Di tengah ketergantungan impor daging sapi dan susu yang terus membebani neraca pangan nasional, pemerintah bersama kalangan akademisi dan pelaku industri mulai menaruh harapan besar pada satu model integrasi yang selama ini berjalan sporadis di berbagai daerah: Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit atau SISKA.
Gagasan itu mengemuka dalam seminar nasional yang digelar dalam rangkaian Agrilivestock Asia 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Jakarta. Forum yang diprakarsai oleh GAPENSISKA atau Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit itu memotret SISKA bukan sekadar model peternakan alternatif, melainkan arsitektur baru ketahanan pangan nasional.
Di hadapan akademisi, birokrat, pelaku usaha, dan peneliti, para pembicara menegaskan bahwa Indonesia tidak mungkin terus bergantung pada pola peternakan konvensional jika ingin mengejar swasembada protein hewani pada 2045. Jalan keluar, menurut mereka, justru berada di hamparan 16 juta hektare perkebunan sawit nasional.
Ketua CENTRAS IPB University, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc., mengatakan persoalan utama peternakan Indonesia bukan hanya populasi sapi, melainkan biaya produksi yang tinggi akibat ketergantungan pada pakan impor.
“Selama ini kita bicara impor sapi, tetapi lupa bahwa persoalan terbesar ada pada ketersediaan pakan murah dan berkelanjutan,” kata Nahrowi dalam seminar tersebut.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan kebutuhan daging sapi nasional pada 2024 mencapai 770 ribu ton. Namun produksi domestik baru mampu memenuhi sekitar 370 ribu ton atau hanya 48 persen. Sisanya dipenuhi melalui impor. Situasi lebih berat terjadi pada susu. Dari kebutuhan nasional sebesar 4,7 juta ton, produksi dalam negeri baru sekitar 1 juta ton atau 21 persen.
Defisit yang besar itu membuat pemerintah menyusun Peta Jalan Pemenuhan Daging Sapi dan Susu 2025-2029. Salah satu targetnya ialah mendatangkan satu juta ekor indukan sapi hingga 2029. Namun, menurut para peserta seminar, program tersebut akan sulit berhasil bila tidak disertai penyediaan lahan dan sumber pakan murah.
Di titik inilah SISKA dipandang strategis. Perkebunan sawit dinilai memiliki daya dukung yang memungkinkan integrasi peternakan skala besar tanpa membuka lahan baru.
Nahrowi menjelaskan, limbah dan hasil samping sawit sesungguhnya menyimpan potensi besar sebagai sumber nutrisi ternak. Salah satu yang paling menjanjikan ialah Bungkil Inti Sawit atau Palm Kernel Meal (PKM). Selama ini bahan tersebut banyak dipakai secara terbatas karena kandungan serat dan mannan yang tinggi membuatnya sulit dicerna ternak.
Melalui teknologi hidrolisis enzimatik menggunakan mananase, PKM diolah menjadi produk bernama Palmofeed. Produk ini disebut memiliki kualitas nutrisi lebih tinggi dan efisiensi pakan yang lebih baik dibandingkan bungkil sawit mentah.
Dalam paparannya, Nahrowi menunjukkan bahwa Palmofeed mampu meningkatkan daya cerna pakan secara signifikan. Penggunaan Palmofeed juga dinilai lebih murah dibanding bahan baku konvensional seperti jagung dan bungkil kedelai.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pembangunan industri pakan di kawasan perkebunan sawit. “Kalau kita hanya mengandalkan bahan mentah, SISKA tidak akan pernah naik kelas,” ujarnya.
Selain menyelesaikan persoalan pakan, integrasi sapi di kebun sawit juga dianggap mampu memangkas biaya operasional perkebunan. Tatang Somantri dari DPP HIPKASI menjelaskan kehadiran ternak di areal sawit dapat menurunkan biaya penyiangan gulma dan pemupukan secara signifikan.
Sapi berfungsi sebagai “mesin pemotong rumput alami” yang mengurangi ketergantungan terhadap herbisida kimia dan tenaga kerja manual. Di sisi lain, limbah ternak diolah menjadi pupuk organik cair maupun padat untuk menggantikan sebagian pupuk anorganik.
Menurut Tatang, dua komponen terbesar biaya pemeliharaan kebun sawit berasal dari pemupukan dan penyiangan. Porsinya mencapai lebih dari 75 persen dari total biaya perawatan tanaman.
“Kalau dua komponen itu bisa ditekan melalui integrasi ternak, maka biaya produksi tandan buah segar bisa turun drastis,” kata dia.
Pendekatan SISKA juga mulai diarahkan pada transformasi digital. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dr. drh. Santoso, memperkenalkan konsep Smart SISKA 4.0 yang menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan, big data, dan pemuliaan genetika.
Menurut Santoso, perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi produktivitas peternakan tropis. Suhu tinggi dapat memicu stres panas yang menurunkan produksi daging dan susu hingga 20 persen serta menekan fertilitas ternak.
Melalui Smart SISKA 4.0, kondisi ternak dipantau secara real time menggunakan sensor wearable dan GPS tracking. Teknologi kecerdasan buatan juga digunakan untuk membaca Body Condition Score dan memprediksi bobot sapi melalui citra digital.
Sistem ini memungkinkan peternak mendeteksi lebih dini gejala stres panas berdasarkan indikator Temperature Humidity Index (THI). Ketika indeks melampaui ambang tertentu, sistem akan memberi rekomendasi penanganan cepat untuk mencegah penurunan produktivitas.
Tak hanya itu, BRIN juga tengah mengembangkan riset genetika untuk menghasilkan sapi tahan panas melalui identifikasi gen adaptif seperti “slick gene”. Target jangka panjangnya ialah menghadirkan galur sapi tropis yang tetap produktif dalam kondisi iklim panas Indonesia.
Di tingkat kebijakan, pemerintah mulai menempatkan integrasi sapi-sawit sebagai bagian dari strategi pangan nasional. Asisten Deputi Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Radian Bagiyono, mengatakan sektor sawit tidak lagi hanya dipandang sebagai penyumbang devisa, tetapi juga instrumen ketahanan pangan.
Dengan asumsi empat hektare lahan sawit dapat menopang satu ekor sapi, maka separuh dari total areal sawit nasional secara teoritis mampu menampung sekitar dua juta ekor sapi pedaging.
Pemerintah pun menyiapkan model klaster investasi terpadu. Satu klaster berkapasitas 10 ribu ekor sapi diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp 237 miliar, mencakup pengadaan indukan, pembangunan pabrik pakan, rumah potong hewan, hingga kebun hijauan.
Skema pembiayaan yang disiapkan pemerintah mencapai Rp 5 triliun untuk mendukung 19 klaster nasional. Model kemitraan inti-plasma juga didorong agar masyarakat sekitar perkebunan ikut terlibat dalam usaha peternakan.
Radian mengatakan keberhasilan SISKA sangat bergantung pada sinergi multipihak, mulai dari BUMN perkebunan, perbankan Himbara, perguruan tinggi, pemerintah daerah, hingga organisasi seperti GAPENSISKA.
Meski demikian, tantangan implementasi masih besar. Infrastruktur pakan belum merata, kualitas sumber daya manusia peternakan masih terbatas, dan belum semua perusahaan sawit melihat integrasi ternak sebagai investasi jangka panjang.
Namun forum Agrilivestock Asia 2026 memperlihatkan bahwa arah kebijakan mulai berubah. Sawit tak lagi diposisikan semata sebagai komoditas ekspor, tetapi sebagai basis ekosistem pangan terpadu.
Bagi GAPENSISKA, SISKA adalah jalan menuju kemandirian protein hewani nasional. Organisasi itu kini tengah menyusun Masterplan SISKA 2023-2045 yang mencakup pengembangan klaster sapi, industrialisasi pakan, digitalisasi peternakan, serta standardisasi praktik terbaik di lapangan.
Jika seluruh potensi lahan sawit dapat dioptimalkan, Indonesia diyakini tidak hanya mampu mengurangi impor daging dan susu, tetapi juga membangun model pertanian sirkular yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Di tengah tekanan perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan ancaman krisis pangan global, SISKA perlahan muncul bukan sekadar program integrasi, melainkan taruhan besar Indonesia untuk membangun kedaulatan pangan dari kebun sawitnya sendiri.






























