Perdebatan mengenai industri kelapa sawit selama ini sering berlangsung di ruang publik dengan berbagai sudut pandang, mulai dari isu lingkungan hingga kontribusinya terhadap ekonomi. Di tengah beragam narasi tersebut, generasi muda dinilai perlu mendapatkan kesempatan untuk melihat langsung bagaimana industri sawit bekerja di lapangan agar mampu membangun pemahaman yang lebih utuh dan berbasis fakta.
Berangkat dari gagasan itu, Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit atau Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) kembali menggelar program #YoungElaeis Ambassadors (YEA) Batch 2, yang mempertemukan 12 duta muda dari negara-negara produsen dan konsumen minyak sawit. Program ini berlangsung pada 6–12 Juni 2026 di Malaysia dan Indonesia dengan mengusung tema “A Journey Through Palm Oil: People, Policy, and Progress” serta tagline “Discover. Learn. Share. Inspire.”
Melalui program tersebut, para peserta diajak menelusuri berbagai aspek industri sawit, mulai dari kebijakan, praktik budidaya, keberlanjutan, hingga dampaknya terhadap masyarakat. Mereka berasal dari Indonesia, Malaysia, Ghana, Guatemala, India, dan Pakistan, dengan latar belakang yang beragam serta mewakili kategori kompetisi seperti Smallholders and Social Impact, Reuse and Recycle, Climate Action, serta Health and Nutrition.
Sekretaris Jenderal CPOPC, Izzana Salleh, mengatakan program tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada generasi muda mengenai sektor sawit yang selama ini menopang jutaan lapangan pekerjaan di berbagai negara.
Menurut dia, pemahaman yang diperoleh melalui pengalaman lapangan akan membantu generasi muda melihat industri sawit secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari berbagai informasi yang beredar di ruang digital maupun media sosial.
“Melalui program #YoungElaeis Ambassadors, kami ingin memberikan kesempatan kepada anak muda untuk belajar langsung dari industri sawit dan membagikan wawasan yang mereka peroleh dari pengalaman di lapangan,” kata Izzana dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.
Ia menambahkan bahwa suara generasi muda memiliki peran penting dalam menghadirkan percakapan yang lebih relevan dan mudah dipahami oleh masyarakat luas, baik di negara produsen maupun negara konsumen minyak sawit.
Menyaksikan Industri dari Hulu hingga Hilir
Selama satu pekan, para peserta mengikuti serangkaian kunjungan ke berbagai institusi dan lokasi yang terkait dengan industri sawit. Di Malaysia, mereka mengunjungi sejumlah lembaga penting seperti Kementerian Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Malaysian Palm Oil Board (MPOB), lembaga sertifikasi Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO), hingga perkebunan dan fasilitas pengolahan milik SD Guthrie di Carey Island.
Sementara di Indonesia, para peserta melakukan kunjungan lapangan ke perkebunan dan fasilitas operasional milik GAR Sinar Mas di Riau. Mereka melihat langsung praktik pengelolaan kebun, proses produksi, serta berbagai upaya keberlanjutan yang diterapkan perusahaan. Program kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia dan kunjungan ke Sekretariat CPOPC di Jakarta.
Bagi sebagian peserta, pengalaman tersebut menjadi kesempatan pertama untuk menyaksikan secara langsung bagaimana industri sawit beroperasi. Selama ini, sebagian besar informasi yang mereka peroleh hanya berasal dari pemberitaan media atau diskusi publik di negara masing-masing.
Belajar dari Petani hingga Teknologi Ramah Lingkungan
Salah satu peserta asal Indonesia, Reh Desiva Christima Br. Ginting, yang meraih juara pertama kategori Smallholder and Social Impact, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai kontribusi industri sawit terhadap masyarakat.
Ia melihat bagaimana sektor ini tidak hanya menghasilkan komoditas ekonomi, tetapi juga mendukung kehidupan masyarakat melalui pelatihan, beasiswa, inovasi teknologi, hingga penerapan praktik budidaya yang lebih bertanggung jawab.
Menurut Reh, salah satu hal yang menarik perhatian adalah penggunaan burung hantu sebagai bagian dari sistem pengendalian hama terpadu. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa praktik pertanian dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek lingkungan sekaligus menjaga produktivitas kebun.
“Program ini membantu kami memahami sawit secara lebih utuh, dari hulu hingga hilir, sekaligus mengingatkan bahwa percakapan yang lebih baik tentang sawit harus melibatkan manusia, kolaborasi, dan pengalaman nyata di lapangan,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Rashpreet Singh Anand dari India, peraih juara kedua kategori Reuse and Recycle. Ia menilai salah satu pelajaran paling berharga adalah melihat bagaimana limbah industri sawit dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bernilai.
Menurut dia, pengolahan limbah pabrik menjadi biogas terbarukan serta pemanfaatan tandan kosong sebagai nutrisi alami bagi tanah menunjukkan bahwa industri sawit terus bergerak menuju praktik ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan.
“Hal itu memperlihatkan bahwa industri sawit bukan hanya soal produksi, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan standar baru dalam pertanian minim limbah,” katanya.
Menjembatani Sains dan Publik
Peserta dari Malaysia, Nur Adibah Binti Roslan, yang menjadi juara pertama kategori Climate Action, menilai pengalaman lapangan memberinya gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana inovasi teknologi diterapkan dalam mendukung praktik produksi yang lebih baik.
Salah satu yang menarik perhatiannya adalah pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) yang diolah untuk mendukung pengelolaan lingkungan dan efisiensi produksi. Menurut dia, pendekatan semacam itu menunjukkan bahwa inovasi dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan dalam sektor perkebunan.
Ia menegaskan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara dunia sains, industri, dan masyarakat. Dengan pemahaman yang memadai, mereka dapat membantu menyampaikan informasi yang lebih akurat kepada publik serta mendorong lahirnya solusi terhadap berbagai tantangan lingkungan.
Sementara itu, Badar Ahmad dari Pakistan, peraih juara kedua kategori Health and Nutrition, mengaku memperoleh pemahaman yang jauh lebih mendalam tentang industri sawit dibandingkan sebelumnya.
Di negaranya, kata dia, minyak sawit sering kali dipahami dari kejauhan dan tidak jarang dipersepsikan secara kurang lengkap. Melalui kunjungan langsung ke berbagai institusi dan lokasi produksi, ia dapat melihat berbagai proses serta upaya yang dilakukan oleh para pelaku industri di lapangan.
“Saya berharap dapat membawa wawasan ini kembali ke Pakistan dan membantu mendorong percakapan yang lebih seimbang serta berdasarkan informasi yang lebih baik mengenai sawit,” ujarnya.
Membangun Narasi Berbasis Fakta
Program #YoungElaeis Ambassadors menjadi bagian dari upaya CPOPC untuk memperluas partisipasi generasi muda dalam diskusi mengenai komoditas strategis dunia tersebut. Organisasi ini menilai bahwa keterlibatan anak muda penting untuk memastikan diskursus publik tentang sawit tidak hanya didominasi oleh narasi yang bersifat parsial.
Selain memberikan pengalaman langsung, program ini juga bertujuan membentuk generasi komunikator baru yang mampu menjelaskan isu-isu kompleks seputar komoditas sawit dengan bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, CPOPC berharap lahir lebih banyak suara muda yang dapat menyampaikan informasi secara berimbang, berdasarkan pengalaman lapangan dan fakta yang mereka temui sendiri.
Bagi industri sawit yang kerap menjadi sorotan global, kehadiran generasi muda yang memahami persoalan secara komprehensif dinilai menjadi modal penting untuk membangun dialog yang lebih konstruktif di masa depan. Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap keberlanjutan dan transparansi, pengalaman langsung semacam ini dapat menjadi jembatan antara industri, masyarakat, dan generasi penerus yang akan menentukan arah percakapan tentang sawit pada tahun-tahun mendatang.






























