Ekspor Melonjak, Stok Sawit Indonesia Susut 19,7%

0

JAKARTA — Permintaan minyak sawit Indonesia menguat pada Agustus 2026. Ekspor meningkat, konsumsi domestik bertambah, tetapi produksi bulanan justru sedikit melemah. Kombinasi tersebut membuat stok akhir minyak sawit nasional turun hampir seperlima dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi 2,214 juta ton.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengatakan, berdasarkan data kinerja industri sawit yang dirilis GAPKI pada 9 Oktober 2026, total ekspor produk sawit Indonesia pada Agustus mencapai 3,588 juta ton. Jumlah itu meningkat 12,56% dibandingkan Juli yang tercatat 3,188 juta ton.

Kenaikan ekspor tersebut menjadi salah satu penanda menguatnya penyerapan produk sawit Indonesia, baik di pasar internasional maupun di dalam negeri. Namun, perkembangan permintaan juga perlu dicermati bersama kondisi produksi dan persediaan agar keseimbangan pasokan tetap terjaga.

“Perkembangan ekspor, konsumsi domestik, produksi, dan stok perlu dilihat secara bersamaan untuk memahami kondisi industri sawit nasional. Data Agustus memperlihatkan ekspor dan konsumsi dalam negeri meningkat, sementara produksi bulanan sedikit menurun,” kata Mukti di Jakarta, 9/10/2026.

Nilai Ekspor Tembus US$27,55 Miliar

Dari sisi volume, ekspor produk sawit pada Agustus terutama ditopang oleh produk olahan minyak sawit dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

GAPKI mencatat ekspor produk olahan minyak sawit meningkat 15,12%, dari 2,296 juta ton pada Juli menjadi 2,643 juta ton pada Agustus. Ekspor CPO bahkan tumbuh 31,83%, dari 249.000 ton menjadi 329.000 ton.

Ekspor produk olahan minyak inti sawit juga naik 14,58% menjadi 113.000 ton. Sebaliknya, ekspor oleokimia turun 6,74% menjadi 501.000 ton, sedangkan ekspor minyak inti sawit mentah atau CPKO merosot 62,54% menjadi sekitar 3.000 ton.

Peningkatan volume pengiriman turut mengerek nilai ekspor. Pada Agustus 2026, nilai ekspor produk sawit mencapai US$4,29 miliar, naik 12,62% dibandingkan bulan sebelumnya sebesar US$3,81 miliar.

Secara kumulatif, nilai ekspor selama Januari–Agustus 2026 mencapai US$27,55 miliar, meningkat 11,14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$24,78 miliar. Adapun volume ekspor bertambah 2,97%, dari 22,696 juta ton menjadi 23,370 juta ton.

Pertumbuhan nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan volumenya menunjukkan bahwa harga turut berperan dalam memperbesar penerimaan. GAPKI mencatat harga rata-rata ekspor CPO sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai US$1.140 per ton, lebih tinggi daripada US$1.075 per ton pada periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, harga rata-rata ekspor CPO pada Agustus tercatat US$1.164 per ton, sedikit lebih rendah dibandingkan Juli yang mencapai US$1.168 per ton.

Biodiesel Menjadi Penopang Konsumsi

Di pasar domestik, total konsumsi produk sawit pada Agustus mencapai 2,304 juta ton, naik 1,28% dibandingkan Juli sebesar 2,275 juta ton. Kenaikan terutama berasal dari sektor biodiesel, yang menyerap 1,350 juta ton, bertambah 5,03% dari bulan sebelumnya.

Sebaliknya, konsumsi untuk pangan turun 3,79% menjadi 775.000 ton. Penyerapan untuk oleokimia juga melemah 2,70% menjadi 180.000 ton.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, konsumsi domestik mencapai 17,523 juta ton, meningkat 6,81% dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 16,406 juta ton. Dari total tersebut, konsumsi biodiesel mencapai 9,206 juta ton, sektor pangan 6,873 juta ton, dan oleokimia 1,444 juta ton.

Besarnya penyerapan biodiesel memperlihatkan peran penting pasar domestik dalam struktur permintaan minyak sawit. Bersama ekspor, konsumsi energi berbasis sawit ikut memengaruhi pergerakan stok nasional.

“Peningkatan konsumsi dalam negeri, terutama untuk biodiesel, menjadi perkembangan penting yang perlu diperhatikan dalam membaca keseimbangan pasar sawit. Penyerapan domestik dan kebutuhan ekspor harus diperhitungkan bersama dengan perkembangan produksi,” jelas Mukti.

Produksi Naik secara Kumulatif

Di sisi produksi, industri sawit mencatat penurunan tipis pada Agustus. Produksi gabungan CPO dan minyak inti sawit atau PKO mencapai 5,343 juta ton, turun 0,50% dibandingkan Juli sebesar 5,370 juta ton.

Produksi CPO turun dari 4,904 juta ton menjadi 4,880 juta ton. Produksi PKO juga berkurang dari 466.000 ton menjadi 464.000 ton.

Namun, secara kumulatif produksi masih tumbuh. Sepanjang Januari–Agustus 2026, produksi CPO dan PKO mencapai 40,997 juta ton, meningkat 5,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 39,037 juta ton.

Dengan stok awal tahun sebesar 2,068 juta ton, produksi kumulatif 40,997 juta ton, konsumsi domestik 17,523 juta ton, ekspor 23,370 juta ton, dan impor 43.000 ton, stok akhir Agustus tercatat 2,214 juta ton.

Angka tersebut turun 544.000 ton dibandingkan stok akhir Juli sebesar 2,758 juta ton, atau menyusut sekitar 19,7%.

Penurunan stok bulanan ini perlu dicermati, meskipun belum dengan sendirinya menunjukkan terjadinya kekurangan pasokan. Perkembangan produksi dan penyerapan pada bulan berikutnya akan menentukan apakah penyusutan persediaan berlanjut atau kembali meningkat.

Pasar Ekspor Bergerak Berbeda

Dari sisi tujuan ekspor, Pakistan mencatat kenaikan pengiriman terbesar di antara sejumlah pasar utama, yakni 113% menjadi 265.000 ton pada Agustus. Ekspor ke India meningkat 27% menjadi 89.000 ton, sedangkan pengiriman ke Rusia melonjak 250% menjadi 77.000 ton.

Ekspor ke Bangladesh naik 48% menjadi 66.000 ton dan Malaysia meningkat 26% menjadi 38.000 ton. Sebaliknya, pengiriman ke Uni Eropa-27 turun 44% menjadi 160.000 ton, Amerika Serikat merosot 14% menjadi 36.000 ton, serta China dan Afrika masing-masing turun 3%.

Secara kumulatif, ekspor ke China selama Januari–Agustus meningkat 24,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rusia tumbuh 11,5%, Malaysia 7,8%, Bangladesh 6,2%, dan Afrika 3,8%. Sementara itu, ekspor ke India turun 20,2%.

Perbedaan arah permintaan antarpasar menunjukkan pentingnya menjaga daya saing dan memperluas tujuan ekspor. Pada saat yang sama, peningkatan konsumsi domestik menuntut pengelolaan pasokan yang cermat.

Bagi industri sawit Indonesia, tantangannya bukan sekadar meningkatkan volume produksi dan ekspor, melainkan menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar dalam negeri, peluang perdagangan internasional, dan ketersediaan stok. Data Agustus memberikan sinyal bahwa ketiga aspek tersebut semakin erat berkaitan dalam menentukan arah industri sawit nasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini