Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menegaskan komitmennya dalam mendukung program pemerintah, khususnya peremajaan sawit rakyat (PSR) guna meningkatkan kesejahteraan pekebun.
Hal tersebut disampaikan Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan, dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, saat menjadi narasumber dalam media briefing bertajuk “Sawit Indonesia: Jalan di Tempat atau Terus Maju ke Depan” di Hotel Mövenpick Pecenongan, Jakarta, Selasa (10/2).
“Memang menjadi target kami, sesuai amanah pemerintah, salah satunya adalah bagaimana kami berkomitmen mendukung pekebun sawit rakyat melalui program peremajaan sawit,” jelas Zaid.
Program peremajaan ini bertujuan meningkatkan produktivitas sawit rakyat. Untuk mendukung pekebun selama proses penanaman ulang, BPDP memberikan dana sebesar Rp 60 juta per hektare.
“Dalam konteks produktivitas ini kan benar-benar kita jaga nih. Tata kelolaannya dari awal sampai akhir harus baik dari penyediaan bibitnya harus bibit yang tersertifikasi,” kata dia.
Menurut Zaid, program peremajaan ini telah berhasil berjalan dan mulai memberikan dampak yang luas, salah satunya meningkatkan kesejahteraan petani.
Sebelumnya, kata dia, banyak pekebun mengelola kebunnya secara konvensional dengan bibit yang belum tersertifikasi. Dengan peremajaan yang dijalankan secara baik dan menggunakan bibit bersertifikasi, hasil panen kini lebih optimal.
“Seperti saya sampaikan ada pekebun itu panennya untuk TBS (tandang buah segar) 30-33 ton per hektare. Itu sangat bagus berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani,” ujar dia.
Dampak positif ini juga didukung oleh program-program lain seperti pelatihan-pelatihan yang direkomendasikan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pekebun terkait praktik berkebun yang baik.
“Dengan pelatihan-pelatihan itu pekebun-pekebun itu akan meningkatkan kualitasnya, kualitas pemahaman mereka terkait dengan bagaimana melakukan misalnya pemupukan dengan baik,” kata dia.
Tidak hanya itu, BPDP juga memberikan beasiswa kepada anak-anak pekebun. Tahun lalu, sekitar 4.000 anak pekebun menerima beasiswa dari tingkat D1 hingga S1.
Harapannya, setelah menyelesaikan pendidikan, mereka dapat menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun orang tua, sehingga praktik perkebunan yang tadinya konvensional bisa menjadi lebih modern.
Menurut Zaid, generasi muda yang bekerja di perkebunan akan membawa ilmu, teknologi, dan pemahaman baru yang berdampak positif bagi sektor ini.
“Makanya kami sangat berharap program-program yang diamanahkan BPDP dapat berjalan dengan baik, lancar, dan memberikan peningkatan kesejahteraan bagi para pekebun,” ungkap dia.






























