Tokoh Sawit Nasional Sebut B50 Bisa Jadi Genta Kematian Industri Sawit

0
Guru Besar IPB University dan Tokoh Sawit Nasional, Bayu Krisnamurthi. Dok: Majalah Hortus/supianto

Guru Besar IPB University dan Tokoh Sawit Nasional, Bayu Krisnamurthi, mengingakatkan potensi dampak ekonomi dari rencana peningkatan campuran biodiesel menjadi B50. Ia bahkan menyebut kebijakan ini bisa menjadi sebuah “genta kematian” bagi industri sawit nasional.

Hal ini disampaikan dalam forum Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Keseimbangan Kebijakan Energi dalam Implementasi Mandatori Biodiesel di Indonesia”, yang diselenggarakan Sekolah Kajian Stratejik dan Global Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia di Jakarta, Jumat (17/10).

Sebagai penanggap utama dalam forum tersebut, Bayu menyoroti hasil riset yang memperkirakan lonjakan biaya produksi akibat kebijakan peningkatan campuran biodiesel dari B40 ke B50.

Menurut dia, bauran energi memang sangat penting untuk masa depan energi nasional, namun biaya ekonominya tidak bisa diabaikan karena akan berdampak pada semua pihak, mulai dari konsumen, perusahaan, hingga industri itu sendiri.

“Bauran energi sangat penting. Itu sangat penting, tetapi kosnya pada ekonomi itu seperti tadi dan itu kena semua, konsumen, perusahaan, dan terakhir, kalau angka-angka ini benar, menurut saya, itu adalah sebuah genta kematian dari industri sawit,” ujar dia.

Bayu mengungkapkan, industri sawit saat ini tengah menghadapi tantangan serius. Selama dua tahun terakhir, baik produksi maupun investasi cenderung stagnan akibat ketidakpastian kebijakan yang masih belum jelas.

“Kalau tadi disebut produksi stagnan tapi juga investasi, kenapa? Karena teman-teman pelaku usaha sedang menunggu kepastian. Kemana ini arah kepastian kebijakan,” ujar dia.

Menurut Bayu, wajar jika para pengusaha menahan diri untuk berinvestasi ketika kebijakan berubah-ubah. Investasi di sawit bukan keputusan yang bisa diambil secara instan, melainkan proses yang membutuhkan waktu lama.

“Kalau sudah berubah kebijakan, pengusaha harus tahan. Kalau salah investasi, kan repot. Jadi intinya adalah sedang stagnan. Investasi di sawit itu bukan investasi hari ini diputuskan, besok jadi,” jelasnya.

Selain itu, Bayu juga memaparkan fakta soal daya saing sawit Indonesia di pasar internasional. Saat ini, kata dia, harga minyak sawit sudah sekitar US$ 300 per ton lebih tinggi dibandingkan harga minyak kedelai (soybean oil).

“Pasar internasional masih mau beli sawit aja sudah alhamdulillah. Dan sangat banyak riset di negara-negara konsumen utama kita. Yang tujuan risetnya adalah untuk bisa mengganti minyak sawit,” ungkapnya.

Bayu memaparkan hasil analisis yang menunjukkan, peningkatan bauran biodiesel dari B40 ke B50 diperkirakan akan menambah kebutuhan CPO domestik sekitar empat juta ton. Dampak kebijakan ini membuat ekspor CPO diperkirakan turun sekitar lima juta ton,

Untuk mendukung kebijakan B50, bekas Wakil Menteri Perdagangan itu menyebutkan diperlukan tambahan subsidi sekitar Rp 10–12 triliun, sehingga total subsidi mencapai sekitar Rp 46,5 triliun.

“Sekarang duit di BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) itu ada berapa? Kalau harus 46 triliun per tahun langsung habis. Teman-teman petani lupa kena re-planting. Enggak ada duitnya,” ujar Bayu.

Ia menambahkan, penerapan mandatori biodiesel B50 diperkirakan dapat menghemat devisa impor solar sebesar Rp 172,35 triliun. Namun, kebijakan ini juga berpotensi menekan ekspor CPO hingga Rp 190,5 triliun.

Bayu menjelaskan, sebagai salah satu pemain utama dunia, Indonesia diperkirakan akan memengaruhi harga CPO global. Menurut perhitungan Pranata dari Universitas Indonesia, harga CPO dunia bisa naik sekitar 150 dolar per ton.

Di sisi domestik, pada tahun pertama penerapan B50, harga Tandan Buah Segar (TBS) diperkirakan naik sekitar Rp 600 per kilogram. Namun, bila dana BPDP habis dan pemerintah menaikkan pungutan ekspor (PE) harga TBS justru bisa turun sekitar Rp 1.700 per kilogram.

“Kemudian yang lain adalah bahwa harga minyak goreng itu akan naik kira-kira sekitar Rp 1.900 per liter. Jadi, skenario B40 ke B50 itulah angka-angkanya,” ujarnya.

Mengakhiri paparannya, bekas Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog itu menyatakan dukungan terhadap kesimpulan riset yang merekomendasikan kebijakan biodiesel lebih fleksibel dan berbasis data.

“Kita perlu keseimbangan antara target energi, ekspor, dan kesejahteraan petani. Sawit Indonesia ini luar biasa kuat, tidak mungkin kalah,kecuali kalau kita sendiri yang membuatnya kalah,” ujar Bayu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini