran untuk semua yang diperoleh dari perkebunan dan berfokus untuk mendukung para petani dalam rantai pasok dunia mencapai 100 persen TTP,” jelas Hari.
Selain keberlanjutan dan ketertelusuran, SMART juga mengintensifkan pemberdayaan masyarakat. Pada 2024, SMART menggulirkan 189 proyek pemberdayaan masyarakat, termasuk kepada 113 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Adapun Wakil Ketua KADIN untuk Percepatan Ekspor Juan Permata Adoe menekankan pentingnya diversifikasi pasar bagi pelaku usaha dan mengapresiasi SMART yang memiliki ekosistem yang lengkap. Dengan kata lain, terintegrasi dengan baik dari hulu ke hilir.
Dia juga meminta pemerintah dan pelaku usaha untuk menjalin kemitraan yang baik.
“Pemerintahdiharapkan terus memberi arahan dan berkomunikasi dengan pelaku usaha, baik di pusat maupun di daerah. Upaya SMART patut diapresiasi yang sudah mengintegrasikan aspek hulu ke hilir dengan baik,” jelas Adoe.
Usai pertemuan, Wamendag Roro juga meninjau area penyimpanan dan proses produksi. SMART telah mengaplikasikan sistem penyimpanan dan pengambilan otomatis (automated storage and retrieval system/ASRS) untuk pemeriksaan stok yang presisi.
Sistem ini memungkinkan transparansi data real time serta keberlanjutan yang lebih baik minim emisi dan limbah.




























