JAKARTA — Limbah cair dari pabrik kelapa sawit selama ini identik dengan persoalan lingkungan. Namun, bagi PT Astra Agro Lestari Tbk, limbah tersebut justru diubah menjadi sumber energi. Melalui teknologi methane capture, limbah cair kelapa sawit ditangkap dan diolah menjadi biogas untuk bahan bakar boiler pabrik.
Inovasi itu menjadi salah satu bagian dari transformasi keberlanjutan Astra Agro yang mengantarkan perusahaan meraih Anugerah Ekonomi Hijau 2026. Penghargaan diberikan atas upaya perusahaan mendorong praktik industri perkebunan yang dinilai lebih bertanggung jawab, efisien, dan berkelanjutan.
Penghargaan tersebut diterima Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk, Tingning Sukowignjo, dalam acara Anugerah Ekonomi Hijau 2026 yang digelar Detikcom di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis malam, 3 September 2026.
Acara tersebut dihadiri antara lain Founder and Chairman CT Corp Chairul Tanjung, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, serta sejumlah pimpinan korporasi nasional.
Jumhur mengatakan dunia usaha memiliki peran penting dalam memastikan pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan lingkungan. Menurut dia, perubahan menuju ekonomi yang lebih hijau tidak cukup hanya mengandalkan regulasi.
“Penghargaan ini penting karena perubahan tidak hanya membutuhkan regulasi dan sanksi, perubahan juga membutuhkan keteladanan, pengakuan, reputasi, dan contoh nyata bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan bersama tanggung jawab ekologis,” ujar Jumhur saat membuka Anugerah Ekonomi Hijau 2026.
Limbah Jadi Energi
Di Astra Agro, prinsip ekonomi hijau diterapkan melalui berbagai inovasi di kebun maupun pabrik. Salah satu yang menonjol adalah pemanfaatan limbah cair kelapa sawit melalui teknologi methane capture.
Tingning mengatakan teknologi tersebut memungkinkan perusahaan menangkap metana yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah cair. Gas yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber emisi itu kemudian dimanfaatkan sebagai biogas untuk mendukung kebutuhan energi pabrik.
“Transformasi yang sama berjalan di pabrik. Melalui teknologi methane capture, limbah cair kelapa sawit yang semula menjadi sumber emisi yang signifikan kini ditangkap dan diubah menjadi biogas, bahan bakar boiler yang mendukung operasional pabrik,” kata Tingning.
Menurut dia, pemanfaatan biogas tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi. Inovasi tersebut juga menjadi bagian dari strategi meningkatkan efisiensi energi dalam kegiatan operasional perusahaan.
“Langkah ini menjadi bagian dari upaya Astra Agro untuk terus meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi jejak lingkungan dari kegiatan operasional,” ujarnya.
Konsep serupa diterapkan pada pengelolaan input di tingkat kebun. Tim Research and Development Astra Agro mengembangkan inovasi pupuk hayati berbahan organik bernama ASTEMIC.
Produk tersebut dikembangkan melalui penelitian terhadap mikroba yang berasal dari kebun perusahaan. Penggunaannya diarahkan untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus menjaga kesehatan tanah dan produktivitas tanaman.
Astra Agro mencatat penggunaan ASTEMIC dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia hingga 25 persen.
Inovasi itu juga diposisikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang menjaga produktivitas tanaman, termasuk dalam mendukung program peremajaan tanaman.
Dengan demikian, pendekatan ekonomi hijau Astra Agro tidak hanya berhenti pada pengelolaan limbah. Perusahaan mencoba membangun siklus yang lebih efisien, mulai dari pengelolaan input, proses produksi, pemanfaatan limbah, hingga pengurangan emisi.
Emisi Turun 35,69 Persen
Dampak dari berbagai upaya tersebut tercermin dalam kinerja emisi perusahaan. Pada 2025, Astra Agro mencatat penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Cakupan 1 dan 2 sebesar 35,69 persen dibandingkan tahun dasar 2019.
Angka tersebut telah melampaui target perusahaan untuk menurunkan emisi GRK sebesar 30 persen pada 2030.
Selain penurunan emisi, perusahaan juga mencatat bauran energi terbarukan sebesar 92,30 persen pada 2025. Astra Agro menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 93,40 persen pada 2030.
Capaian tersebut menunjukkan upaya pengurangan jejak lingkungan mulai masuk ke aspek operasional, bukan sekadar menjadi komitmen dalam dokumen kebijakan perusahaan.
Pengelolaan lingkungan tersebut berjalan beriringan dengan sejumlah agenda keberlanjutan lain, seperti penguatan ketelusuran rantai pasok, inovasi operasional, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah kerja perusahaan.
Bagi perusahaan perkebunan, langkah tersebut menjadi semakin penting karena industri kelapa sawit menghadapi tuntutan yang semakin besar terkait produktivitas, efisiensi energi, emisi, serta pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Keberlanjutan sebagai Proses
Tingning mengatakan penghargaan Anugerah Ekonomi Hijau 2026 tidak dipandang sebagai titik akhir. Sebaliknya, apresiasi tersebut menjadi dorongan untuk melanjutkan inovasi.
“Bagi kami, keberlanjutan adalah proses yang terus berjalan,” ujar Tingning.
Menurut dia, penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas berbagai upaya yang telah dilakukan Astra Agro, sekaligus menjadi motivasi untuk terus memperbaiki praktik operasional perusahaan.
“Penghargaan ini menjadi apresiasi atas upaya yang telah dilakukan sekaligus menjadi dorongan bagi kami untuk terus berinovasi dan meningkatkan kontribusi positif bagi lingkungan, masyarakat, dan keberlanjutan bisnis,” katanya.
Transformasi itu memperlihatkan bagaimana konsep ekonomi hijau mulai diterjemahkan ke dalam aktivitas produksi. Limbah cair tidak semata-mata dipandang sebagai residu yang harus dikelola, tetapi dapat menjadi sumber energi. Sementara itu, riset mikroba di kebun dikembangkan menjadi pupuk hayati untuk mengurangi penggunaan input kimia.
Bagi Astra Agro, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menemukan titik temu antara produktivitas perkebunan, efisiensi operasional, pengurangan emisi, dan perlindungan lingkungan.
Tingning mengatakan seluruh upaya tersebut sejalan dengan semangat perusahaan untuk membangun hubungan yang lebih harmonis antara kegiatan usaha, lingkungan, dan masyarakat.
“Hal ini sejalan dengan semangat sinergi bumi dan manusia untuk satu Indonesia,” pungkasnya.






























