
Sebagai upaya memperkuat praktik keberlanjutan di sektor sawit, Solidaridad bersama Jaringan Ketenagakerjaan Sawit Berkelanjutan (JAGASAWITAN), hasil kolaborasi antara Jejaring Serikat Pekerja/Serikat Buruh Sawit Indonesia (JAPBUSI) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) meluncurkan sinergi multipihak yang berfokus pada penguatan peran perempuan dalam sektor sawit.
Inisiatif ini diimplementasikan melalui Program POWERRR (Kesetaraan Perempuan dan Kelapa Sawit melalui Sumber Daya, Hak, dan Keterwakilan di Indonesia), dengan Kalimantan Timur khususnya Kabupaten Paser dan Kutai Timur sebagai wilayah percontohan nasional.
Tujuan utama program ini adalah menciptakan model kerja inklusif yang menjunjung kesetaraan gender, perlindungan perempuan, dan praktik ketenagakerjaan berkeadilan di seluruh rantai pasok industri sawit Indonesia.
Dukungan penuh datang dari Sumarjono Saragih, Presidensi JAGASAWITAN sekaligus Ketua GAPKI Bidang Pengembangan SDM. Dia menegaskan, meski industri sawit merupakan pilar penting ekonomi nasional, sektor ini tak boleh menutup mata terhadap tantangan sosial.
“Inisiatif ini adalah langkah konkret untuk membangun sinergi multipihak. GAPKI terbuka untuk berkolaborasi dengan semua pihak, termasuk Solidaridad. Kami ingin memastikan kesetaraan dan keadilan gender di sektor sawit. Hak perempuan pekerja harus dihormati, dilindungi, dan dijamin dari kekerasan,” tegas Sumarjono.
Dia menambahkan, serikat pekerja memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan di tingkat kebun, bukan sekadar mitra dialog sosial.
“Melalui program POWERRR, kami akan memperkuat kapasitas serikat agar mampu mengintegrasikan perspektif gender dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dan mekanisme perlindungan dari kekerasan di tempat kerja,” ujar dia.
Program POWERRR dirancang untuk menjangkau dan memberdayakan 3.500 perempuan di rantai pasok kelapa sawit Kalimantan Timur. Dari jumlah itu, 1.500 di antaranya adalah petani perempuan, dan 2.000 merupakan pekerja perempuan di perkebunan.
Seluruh peserta akan mendapatkan pelatihan literasi keuangan dari konsorsium mitra seperti Syngenta, Solidaridad, Perempuan Mahardika, dan Pusat Studi Gender Universitas Mulawarman (PSG Unmul).
Selain itu, petani perempuan akan memperoleh pelatihan Good Agriculture Practices (GAP), sedangkan pekerja perempuan akan dilatih mengenai penggunaan bahan kimia yang aman, pengelolaan limbah, serta kebijakan perlindungan anak.
Peluncuran program ini turut dihadiri berbagai pemangku kepentingan strategis, termasuk perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Dinas Tenaga Kerja, dan Dinas Perkebunan dari tingkat provinsi hingga kabupaten. Hadir pula perwakilan GAPKI, serikat pekerja F HUKATAN, 15 perusahaan sawit, serta organisasi masyarakat sipil.
Dengan sinergi multipihak ini, POWERRR diharapkan mampu menjadi cetak biru (blueprint) bagi transformasi industri sawit Indonesia menuju arah yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi sawit sebagai komoditas strategis yang ramah terhadap perempuan dan lingkungan.




























