
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman memastikan implementasi mandatori biodiesel berbasis campuran 50 persen minyak sawit (B50) tidak akan mengganggu pasokan minyak goreng dalam negeri.
Mentan Amran mengatakan produksi minyak sawit nasional saat ini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pangan, ekspor, maupun tambahan kebutuhan sektor energi melalui program biodiesel B50.
“Aku tanya dulu 26 juta (ton) cukup. Kalau 32 juta (ton) gimana? berlebih. Ini datanya dari GAPKI, aku tidak ubah datanya,” kata Mentan Amran dalam konferensi pers di Kalibata 10, Jakarta Selatan, Selasa (19/5).
Tokoh asal Sulawesi Selatan itu menjelaskan, tambahan kebutuhan minyak sawit untuk menopang programÂ
biodiesel B50 diperkirakan hanya sekitar 5 juta hingga 6 juta ton. Sementara kebutuhan domestik untuk minyak goreng dan kebutuhan lainnya berada di kisaran 20 juta ton.
“Kecil 20-an juta ton. Jadi, B50 kan 5 juta ton. Kalau pun 6 juta ton kan masih berlebih. Berarti tidak terganggu kan?,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelumnya produksi sawit nasional berada di angka 46 juta ton, dengan alokasi sekitar 20 juta ton untuk kebutuhan minyak goreng dan kebutuhan domestik lainnya, serta 26 juta ton untuk ekspor. Kini ekspor meningkat menjadi 32 juta ton.
“Kalau ini diambil 5 juta ton artinya masih ada surplus 1 juta ton kan benar untuk B50,” tuturnya.
Sebelumnya, produksi minyak sawit nasional mencapai 46 juta ton. Dari total produksi tersebut, sekitar 20 juta ton digunakan untuk kebutuhan minyak goreng dan kebutuhan lainnya, sedangkan 26 juta ton untuk ekspor.
Kini, kata Mentan Amran, volume ekspor meningkat menjadi 32 juta ton. Dengan tambahan kebutuhan sekitar 5 juta ton untuk program biodiesel B50, menurutnya pasokan minyak sawit nasional masih tetap surplus.
“Dulu 46 juta ton. 20 juta ton untuk minyak goreng dan lain-lain. Kemudian 26 juta ton ekspor. Sekarang 32 juta ton ekspor. Kalau ini diambil 5 juta. Artinya masih ada surplus 1 juta untuk B50,” katanya.
Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Produksi CPO bulan Februari 2026 mencapai 5.015 ribu ton, naik 4,96 persen dari bulan sebelumnya 4,778 ribu ton.
Sementara total konsumsi dalam negeri mengalami peningkatan 9,55 persen dari 2.104 ribu ton di bulan Januari menjadi 2.305 ribu ton pada bulan Februari 2026.Â
Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi pangan yang naik menjadi 986 ribu ton atau 16,55 persen dari bulan sebelumnya sebesar 846 ribu ton. Konsumsi biodiesel naik 7,12 persen menjadi 1.144 ribu ton dari 1.068 ribu ton pada bulan sebelumnya.Â
Secara YoY sampai Februari, konsumsi 2026 naik menjadi 4.409 ribu ton atau 12,96 persen lebih tinggi dari konsumsi 2025 sebesar 3.903 ribu ton. Total ekspor produk sawit pada Februari 2026 naik menjadi 3.297 ribu ton atau 7,01 persen dari ekspor bulan Januari sebesar 3.081 ribu ton.Â
Peningkatan ekspor terjadi pada olahan minyak inti sawit yang menjadi 171 ribu ton dari 125 ribu ton pada bulan sebelumnya (+36,80%), pada CPO yang menjadi 395 ribu ton dari 332 ribu ton (+18,98%), pada olahan minyak sawit yang menjadi 2.267 ribu ton dari 2.172 ribu ton (+4,37%) dan pada oleokimia yang menjadi 462 ribu ton dari 450 ribu ton pada bulan sebelumnya (+2,67%).
Secara YoY sampai Februari, ekspor 2026 naik menjadi 6.378 ribu ton atau 33,96 persen lebih tinggi dari ekspor 2025 sebesar 4.761 ribu ton.





























