Industri Gula Terkendala Rendahnya Rendemen dan Kualitas Tebu

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kualitas tebu dan rendemen menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi industri gula nasional. Untuk bisa mengatasi persoalan itu, kemitraan antara petani tebu dengan pabrik gula harus ditingkatkan.

Hal tersebut disampaikan pakar Pertanian Universitas Brawijaya, Sujarwo dalam webinar bertajuk ‘Permasalahan, Kelembagaan dan Kerja sama Petani Dengan Pabrik Gula’ yang diselenggarakan oleh PT Riset Perkebunan Nusantara dan Universitas Brawijaya, baru-baru ini.

Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah peningkatan kualitas dan produksi tebu per hektare (ha). Kemudian diikuti dengan peningkatan rendemen di pabrik gula sehingga produksi gula yang diperoleh bisa lebih besar sekaligus lebih berkualitas.

“Hal itu nantinya akan memicu upaya peningkatan efisiensi produksi gula sehingga produktivitas meningkat namun dengan biaya produksi yang lebih rendah,” katanya.

Sebagai gambaran, rata-rata produktivitas tebu di perkebunan milik Holding PTPN III berkisar 67 ton per ha. Diperoleh produksi tebu 4,67 ton per ha dengan rendemen 7 persen. Dengan kondisi tersebut, biaya produksi gula saat ini di kisaran Rp 10 ribu per kg.
Ia mencatat, rata-rata harga gula di pasar Indonesia sekitar Rp 11.900 per kg, jauh lebih tinggi dari pada rata-rata harga gula dunia yang hanya Rp 6.200 per kg.

“Selama kualitas tebu dan rendemen tidak diperbaiki maka permasalahan gula tidak akan selesai. Tren impor gula kita terus meningkat setiap tahun ini menandakan ada inefisiensi gula yang makin tinggi,” kata Sujarwo.

Tingginya biaya produksi gula nasional menjadikan harga gula di Indonesia menjadi salah satu yang termahal di dunia. Diperlukan peningkatan efisiensi produksi gula dan peningkatan produktivitas untuk dapat menekan harga gula tanpa mengurangi pendapatan petani tebu.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bustanul Arifin, memaparkan, berdasarkan data International Trade Center tahun 2020, indeks biaya produksi gula di Indonesia mencapai 192 poin. Sementara Brazil, yang juga menjadi negara produsen gula hanya mencatat indeks dengan 100 poin.

“Kita sudah ditengarai indeks biaya produksi yang paling mahal, kita juga menjadi importir gula terbesar di dunia. Tahun lalu impor kita tercatat ada 4,1 juta ton. Melebihi China dan AS,” kata Bustanul.

Bustanul mencatat, areal pertanaman tebu tahun lalu tercatat turun 2 persen yakni tersisa 416 ribu hektare. Itu berdampak pada penurunan produksi tebu sekitar 3,2 persen menjadi sekitar 27,7 juta ton dan tercermin kepada turunnya produksi gula sebesar 3,6 persen, menjadi hanya 2,1 juta ton. Padahal, rata-rata kebutuhan total gula nasional baik untuk konsumsi maupun industri saat ini mencapai 6 juta ton.

Menurut Bustanul persoalan pada industri gula terjadi baik di level hulu maupun hilir. Pada sisi hulu, usaha tani tebu tidak efisien karena produktivitas yang rendah. Di sisi lain juga terjadi persaingan dengan komoditas pangan lain yang juga menjadi konsentrasi pemerintah.

Adapun di hilir, sebagian besar pabrik gula di Jawa sudah berusia tua dan membuat proses produksi tidak efisien karena teknologi sudah jauh tertinggal. Namun di sisi lain, industri makanan dan minuman dalam negeri terus berkembang pesat. Hal itu mau tidak mau meningkatkan kebutuhan gula yang jalan keluarnya dipenuhi melalui impor gula, termasuk gula rafinasi.

Ia menilai, salah satu terobosan yang harus segera dilakukan dengan berinvestasi pada penelitan dan pengembangan pabrik gula. Meliputi perbaikan sistem perbenihan dan pembibitan, bongkar ratoon, serta penyuluhan petani tebu yang lebih tersistematis.

Hal lain yang tak kalah penting, harus ada insentif bagi petani tebu. Saat ini, petani tebu setidaknya harus menunggu selama 10 bulan untuk bisa mengantongi pendapatan. Itu kemudian diperkuat dengan konsolidasi lahan petani menjadi 5 hektare untuk mencapai skala keenomian.

“Harus ada sistem pembiayaan petani tebu yang mendukung cashflow menjadi 2-3 bulan dan konsolidasi lahan untuk meningkatkan produktivitas,” kata dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini