Sawit Berkelanjutan Jadi Penopang Ekonomi, BPDP Dorong Pekebun Rokan Hilir Naik Kelas

0

Pekanbaru — Perkebunan kelapa sawit rakyat dinilai memiliki peran strategis sebagai penopang ekonomi masyarakat Riau. Namun, kontribusi tersebut perlu dijaga melalui pengelolaan yang tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan optimalisasi sumber daya lokal.

Upaya memperkuat kapasitas pekebun tersebut dilakukan melalui Pelatihan Budi Daya Kelapa Sawit Angkatan XIII bagi pekebun Kabupaten Rokan Hilir yang berlangsung di Pekanbaru pada 31 Agustus–5 September 2026.

Kegiatan merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Ditjenbun), serta dilaksanakan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (SIB).

Sebanyak 31 peserta mengikuti pelatihan dan dijadwalkan mengikuti kunjungan lapangan pada 4 September 2026 ke Gapoktan Manunggal Sakti, Kampung Sialang Sakti, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Rokan Hilir Cicik Mawardi Athar mengatakan pengembangan sawit harus diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Menurut dia, sawit telah menjadi salah satu sumber penghidupan penting masyarakat. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan perencanaan yang mampu mempertemukan kepentingan ekonomi dengan kelestarian lingkungan.

“Ini perlu ada suatu perencanaan ataupun yang khusus, penelitian khusus itu bagaimana sawit ini dapat dikelola untuk menunjang ekonomi masyarakat dan tidak merusak lingkungan,” kata Cicik.

Tantangan Kawasan Hutan

Cicik menilai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah keberadaan kebun sawit masyarakat yang berada di kawasan hutan.

“Kalau kita lihat data statistik yang ada, hampir lebih daripada 50 persen daerah sawit, terutama sawit-sawit masyarakat ini di dalam kawasan hutan,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut membutuhkan perhatian dan penanganan agar masyarakat tetap memperoleh kepastian dalam mengelola sumber penghidupan mereka, sekaligus menjaga fungsi lingkungan.

Karena itu, pengembangan sawit rakyat tidak dapat hanya dilihat dari sisi produksi. Aspek tata kelola kawasan dan keberlanjutan juga perlu menjadi bagian dari pembinaan pekebun.

Cicik mendorong adanya penelitian dan perencanaan yang lebih spesifik mengenai model pengelolaan sawit yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan lingkungan di Rokan Hilir.

Selain menjaga lingkungan, Cicik mendorong pekebun mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di sekitar kebun. Salah satunya melalui integrasi sawit dengan peternakan.

Menurut dia, pengembangan ternak sapi di kawasan perkebunan dapat menciptakan hubungan saling menguntungkan. Limbah ternak dapat diolah menjadi pupuk organik untuk tanaman, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pupuk yang dibeli.

“Bagaimana kita bisa membuat menjadi ternak sapi dan menghasilkan pupuk untuk petani kita,” katanya.

Dengan konsep tersebut, kebun sawit tidak hanya menjadi tempat menghasilkan tandan buah segar, tetapi berkembang menjadi bagian dari sistem usaha tani terpadu.

Pendekatan ini juga dapat membuka sumber pendapatan tambahan bagi keluarga pekebun sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal.

Cicik juga menilai penguatan kapasitas pekebun harus diikuti dengan sinergi antara penyuluh pertanian dan petugas perkebunan. Menurut dia, penyuluh yang selama ini banyak menangani tanaman pangan dapat ikut berperan dalam meningkatkan pengetahuan pekebun sawit.

“Kalau bersinergi antara PPL, antara petugas perkebunan dan pertanian, insyaallah bantuan-bantuan yang dari pusat itu dapat berhasil guna dan berdaya guna,” ujarnya.

Pemanfaatan teknologi juga perlu diperluas. Bantuan pemerintah seperti drone, menurut Cicik, dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan perkebunan dan meningkatkan efektivitas kegiatan di lapangan.

Namun, pemanfaatan teknologi harus dibarengi peningkatan kemampuan SDM agar bantuan yang diberikan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Produktivitas Tetap Jadi Kunci

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Supriadi mengatakan peningkatan produktivitas menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha pekebun.

“Di sini Bapak Ibu hadir semua dalam rangka memastikan bahwa kebutuhan bisa kita penuhi melalui peningkatan produktivitas,” kata Supriadi saat membuka pelatihan, Senin (31/8/2026).

Menurut dia, keterbatasan lahan membuat pekebun harus mampu meningkatkan produksi dari kebun yang sudah dimiliki. Perbaikan pemupukan, pemeliharaan tanaman dan pengelolaan kebun menjadi bagian dari upaya tersebut.

Supriadi juga meminta peserta tidak menjadikan pelatihan sekadar kegiatan formalitas. Ilmu yang diperoleh harus diterapkan dan disebarluaskan kepada pekebun lainnya.

“Yang diwajibkan kepada kita itu adalah ikhtiar bagaimana insyaallah produksi meningkat melalui peningkatan dan perbaikan budidaya,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan pekebun agar mempertahankan lahan yang dimiliki.

“Jangan jual lagi lahan yang Bapak Ibu miliki sekarang,” katanya.

Menurut Supriadi, kebun sawit yang dikelola secara baik dapat menjadi aset ekonomi jangka panjang bagi keluarga.

Pelatihan tersebut diharapkan melahirkan pekebun yang tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas, tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan, memanfaatkan sumber daya lokal dan mengembangkan usaha tani secara terpadu.

Dengan demikian, sawit rakyat di Rokan Hilir dapat terus berperan sebagai penopang ekonomi masyarakat tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Produktivitas, kualitas SDM, teknologi dan pengelolaan sumber daya lokal menjadi fondasi agar manfaat ekonomi perkebunan dapat bertahan dalam jangka panjang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini