Mentan Amran Jelaskan Alasan Produksi Beras Naik Meski Ada Alih Fungsi Lahan

0
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengumumkan stok beras tersebut saat mengecek langsung Gudang Bulog bersama para pengamat dan awak media di JDP Karawang1 LogisticPark, Kamis (23/4).

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman membantah anggapan bahwa penurunan luas lahan sawah bertolak belakang dengan peningkatan produksi nasional. Menurutnya, kenaikan produksi beras tidak semata ditentukan oleh luas lahan, melainkan oleh peningkatan indeks pertanaman dan intervensi pemerintah di lapangan.

Pernyataan itu disampaikan Mentan Amran saat meninjau gudang filial Perum Bulog bersama pengamat dan awak media di Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4).

Ia menyoroti adanya kekeliruan dalam memahami data di lapangan. Menurutnya, sebagian pihak terburu-buru menyimpulkan luas lahan berkurang tanpa melihat faktor lain yang memengaruhi produksi.

“Hati-hati ada orang tidak paham ini aku clear-kan ya. Ada orang yang mengamat bahwa ini tanah berkurang 90.000 hektare, katakanlah 100.000 penurunan. Kenapa bisa produksi meningkat? Harus clear nih,” kata Mentan Amran.

Amran menjelaskan, luas lahan sawah saat ini mencapai 7,4 juta hektare dan diperkirakan sudah meningkat menjadi 7,6 juta hekare dari program cetak sawah seluas 200 ribu hektare.

Menurut Mentan Amran, faktor utama peningkatan produksi adalah indeks pertanaman (IP). Dengan peningkatan IP, satu hektare lahan bisa ditanami hingga dua sampai tiga kali dalam setahun.

“IP adalah tanam satu hektare bisa tanam tiga kali. Kalau 7 juta hektare, berarti itu 7 kali tiga berarti  21 juta hektare potensi tanam,” papar Mentan Amran.

Selain itu, peningkatan produksi juga didorong melalui pompanisasi dan perbaikan irigasi di sekitar 500 ribu hektare lahan. Ia menjelaskan, lahan yang sebelumnya hanya bisa ditanami satu kali kini dapat ditingkatkan menjadi dua kali tanam.

Program optimasi lahan (oplah) seluas 800 ribu hektare juga turut meningkatkan produksi. Dengan intervensi tersebut, frekuensi tanam di berbagai wilayah meningkat secara signifikan.

Dari program tersebut, total tambahan luas tanam mencapai sekitar 1,3 juta hektare.

“Yang ini intensifikasi pompanisasi intensifikasi nih irigasi macam-macam. Ekstensifikasi adalah cetak sawah baru 200 hektare tambah 1,3 juta hektare berarti 1,5 juta hektare,” jelasnya.

Ia menjelaskan, tambahan luas tanam sekitar 1,5 juta hektare tersebut berpotensi menghasilkan 7,5 hingga 8 juta ton gabah, dengan asumsi produktivitas rata-rata 5 ton per hektare.

“Nah 1,5 juta hektare ini (dengan produksi) 5 ton atau 5,5 ton per hektare berarti 7,5 juta—8 juta ton gabah. Kalau jadi beras 50 persen berarti 4 juta ton (setelah dikonversi dari sekitar 7,5–8 juta ton gabah),” paparnya.

Ia menegaskan, kenaikan tersebut sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat peningkatan produksi sekitar 4 juta ton, dengan total produksi berada di kisaran 34 juta ton.

“BPS ini Pak sama dengan kita ini 30 naik ini BPS 4 juta ton. Ilmu eksakta itu pertanyaan tidak bisa dimainkan. Ilmu eksakta tidak bisa dipermainkan. Itu terukur kuantitatif,” tegasnya.

Bahkan, lembaga dunia seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan United States Department of Agriculture (USDA) mencatat angka serupa, dengan produksi beras Indonesia di kisaran 34 juta ton.

“Masa mau percaya yang bukan bidangnya mengatakan tidak cocok itu. Jangan pakai rasa dong rasio ini adalah menyangkut hajat hidup orang banyak,” imbuhnya.

Kendati demikian, tokoh dari Sulawesi Selatan itu juga menegaskan pemerintah tidak mentoleransi alih fungsi lahan sawah. Ia menyebut seluruh lahan pertanian strategis telah diinventarisasi dan dilindungi sesuai regulasi yang berlaku.

“Tidak boleh ada alih fungsi lahan, ini sudah ada undang-undangnya. Seluruh Indonesia sudah kita inventarisasi dan itu harus dilindungi, itu clear,” imbuhnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini