
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sebagai antisipasi dampak Godzilla El Nino yang diperkirakan mulai terjadi pada April 2026.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan kekuatan stok CPP dari penyerapan produksi dalam negeri memudahkan intervensi saat anomali cuaca terjadi.
“Adanya prediksi Godzilla El Nino telah menjadi perhatian pemerintah. Kami di Bapanas sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Andi Amran Sulaiman, memastikan ketahanan stok CPP terus diperkuat agar nanti saat diperlukan, bisa segera disalurkan untuk membantu masyarakat,” kata Ketut dalam keterangan resmi, Kamis (26/3).
Ia mengatakan, per 25 Maret, stok pangan pokok strategis yang dikelola oleh BUMN pangan, baik Perum Bulog maupun ID FOOD, masih memadai dengan beras sebagai CPP dengan stok terbesar.
“CPP lainnya juga terus diperkuat seperti jagung, minyak goreng, gula konsumsi, daging sapi/kerbau, daging ayam dan telur ayam,” ujarnya.
Stok CPP beras di Bulog saat ini total telah mencapai 4,08 juta ton. Capaian ini meningkat pesat sebesar 77,8 persen dibandingkan kondisi stok CPP beras pada akhir Maret tahun lalu yang saat itu masih berada 2,29 juta ton.
“Sebagian besar pasokan bersumber dari produksi dalam negeri dikarenakan Bulog telah melaksanakan penyerapan setara beras sejak awal 2026 hingga hari ini mencapai 1,24 juta ton,” jelasnya.
Kemudian stok CPP jagung berada di kisaran 144 ribu ton yang sebagian besar bersumber dari penyerapan panen jagung dalam negeri. Realisasi penyerapan jagung produksi dalam negeri di tahun 2026 ini telah mencapai 101,96 ribu ton.
Sementara kondisi stok CPP lainnya antara lain minyak goreng berada di angka total 95 ribu kiloliter. Lalu gula konsumsi ada 50 ribu ton dengan sebagian besar ada di ID FOOD sebagai pengelolanya. Kemudian stok CPP daging sapi/kerbau ada 11 ribu ton yang juga sebagian besar dikelola ID FOOD. Daging ayam 39 ton pun ada di ID FOOD. Sementara CPP telur ayam 62 ton dikelola Bulog.
Sebelumnya, Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman menekankan ketahanan pangan nasional sejalan dengan visi swasembada pangan yang diusung Presiden Prabowo Subianto. Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, tanpa bergantung terhadap negara lain.
“Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Oleh karena itu, setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain. Kita tidak boleh takut,” ujar Amran.
Menurutnya, Indonesia saat ini sudah berada di jalur yang tepat. Kebutuhan konsumsi pangan pokok strategis harus mampu ditopang dari hasil kerja keras petani dan peternak dari negeri sendiri. Itu yang menjadi indikator ketahanan pangan nasional yang kuat.
“Yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri. Kita harus optimis,” tambah Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.
Lebih lanjut, stok CPP tersebut akan disalurkan ke masyarakat melalui berbagai program intervensi pangan. Misalnya program bantuan pangan beras dan minyak goreng yang kembali digulirkan pemerintah mulai Maret ini. Bapanas mencatat realisasi penyalurannya sampai 25 Maret telah mencapai 378.666 penerima di 24 provinsi.
Sementara realisasi penjualan beras SPHP selama bulan Maret tahun ini telah menyentuh angka 43,17 ribu ton. Program intervensi pangan lainnya masih terus dilaksanakan pemerintah bersama seluruh mitra dalam bentuk Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah.
Adapun penjelasan terkait Godzilla El Nino, BRIN menyebut menggunakan istilah ini untuk menggambarkan potensi variasi El Nino yang kuat, sehingga muncul prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Indonesia dapat mengalami keadaan minim awam dan hujan.
Namun, dampaknya bisa saja tidak seragam terjadi di seluruh wilayah Indonesia. BRIN mengajak kementerian/lembaga yang terkait untuk dapat memitigasi dengan mempertimbangkan dampak kekeringan di bagian selatan Indonesia dan dampak banjir di timur laut Indonesia (Sulawesi, Halmahera, Maluku).





























