GAPKI Minta Peremajaan Sawit Dikebut

0

Produksi sawit dalam lima tahun terakhir cenderung stagnan dan menurun. Ketua Bidang Perkebunan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI), R. Azis Hidayat mengungkap salah satu biangnya adalah rendahnya tingkat peremajaan pohon sawit yang sudah tidak produktif.

Hal tersebut disampaikan dalam diskusi Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) yang mengusung tema “Perpres 16/2025 ISPO untuk Industri Sawit Berkelanjutan” di Wisma Tani, Jakarta, Rabu (4/6).

Menurut Azis, berdasarkan data tahun 2017, terdapat sekitar 2,8 juta hektare tanaman tua yang seharusnya sudah diremajakan. Dia memperkirakan, pada tahun 2025 ini, luasannya telah meningkat menjadi lebih dari 3 juta hektare.

Namun, hingga Februari 2025, realisasi rekomendasi teknis (Rekomtek) dari Direktorat Jenderal Perkebunan baru mencakup sekitar 380 ribu hektare. Artinya, sekitar 2,5 juta hektare lahan sawit tua belum tersentuh program peremajaan.

“Ini harus kita update data yang masuk tanaman tua yang harus diremajakan. Karena realisasi dari PSR (Peremajaan Sawit Rakyat) pun juga masih kecil,” kata Azis.

Lebih lanjut, Azis menyampaikan data produksi dan ekspor terbaru. Pada 2024, stok kelapa sawit turun dibandingkan tahun sebelumnya, begitu pula produksi yang menurun dari 54,8 juta ton menjadi 52,2 juta ton.

“Kemudian untuk nilai ekspor pun turun dari Rp 462 triliun di 2023 menjadi Rp 438 triliun pada 2024,” tambah Azis.

Untuk kinerja produksi bulan Maret 2025, GAPKI mencatat penurunan dari 13,37 juta ton menjadi 13,13 juta ton. Namun, konsumsi dalam negeri meningkat dari 5,7 juta ton menjadi 6 juta ton, sementara nilai ekspor meningkat signifikan dari Rp 99 triliun pada Maret 2024 menjadi Rp 143 triliun pada Maret 2025.

“Makanya kita bisa ASN bisa gajian bulan ke 13, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga jalan terus kemarin ada paket ekonomi karena dari sawit sudah ada tambahan 143 triliun,” kata Azis.

Nilai ekspor tersebut baru tercatat sampai bulan Maret 2025, dan jika ditambah dengan data April, diharapkan bisa mencapai sekitar Rp 200 triliun tahun ini. “Kalau sampai ditambah April mudah-mudahan bisa Rp 200 an triliun,” pungkas Azis. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini