
Produktivitas kebun sawit Indonesia hingga kini masih jauh dari potensi optimal. Dari potensi produksi minyak sawit 8–10 ton per hektare, realisasi di lapangan baru mencapai sekitar 3 ton per hektare.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung mengatakan, rendahnya produktivitas tersebut menjadi persoalan utama di sektor hulu sawit nasional.
“Potensi varitas kita saat ini yang ditanam di Indonesia, itu produksi minyaknya itu 8-10 ton per hektare potensinya. Yang terjadi sampai hari ini baru 3 ton,” kata dia saat menjadi narasumber dalam media briefing bertajuk ‘Sawit Indonesia: Jalan di Tempat atau Terus Maju ke Depan’, Jakarta, Selasa (10/2).
Menurut dia, rendahnya produktivitas tersebut dipengaruhi oleh kualitas bibit pada masa lalu serta penerapan best practice (praktik budidaya) yang belum optimal.
“Nah, kita harus perbaiki ini. Kita lakukan replanting. Yang seperti yang disampaikan, apa yang menjadi programnya Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) selama ini.
Selain replanting, Tungkot menekankan pentingnya perbaikan praktik budidaya pada tanaman menghasilkan (TM) yang masih eksisting guna mendorong kenaikan produktivitas.
“Kemudian juga perbaiki best praktis yang sudah TM, yang existing. Tujuannya apa? Untuk menaikkan produktivitas. Kalau bisa 2045 kita targetkan itu bisa dapat 5 ton aja,” ujar dia.
Tungkot menjelaskan, dengan produktivitas 5 ton per hektare dan luas kebun sawit tetap 16,8 juta hektare, Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 90 juta ton minyak sawit tanpa perlu melakukan ekspansi lahan.
“Dengan tanpa harus ekspansi sawit dengan tetap 16,8 juta hektare kali 5 kita sudah bisa dapat 90 juta ton minyak sawit tanpa harus ekspansi,” kata dia.
Tungkot mengatakan, pusat-pusat penelitian yang didanai BPDP telah menghasilkan varietas dan teknologi yang memungkinkan produktivitas mencapai 10–12 ton per hektare.
“Jadi potensi kita masih luar biasa besar,” kata dia.
Namun, peningkatan produktivitas ini harus dibarengi dengan upaya menekan emisi. Saat ini, kata dia, sudah tersedia berbagai teknologi budidaya sawit yang mampu meningkatkan hasil sekaligus meminimalkan emisi.
“Sekarang kita sudah punya banyak teknologi bagaimana membudidayakan sawit untuk meminimumkan emisi. Jadi dua-duanya itu harus cari,” imbuh Tungkot.





























