Indonesia Bisa Guncang Industri Dunia Lewat CPO

0
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman saat menjadi pembicara pada Retreat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tahun 2026 di Bogor, Jumat (30/1).

Hilirisasi minyak sawit mentah (CPO) Indonesia bisa menjadi alat strategis untuk mengendalikan harga dunia dan mengurangi ketergantungan impor energi.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaman  saat menjadi pembicara pada Retreat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tahun 2026 di Bogor, Jumat (30/1).

Menurut Amran, Indonesia memproduksi 60–70 persen CPO global, sehingga memiliki posisi dominan yang bisa dimanfaatkan secara strategis.

“Herannya European Countries, negara-negara Eropa ingin mencekik Indonesia. Kami ditanya Bapak Presiden, ‘Bagaimana ini diban akan dilarang kita ekspor ke negara Eropa?’ Aku katakan, Bapak Presiden, kita yang kendalikan,” kata Amran.

Strategi pengendalian ini dilakukan dengan mengalihkan CPO yang selama ini diekspor sebanyak 26 juta ton menjadi biofuel, berupa bahan bakar nabati campuran (B50) dan bahan bakar nabati murni (B100).

Menurut Amran, jika sebagian CPO dialihkan menjadi biofuel, Indonesia tidak hanya bisa menghentikan impor solar, tetapi juga menurunkan harga solar di pasar dunia sekaligus mendorong kenaikan harga CPO global.

“Saya ulangi, kita impor solar 5,3 juta ton, kita hentikan pasti harga solar dunia turun. Kemudian ekspor (CPO) kita 26 juta ton kita tarik 5,3 juta ton, kita produksi biofuel. Terus harga CPO naik,” kata dia. “B50 tahun ini kita tidak impor lagi solar dan CPO harga CPO naik terus. Tentu B50 lebih dahsyat.”

Dia menjelaskan, target jangka panjang pemerintah adalah B100. Dengan bahan bakar nabati murni 100 persen, Indonesia dapat lebih fleksibel mengendalikan pasokan dan harga CPO di pasar global sesuai fluktuasi harga dunia.

“Nanti yang kita mau cetak adalah B100. Begitu harga dunia naik, kita lepas. Begitu turun, kita tarik kembali jadi solar.  Yang kita permainkan ini dunia, jangan dunia yang mempermainkan kita,” ujar Amran. 

Lebih jauh, hilirisasi CPO membuka peluang bagi industri dalam negeri untuk menghasilkan produk turunan bernilai tambah, mulai dari margarin hingga bahan kosmetik.

“Kalau ini sudah diolah dalam negeri, kita hilirisasi, bisa jadi margarin, bisa jadi bahan kosmetik, macam-macam, dan kita kuasai dunia,” ungkap Amran.

Dia juga membeberkan potensi dampak besar jika Indonesia menghentikan ekspor 26 juta ton CPO. Menurutnya, langkah ini bukan hanya soal pasar domestik, tetapi bisa mengguncang industri global. 

Negara-negara pengimpor utama, lanjut dia, seperti Amerika, India, dan China, berisiko kekurangan bahan baku, yang bisa menutup pabrik, menimbulkan pengangguran, dan memicu protes massal.

“Bayangkan kalau, maaf, ini ke depan kita coba hentikan 26 juta ton, kira-kira apa terjadi di dunia? Amerika, India yang impor 4 juta ton, 5 juta ton, China 3-4, mereka tidak bisa produksi. Apa tidak tutup industrinya? Apa tidak terjadi pengangguran? Apa tidak terjadi demo besar-besaran? Karena mereka tidak bisa produksi bahan bakunya ada di Indonesia,” kata Amran. 

Menurut Amran, hal inilah yang menjadi mimpi Presiden Prabowo ke depan, agar Indonesia bisa menjadi negara super power di bidang pangan, energi, dan industri strategis.

“Inilah mimpi Bapak Presiden yang harus kita wujudkan. Semoga beliau selalu sehat. Minimal 10 tahun ke depan, kita perlu pemimpin yang memiliki wawasan se-visioner beliau, agar 15–20 tahun ke depan Indonesia bisa menjadi negara super power,” imbuh dia.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini