PALU – Suasana ruang pertemuan Hotel Best Western Plus Coco Palu, Senin pagi, 11 Agustus 2025, terasa berbeda. Di barisan kursi yang disusun rapi, 35 pekebun kelapa sawit dari Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, duduk menyimak. Mereka datang bukan untuk sekadar mendengar ceramah, tetapi mengikuti pelatihan teknis yang diharapkan bisa mengubah cara mereka mengelola kebun.
Badan Pengelola Dana Perkebunan(BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (SIB) menggandeng Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk menggelar Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit. Agenda berlangsung enam hari, hingga 16 Agustus 2025, dan menjadi bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM PKS).
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulawesi Tengah, Rohani Mastura, dalam sambutannya mengatakan pelatihan ini tidak lahir tanpa dasar hukum. Ia merujuk pada Pasal 93 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan serta Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2018 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit. “Regulasi ini mengatur langkah teknis pengembangan sawit yang terencana dan tepat sasaran, sekaligus memprioritaskan peningkatan kapasitas pekebun,” ujarnya.
Menurut Rohani, permintaan akan hasil perkebunan kelapa sawit menunjukkan tren kenaikan dari tahun ke tahun. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, minyak sawit juga menjadi bahan baku penting bagi industri pangan, kosmetik, hingga energi terbarukan. “Tingginya permintaan pasar harus diimbangi dengan pasokan yang memadai. Itu berarti produktivitas kebun harus meningkat, dengan mutu CPO yang sesuai standar,” katanya.
Untuk mencapainya, kata Rohani, dibutuhkan sumber daya manusia yang terampil dan kompeten. Karena itu, pelatihan ini dirancang menyeluruh: mulai dari persiapan benih dan bahan tanam, pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman, hingga pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Ada pula sesi kunjungan lapangan ke kebun sawit, agar peserta bisa melihat langsung penerapan teori di lapangan. “Kami berharap para pekebun bisa menerapkan pengetahuan ini di kebunnya masing-masing, khususnya di Morowali,” ujarnya.

Direktur Utama PT SIB, Andi Yusuf Akbar, menambahkan bahwa pelatihan ini menjadi salah satu upaya menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit nasional. Ia mengingatkan bahwa meskipun sawit telah menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar, tantangan di lapangan masih banyak, terutama soal benih. “Masih banyak beredar benih tidak bersertifikat. Ini jelas berdampak pada kualitas tanaman dan hasil panen. Dalam pelatihan ini, kami tekankan pentingnya penggunaan benih unggul,” katanya.
Selain membahas prinsip Good Agricultural Practices (GAP) dan teknik pemeliharaan tanaman, pelatihan ini juga memuat materi tentang identifikasi dan pengendalian hama serta penyakit. “Kami tidak hanya memberikan teori. Masalah yang sering dihadapi di lapangan akan dibedah tuntas, disertai solusi teknis yang bisa langsung dipraktikkan,” kata Andi. Sebagai puncak kegiatan, peserta akan berkunjung ke PT Unggul di Baras, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, untuk mempelajari langsung penerapan budidaya sawit berwawasan lingkungan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Morowali, Andi Irman, yang turut hadir, memberikan apresiasi kepada BPDPKS, Ditjenbun, dan PT SIB. Menurutnya, pelatihan ini menjadi bekal penting bagi pekebun dalam meningkatkan produksi dan produktivitas. “Sawit bukan hanya penopang ekonomi daerah, tapi juga ikut menentukan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pengelolaannya harus tepat,” katanya.
Ia mengingatkan para peserta agar tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. “Manfaatkan pelatihan ini sebaik mungkin. Setelah kembali ke kebun, ilmu yang didapat harus dibagikan kepada rekan-rekan yang belum berkesempatan ikut,” ujarnya.
Dengan materi yang padat dan dukungan penuh dari pemerintah, pelatihan ini diharapkan bukan hanya meningkatkan keterampilan teknis, tapi juga membentuk pola pikir baru para pekebun: bahwa kelapa sawit harus dikelola secara berkelanjutan, efisien, dan ramah lingkungan. Sebab, di tengah persaingan global, produktivitas saja tidak cukup—keberlanjutan adalah kunci.






























