El Nino Ancam Produksi CPO, Mentan Amran Siapkan Langkah Antisipasi

0
Petani mengangkut tandan buah segar (tbs) sawit
Petani mengangkut tandan buah segar (TBS) sawit baru selesai dipanen menggunakan motor angkut. Dok: Ditjen Perkebunan

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengantisipasi dampak El Nino terhadap produksi sawit dan crude palm oil (CPO). Pemerintah akan memastikan kebutuhan pupuk hingga perawatan tanaman tetap berjalan agar produksi tidak turun signifikan.

Mentan Amran mengatakan dampak El Nino terhadap sawit memang mungkin terjadi. Namun, ia berharap pengaruhnya tidak terlalu besar.

“Kalau sawit, mudah-mudahan tidak dampaknya. Mungkin ada pengaruhnya tapi mudah-mudahan tidak besar,” ujar Mentan Amran saat ditemui Kecamatan di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, Senin (31/8).

Untuk mengantisipasinya, Mentan Amran memastikan pupuk tersedia tepat waktu. Perawatan tanaman dan pengendalian hama juga terus dilakukan, termasuk mengantisipasi kekeringan.

“Upaya kita adalah tentu jangan sampai kekurangan pupuk. Pupuknya harus tepat waktu, kemudian pemeliharaannya, kemudian hama, kemudian dampak kekeringan,” katanya.

Mentan Amran menekankan pentingnya pengairan bagi tanaman sawit yang terdampak kekeringan. Menurutnya, tanaman yang sudah besar tetap perlu mendapat pasokan air agar produksinya terjaga.

“Yang sudah besar kalau bisa diairi-diairi. Gitu. Banyak langkah-langkah kita,” ujar Mentan Amran.

Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memprediksi produksi CPO Indonesia tahun depan berpotensi turun sekitar 5 juta ton akibat fenomena El Nino. Produksi yang diperkirakan mencapai 59,5 juta ton tanpa memperhitungkan dampak El Nino, diproyeksikan turun menjadi sekitar 53 juta ton.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono mengatakan, tekanan terhadap produksi sawit nasional tidak hanya berasal dari faktor cuaca. Pelaksanaan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang masih lambat juga menjadi persoalan karena berpengaruh terhadap produktivitas kebun sawit rakyat.

“Seharusnya produksi kita tahun lalu sudah bisa di atas 60 juta ton apabila PSR itu berhasil. Kendala utamanya ada pada perizinan, padahal dana dari BPDP sudah disediakan tetapi tidak pernah bisa dicapai karena realisasi PSR yang sangat lambat,” kata Eddy.

GAPKI menilai percepatan PSR perlu menjadi prioritas untuk menjaga produktivitas kebun sawit rakyat sekaligus pasokan CPO nasional.

Di sisi lain, jika produksi turun menjadi sekitar 53 juta ton, volume ekspor CPO juga diperkirakan ikut berkurang. Ekspor yang sebelumnya sekitar 32 juta ton diproyeksikan turun menjadi sekitar 27 juta ton karena kebutuhan domestik harus diprioritaskan.

Keterbatasan pasokan CPO tersebut juga berpotensi memengaruhi pasar sawit dalam negeri, termasuk harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini