
Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, menyatakan dukungan penuhnya terhadap penerapan teknologi biochar sebagai salah satu upaya strategis dalam mengatasi perubahan iklim.
Menurutnya, inovasi ini tidak hanya penting untuk aksi mitigasi lingkungan, tetapi juga membuka peluang besar dalam pengembangan ekonomi hijau, khususnya melalui perdagangan karbon.
Diaz menyoroti tren peningkatan temperatur di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Makassar. Berdasarkan hasil penelitian, kenaikan suhu tersebut dipicu oleh aktivitas manusia yang menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) secara terus-menerus.
Menyikapi kondisi tersebut, Diaz menekankan pentingnya aksi nyata dari seluruh elemen bangsa. Ia mendorong kolaborasi dan inovasi yang berkelanjutan, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi biochar.
“Aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harus kita lakukan secara bersamaan. Salah satunya seperti yang dilakukan teman-teman ABII melalui teknologi biochar,” ujarnya dalam peluncuran Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII) di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Diaz juga menjabat sebagai Wakil Ketua ABII.
Biochar merupakan hasil pengolahan limbah agrikultur seperti ampas tebu (bagasse) yang dapat menyerap emisi GRK sekaligus merevitalisasi tanah yang tidak lagi optimal.
Selain manfaat lingkungan, teknologi ini juga membuka peluang untuk menghasilkan kredit karbon yang dapat diperdagangkan secara internasional. Wamen Diaz menyebut bahwa sektor biochar berpotensi menjadi pionir dalam perdagangan karbon global.
“Sekarang bolanya ada di asosiasi. Masukan teknis sudah kita berikan dan tinggal dikembalikan ke KLH. Harapannya supaya sektor ini bisa menjadi yang pertama yang mendobrak perdagangan karbon internasional,” jelas Diaz.
Diaz, yang juga Wakil Ketua ABII mendorong agar ABII segera menetapkan standar biochar nasional agar produk Indonesia memiliki daya saing dan mutu yang terjaga di pasar global.
“Yang penting adalah kita menyusun dan menetapkan standar-standar untuk memastikan kualitas kita. Jangan sampai biochar Indonesia dikenal yang memiliki mutu rendah. Kita harus bisa menghasilkan produk berstandar tinggi,” pungkas Diaz.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy turut menggarisbawahi pentingnya teknologi biochar dalam menghadapi tantangan triple planetary crisis, yaitu perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
“Triple planetary crisis perlu ditangani. Salah satu caranya adalah menghasilkan biochar. Kelihatannya sederhana, tetapi menghasilkan biochar berkualitas adalah langkah mengurangi triple planetary crisis,” ucap Rachmat.
Sebagai Ketua Dewan Pengawas ABII, Rachmat juga menekankan perlunya peta jalan sektor biochar untuk mendukung sistem pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Dukungan konkret turut datang dari Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, yang menyatakan kesiapan penuh Kementerian Pertanian (Kementan) berkolaborasi dengan ABII.
“Kami akan bantu apapun dari segi pertanian, siap kolaborasi, siap terjun, kami bawa eselon 1 dan 2 Kementan untuk menunjukkan komitmen Kementan. Saya minta Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian untuk segera menindaklanjuti aksi yang akan dieksekusi ABII,” kata Sudaryono..
Ketua Umum ABII, Hashim Djojohadikusumo, yang juga merupakan Utusan Khusus Presiden bidang Perubahan Iklim, mengungkapkan rasa gembiranya atas berdirinya asosiasi ini. Hashim mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang telah terbangun sejak awal gagasan pendirian ABII.
“Saya ingin sampaikan saya sangat bergembira, Pak Phil Pak Rachmat yang datang ke kantor saya 2-3 tahun lalu yang mengusulkan berdirinya asosiasi yang luar biasa,” ucap Hashim.





























