Dengan Sawit, Indonesia Bisa Wujudkan Mandiri Energi

0
pabrik sawit
Ilustrasi

Produk kelapa sawit dapat menjadi penyokong ketersediaan energi di Indonesia seiring dengan semakin menurunnya produksi minyak dan gas bumi.

Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) menyatakan, sawit dapat menjadi penyokong ketersediaan energi di Indonesia seiring dengan semakin menurunnya produksi minyak dan gas bumi.

“Bahan baku tersedia, teknologi telah kita kuasai baik di hulu maupun di hilir. Saya yakin sawit bisa menjadikan Indonesia mandiri energi,” ujarnya Direktur Eksekutif PASPI, Tungkot Sipayung, di Jakarta, belum lama ini.

Dia mengemukakan, saat ini Institut Teknologi Bandung (ITB) didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan PT Pertamina (Persero) telah melakukan riset yang hasilnya CPO bisa diubah menjadi green diesel, green gasoline, dan green avtur.

“Bahkan green avtur yang dihasilkan bisa tahan tidak beku di suhu di bawah -120 derajat Celsius. Jadi, sangat aman untuk bahan bakar pesawat terbang,” ungkapnya.

Dijelaskan Sipayung, CPO merupakan bahan baku biodiesel paling kompetitif jika dibandingkan dengan minyak nabati lain, misalnya minyak kedelai (soybean), minyak rapeseed (sejenis kubis-kubisan), ataupun minyak bunga matahari.

Hal itu, lanjutnya, disebabkan tanaman kelapa sawit lebih produktif jika dibandingkan dengan kedelai, rapeseed maupun tanaman bunga matahari.

Kata Tungkot, sawit bisa dijadikan berbagai macam produk energi yang dalam pengembangannya terbagi menjadi tiga generasi. Generasi pertama yakni CPO atau minyak inti sawit mentah (crude palm kernel oil/CPKO) bisa dibuat menjadi biodiesel, green diesel, green gasoline, green avtur, biogas dan biolistrik.

Sementara itu, generasi kedua, biomassa kelapa sawit bisa diubah menjadi bioetanol dan biolistrik. Pengembangan generasi ketiga yakni limbah pabrik kelapa sawit (palm oil mill effluent/POME) bisa menghasilkan biodiesel, biogas, biodiesel alga, dan biolistrik.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Gusti Hardiansyah menyatakan bahwa sawit bisa meningkatkan elektrifikasi di Kalimantan Barat karena provinsi itu merupakan penghasil sawit yang bisa dijadikan biofuel sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ataupun biomassa.

Menurut dia, pembangkit listrik biomassa ini bisa menjadi solusi untuk meningkatkan elektrifikasi, terutama di desa-desa sekitar kebun sawit.

“Biomassa dihasilkan dari tangkos, cangkang, pelepah, dan batang sawit. Kami sudah melakukan penelitian dan berhasil,” ungkap Gusti.

Total kebun sawit di Kalbar dilaporkan mencapai luas 1.455.182 hektar atau berada di urutan ketiga secara nasional setelah Riau yang mencapai luas 2.430.508 ha dan Sumatera Utara seluas 1.445.725 ha.

Kalbar memiliki 70 pabrik kelapa sawit (PKS) dengan total produksi CPO sekitar 3,396 juta ton per tahun, sehingga mampu memberikan kontribusi sekitar 10 persen dari total produksi CPO nasional.

Menurut Gusti, dari total produksi CPO tersebut, potensi biomassa di Kalbar sangat melimpah, tetapi belum digarap secara optimal karena belum ada penghiliran produk turunan.

Total kebun sawit di Kalimantan seluas 3.471.843 ha yang mampu menghasilkan biomassa sekitar 396 MW (Mega Watt) dan biogas sekitar 198 MW. Oleh karena itu, Gusti mengaku optimis jika semua itu bisa dioptimalkan, tidak akan ada lagi desa di Kalbar yang tidak teraliri listrik.

Sementara itu, Gubernur Kalbar Sutarmidji mendukung sawit sebagai energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, terutama listrik dan sarana peningkatan keahlian tenaga kerja di Kalbar.

Oleh karena itu, dia mengajak pengusaha perkebunan kelapa sawit untuk membangun gedung lembaga sertifikasi tenaga kerja.

Aprobi Siap Produksi Green Diesel
Dalam pada itu dilaporkan bahwa Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyatakan siap memenuhi target pemerintah untuk memproduksi green diesel dalam kurun 2-3 tahun ke depan.

“Siap saja, nggak ada masalah,” ungkap Ketua Harian Aprobi, Paulus Tjakrawan.

Namun, pinta dia, pemerintah perlu melakukan perhitungan yang pasti. Pasalnya, untuk memproduksi green diesel skala besar, bukan hanya kesiapan teknologi dan ekonomi saja, tetapi juga uji coba yang perlu diperhatikan.

Pembangunan pabrik green diesel sendiri memerlukan proses yang lama. Selain itu, investasi yang dibutuhkan besar.

“Biaya investasi sama dengan [membangun] kilang minyak Pertamina,” ujarnya lagi.

Paulus menilai saat ini PT Pertamina (Persero) yang paling siap memproduksi green diesel dalam waktu dekat. “Kalau mau dilaksanakan besok pun bisa Pertamina,” ucapnya.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menargetkan dalam 2-3 tahun ke depan, Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri green diesel. Keyakinan ini didasari komitmen 10 perusahaan sawit Indonesia, dari sebelumnya 7 perusahaan, untuk memproduksi green diesel. ***SH, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini