
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam jangka panjang dapat merugikan industri sawit.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono mengatakan, depresiasi rupiah bisa menaikkan biaya produksi karena masih banyak kebutuhan industri bergantung pada impor, seperti pupuk, suku cadang kendaraan, alat berat, dan pabrik.
“Biaya pemupukan sekitar 40 persen dari biaya perawatan. Jadi, kalau harga pupuk naik akan membebani (industri sawit),” ujar Eddy kepada awak media, Jakarta, Senin (18/5).
Ia mengakui, pelemahan nilai tukar rupiah memang akan menaikkan harga jual di dalam negeri. Namun, kondisi tersebut justru tidak menguntungkan bila terjadi berkepanjangan.
Eddy juga menegaskan, pelemahan nilai rupiah juga tidak otomatis dapat mendongkrak ekspor sawit. Sebab, transaksi ekspor menggunakan dolar AS sehingga harga jual dalam USD tetap sama.
“Ekspor belum tentu naik dengan pelemahan rupiah, sebab mata uang yang digunakan untuk transaksi ekspor kan USD, jadi harga secara dollar tetap sama tidak berubah,” ujarnya.
Berdasarkan data pasar uang pada Senin (18/5) pagi, rupiah bergerak melemah sebesar 33 poin atau terkoreksi 0,19 persen ke posisi Rp17.630 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Mata Uang Rupiah 17.597 per dolar AS.





























