Di tengah keramaian Hari Ulang Tahun ke – 57, Keluarga Alumni INSTIPER (KAINSTIPER), satu tema mengemuka lebih nyaring seperti suara pengeras: konsolidasi.
Setelah bertahun-tahun berjalan, KAINSTIPER mulai merajut ulang kebersamaan dan memanggil kembali alumninya yang tersebar di berbagai perusahaan perkebunan, pertanian, dan kehutanan di seluruh Indonesia. Dari panggung sederhana di Yogyakarta itulah muncul kembali gagasan lama yang selama ini menunggu untuk ditegakkan: organisasi alumni yang solid, terhubung, dan diakui sebagai kekuatan strategis dalam sektor agrikultur nasional.
Para alumni datang dari generasi berbeda, dari lulusan era 70-an hingga para alumni muda yang baru menapaki awal karier. Sebagian membawa produk usaha, sebagian lain memamerkan hasil penelitian atau pengalaman profesional mereka. Namun di balik suasana reuni dan saling menyapa, ada percakapan yang lebih serius: bagaimana menghimpun potensi besar ini agar tak lagi tercecer.
Ketua Umum PP KAINSTIPER, Johan Sukardi, berulang kali mengingatkan bahwa konsolidasi potensi alumni bukan sekadar jargon. Ini adalah syarat untuk memperkuat eksistensi organisasi dan memastikan kontribusi alumni dapat dirasakan lebih luas. Pesannya disambut dengan anggukan panjang, seolah seluruh ruangan memahami bahwa momentum ini tidak boleh berlalu sia-sia.
Selama ini, jejaring alumni Instiper berjalan seperti aliran sungai yang tidak pernah bertemu di satu muara. Ada yang bekerja di perusahaan perkebunan raksasa, ada yang bergerak di dunia riset, ada yang merintis usaha agritech, dan tidak sedikit yang terlibat dalam konservasi dan kehutanan. Potensi besar itu berjalan sendiri-sendiri, tanpa satu wadah yang benar-benar kokoh.
Organisasi alumni memang aktif sejak 2015, tetapi konsolidasi 23 pengurus daerah masih membutuhkan dorongan besar agar bisa bergerak serempak. Di usia ke-57 ini, KAINSTIPER mencoba mengubah itu semua—membangun rumah bersama yang lebih tertata dan berdaya guna.
Aris Eko Nugroho, Ketua Panitia, tampak bergerak cepat memastikan setiap stan alumni berjalan lancar. Ia tahu kegiatan semacam ini bukan perkara sederhana: butuh koordinasi intens, tenaga besar, dan perhatian ke banyak detail.
Namun baginya, justru melalui kegiatan seperti inilah alumni bisa kembali merasa terhubung. Ia berkisah bahwa setiap tahun selalu ada alumni baru yang datang, memperkenalkan diri, membawa produk, atau sekadar menyampaikan ingin terlibat lebih aktif. Energi itu ada—yang diperlukan adalah arah yang jelas.
Dalam sambutannya, Johan menyinggung hal yang sering terjadi dalam organisasi alumni: banyak yang ingin bergabung tetapi merasa belum pantas atau masih malu karena merasa belum “sukses”. Padahal, kata Johan, organisasi alumni bukan panggung prestise, melainkan ruang kebersamaan. Ia berharap seluruh pengurus daerah dapat bersiap menuju Musda, dan selanjutnya membawa semangat itu ke Munas. Konsolidasi, bagi Johan, adalah kerja panjang yang dimulai dari satu hal sederhana: hadir.
Suasana kebersamaan itu sempat berubah hening ketika isu bencana hidrologi disampaikan. Purwadi, salah satu pengurus, mengingatkan bahwa banyak alumni dan keluarga mereka terdampak bencana di berbagai wilayah. Ia menyerukan agar alumni bersatu tidak hanya dalam perayaan, tetapi juga dalam solidaritas. Donasi, kata Purwadi, harus segera digerakkan. Tidak hanya untuk alumni, tetapi juga untuk mahasiswa Instiper—terutama yang berasal dari Sumatra Utara—yang turut merasakan dampaknya. Bagi Purwadi, bantuan kepada mahasiswa tidak boleh bersifat insidental. Mereka adalah adik-adik dalam keluarga besar Instiper, dan ketika mereka kesulitan, alumni wajib hadir untuk membantu.
Pada sisi akademik, Rektor Instiper, Harsawardana, menyampaikan persoalan yang lebih struktural. Ia menekankan bahwa keberhasilan kampus tercermin dari alumninya. Namun hingga kini, Instiper masih berkutat dengan satu masalah klasik: basis data alumni yang tidak terintegrasi. Kampus tengah mengembangkan sistem digital untuk memetakan alumni—di mana mereka bekerja, kontribusi apa yang mereka berikan, dan bagaimana jejaring mereka dapat dihubungkan dengan mahasiswa. Namun prosesnya belum rampung. Untuk perguruan tinggi yang alumninya tersebar di berbagai perusahaan besar, data yang tercecer berarti kehilangan peluang besar dalam membangun jaringan profesional yang kuat.
Harsawardana mengajak alumni untuk aktif mendukung transformasi digital tersebut. Tidak hanya dengan mengisi data, tetapi juga membantu memastikan bahwa sistem ini dapat berfungsi sebagai pusat informasi yang dinamis—yang menghubungkan mahasiswa dengan perusahaan, alumni dengan peluang kolaborasi, dan kampus dengan perkembangan dunia kerja yang terus berubah. Dengan basis data yang kuat, eksistensi KAINSTIPER tidak hanya akan terlihat, tetapi akan menjadi rujukan.
Sepanjang kegiatan, percakapan-percakapan pribadi antaralumni membuka mata bahwa jejaring Instiper sebenarnya jauh lebih besar dari yang selama ini dipahami. Ada yang baru sadar bekerja di satu grup perusahaan dengan senior yang tidak pernah sempat ditemui. Ada pula alumni muda yang baru tahu bahwa usahanya mendapat mentor spontan dari senior yang bertahun-tahun berkecimpung di dunia agribisnis. Koneksi yang selama ini tersembunyi muncul sendiri ketika ruang bertemu dibuka.
Menjelang acara resmi berakhir para alumni enggan beranjak. Mereka berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil—membahas rencana kegiatan pengurus daerah, peluang kerja, ide kolaborasi, bahkan wacana membentuk inkubator bisnis alumni.
Di sudut lain, Johan terlihat berdiskusi dengan beberapa alumni muda mengenai arah jangka panjang organisasi. Tidak ada formalitas berlebihan, tetapi ada keseriusan yang terasa.
Di usia 57 tahun, KAINSTIPER tampak memasuki fase kedewasaan baru. Ia bukan lagi sekadar wadah reuni, bukan lagi sekumpulan nostalgia, tetapi jejaring yang mulai menyadari kekuatan kolektifnya. Jika konsolidasi ini berhasil dijaga, maka eksistensi alumni Instiper bukan hanya semakin kokoh, tetapi juga akan memberi warna pada masa depan pertanian, perkebunan, dan kehutanan Indonesia.
Karena pada akhirnya, kekuatan organisasi alumni tidak terletak pada masa lalu yang dikenang, tetapi pada kebersamaan yang dibangun hari ini dan dampak yang ditanam untuk generasi berikutnya.






























