Poltek CWE Bekasi Kukuhkan 166 Wisudawan, Cetak SDM Sawit Unggul

0

Bekasi – Diiringi tepuk tangan panjang dari orang tua dan keluarga, 166 wisudawan Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (Poltek CWE) berjalan berbaris memasuki Auditorium Gedung 2 kampus di Cibitung, Bekasi, Sabtu, 27 September 2025. Balutan toga hitam dengan selempang hijau khas kampus membuat suasana semakin khidmat. Sesekali terlihat senyum bangga para orang tua, beberapa bahkan tak kuasa menyeka air mata haru.

Hari itu menjadi momen penting bagi kampus vokasi yang berdiri sejak 2006 tersebut. Poltek CWE kembali melahirkan generasi baru sarjana terapan dan ahli madya yang siap terjun ke sektor perkebunan dan industri kelapa sawit. Sebanyak 166 lulusan dikukuhkan dalam Wisuda Sarjana Terapan Angkatan III dan Ahli Madya Angkatan XVII Tahun Akademik 2024/2025.

“Prosesi wisuda bukan sekadar seremoni. Ini adalah tanda bahwa Anda berhasil melalui satu fase kehidupan, dan kini memasuki fase baru yang lebih menantang,” kata Direktur Poltek CWE, Ir. St. Nugroho Kristiono, M.T., dalam pidatonya. Ucapannya disambut tepuk tangan riuh hadirin.

Rincian lulusan tahun ini terdiri atas 42 dari Program Studi D3 Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit, 48 dari D3 Pengolahan Hasil Perkebunan, 41 dari D3 Manajemen Logistik, serta 35 dari D4 Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan. Dari total tersebut, 58 orang berhasil meraih predikat cum laude.

Menariknya, sebelum resmi diwisuda, 47 orang atau sekitar 28 persen dari total angkatan telah terserap ke dunia kerja. Mereka diterima di perusahaan perkebunan, pabrik pengolahan, hingga sektor logistik yang menjadi mata rantai vital industri sawit.

Empat lulusan terbaik diumumkan pada acara itu. Mereka adalah Alpanda Sitepu, S.Tr.P. (Prodi Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan), Rajuardi Nababan, A.Md. (Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit), Dhita Alfia Annisa, A.Md. (Pengolahan Hasil Perkebunan), dan Salsabila Heredita Edzas, A.Md. (Manajemen Logistik). Para mahasiswa berprestasi ini naik ke panggung, menerima piagam penghargaan dengan wajah penuh rasa syukur.

Di tengah sorak-sorai, beberapa orang tua terlihat berdiri, mengabadikan momen dengan gawai mereka. “Rasanya bangga sekali, anak saya bisa sampai ke tahap ini. Semoga ilmu yang didapat bermanfaat, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk keluarga dan masyarakat,” ujar Syarifuddin, ayah salah satu wisudawan dari Aceh Timur.

Beasiswa Sawit, Jalan Anak Petani ke Perguruan Tinggi

Yang menarik, sekitar 80 persen lulusan tahun ini merupakan penerima Beasiswa SDM Sawit yang digagas Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Program ini memberi akses luas bagi anak-anak pekebun, khususnya pekebun swadaya, untuk menempuh pendidikan tinggi.

Poltek CWE menjadi salah satu kampus mitra pertama program ini sejak 2018. Sebelumnya, pada 2016, mereka sempat bermitra dengan BPDP dalam menyelenggarakan pelatihan singkat bagi guru dan pelajar SMK. Kini, beasiswa sawit berkembang pesat. Dari hanya dua kampus mitra, jumlahnya bertambah menjadi 41 pada 2025.

Jumlah penerima beasiswa pun melonjak. Tahun lalu, 3.000 mahasiswa mendapat kesempatan kuliah gratis di berbagai kampus mitra. Tahun ini, jumlahnya meningkat menjadi 4.000 orang. “Perkembangan ini menggembirakan karena semakin banyak SDM sawit berkualitas yang lahir,” ujar Nugroho.

Poltek CWE sendiri hingga kini telah menghasilkan 1.870 lulusan yang tersebar di berbagai perusahaan dan lembaga. Dengan moto “Tanggap, Tanggon, Trengginas”, kampus ini konsisten menekankan keterampilan praktis dan pengetahuan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri.

Dalam pidatonya, Nugroho menekankan agar para lulusan tidak melupakan akar mereka. Mayoritas wisudawan merupakan putra-putri pekebun swadaya, yang kebunnya sering kali memiliki produktivitas lebih rendah dibandingkan perkebunan besar.

“Anda para wisudawan-wisudawati, saya harapkan cukup banyak yang kembali ke kebun keluarganya. Meskipun Saudara bekerja di perusahaan besar, pengalaman di perusahaan juga harus dapat diterapkan ke kebun keluarga,” ujar Nugroho.

Ia menambahkan, alumni juga berpeluang berkontribusi dalam kelembagaan pekebun. Saat ini, masih banyak dibutuhkan tenaga pendamping dan penyuluh untuk program peremajaan sawit rakyat, peningkatan sarana prasarana, hingga sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil).

“Kami yakin dengan bekal ilmu dan praktik selama kuliah, Anda bisa mengembangkan sawit Indonesia dengan inovasi, produktivitas meningkat, dan tata kelola yang berkelanjutan,” katanya menegaskan.

Prosesi wisuda diwarnai suasana haru bercampur bahagia. Orang tua tampak antusias menyaksikan anak-anak mereka menerima ijazah. Para wisudawan, dengan wajah sumringah, melemparkan toga ke udara sebagai simbol berakhirnya perjuangan panjang mereka di bangku kuliah.

“Rasanya lega sekali. Empat tahun berjuang, jauh dari orang tua, akhirnya terbayar,” kata Alpanda Sitepu, lulusan terbaik program D4 Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan. Ia mengaku bercita-cita kembali ke kampung halamannya di Sumatera Utara untuk membantu mengelola kebun sawit keluarganya.

Kehadiran perwakilan industri dan mitra strategis di acara wisuda menambah keyakinan bahwa jalan para lulusan terbuka lebar. Dunia kerja di sektor sawit, baik di hulu maupun hilir, masih membutuhkan banyak tenaga terampil dan manajerial.

Indonesia adalah produsen sekaligus konsumen minyak sawit terbesar di dunia. Kontribusi sektor ini bagi perekonomian nasional begitu besar, namun tantangan yang dihadapi juga tidak kecil. Isu keberlanjutan, produktivitas kebun swadaya, hingga sertifikasi ISPO menjadi pekerjaan rumah yang memerlukan SDM unggul.

Dalam konteks inilah, kehadiran kampus vokasi seperti Poltek CWE menjadi sangat relevan. Mereka tidak hanya melahirkan tenaga kerja siap pakai, tetapi juga kader-kader yang diharapkan mampu membawa perubahan di tingkat akar rumput.

Wisuda tahun ini pun menjadi penanda penting. Bukan hanya soal jumlah lulusan, tapi juga keberlanjutan ekosistem pendidikan sawit yang semakin kuat berkat dukungan program beasiswa dan kerja sama lintas lembaga.

Di penghujung acara, Direktur Nugroho menutup pidatonya dengan pesan sederhana namun penuh makna: “Jadilah insan sawit yang tanggap, tanggon, dan trengginas. Jangan hanya mengejar pekerjaan, tapi jadilah pencipta lapangan kerja. Jangan hanya mencari kenyamanan, tapi carilah tantangan. Karena dari sanalah masa depan sawit Indonesia akan lahir.”

Tepuk tangan panjang pun kembali bergema di auditorium, menandai akhir sebuah prosesi dan awal dari perjalanan baru ratusan anak bangsa yang siap berkarya di dunia perkebunan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini