SULAWESI BARAT — Penguatan keterampilan dalam memproduksi pupuk organik menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas pekebun dalam mengelola perkebunan secara lebih mandiri. Melalui Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik Angkatan I dan II di Provinsi Sulawesi Barat, sebanyak 60 peserta dari Kabupaten Pasangkayu mendapatkan pembelajaran yang memadukan pemahaman teknis dengan praktik pembuatan pupuk organik padat dan cair.
Pelatihan yang berlangsung pada 23–26 Oktober 2026 ini merupakan hasil kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training. Program tersebut bertujuan memperkuat pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia perkebunan, khususnya dalam mengenali, mengolah, dan mengaplikasikan pupuk organik.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Muh. Faizal Thamrin, menyampaikan pentingnya kolaborasi untuk mendorong pekebun semakin mandiri. Saat membuka kegiatan, ia mengatakan bahwa pemanfaatan pupuk organik dapat menjadi salah satu upaya untuk menekan biaya produksi, terutama di tengah fluktuasi harga pupuk kimia.
“Kerja sama dengan IPB Training ini merupakan langkah nyata untuk mendorong petani kita makin mandiri. Aplikasi pupuk organik membantu petani menekan biaya produksi di tengah fluktuasi harga pupuk kimia, sementara teknik pemetaan sangat penting untuk kepastian data lahan serta pemenuhan sertifikasi seperti ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil),” ujarnya.
Materi pelatihan mencakup pengenalan pupuk organik dan pupuk hayati, regulasi dan standardisasi pupuk organik, proses pengomposan, serta bahan dasar pupuk organik dan pemanfaatan limbah perkebunan. Materi tersebut memberikan landasan bagi peserta untuk memahami berbagai bahan yang dapat diolah menjadi pupuk organik, termasuk tahapan pengolahan yang perlu diperhatikan.
Pengetahuan tersebut diperkuat melalui praktik langsung di Unit Pengelola Pupuk Organik (UPPO) Desa Bukit Samang. Di lokasi ini, peserta mempraktikkan pembuatan pupuk organik padat menggunakan serbuk kayu dan kotoran hewan (kohe) kambing.
Peserta terlibat aktif dalam setiap tahapan praktik. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada pengenalan bahan dan konsep, tetapi juga memberikan pengalaman langsung mengenai proses pengolahan bahan organik menjadi pupuk.
Selain pupuk organik padat, peserta juga mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair. Dalam kegiatan tersebut, mereka mengamati tingkat keasaman atau pH beberapa larutan sebagai bagian dari pengenalan karakteristik bahan dan hasil olahan. Pengamatan ini membantu peserta memahami aspek teknis dalam pembuatan pupuk organik, termasuk pentingnya memperhatikan kondisi larutan selama proses pengolahan.
Tim narasumber IPB Training, Prof. Dr. Ir. Hariyadi, MS, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang memungkinkan kegiatan tersebut terlaksana.
“Pelatihan ini bisa terlaksana atas kerja sama antara BPDP, Ditjenbun, dan IPB Training. Ini kolaborasi yang baik dan patut kita syukuri,” ujarnya.
Selain praktik pembuatan pupuk, peserta mempelajari aplikasi pupuk organik dan mengikuti uji praktis untuk memperkuat pemahaman terhadap materi yang diberikan. Rangkaian pembelajaran dirancang agar peserta memahami keterkaitan antara bahan baku, proses pembuatan, karakteristik pupuk, dan penggunaannya di lapangan.
Pemanfaatan bahan seperti serbuk kayu dan kotoran kambing juga memperlihatkan peluang pengolahan bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar. Namun, penerapannya tetap perlu mempertimbangkan karakteristik bahan, proses pengolahan, serta kebutuhan tanaman agar pupuk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara tepat.
Pengetahuan teknis tersebut menjadi bekal bagi pekebun untuk menilai peluang penerapan pupuk organik sesuai dengan kondisi perkebunan masing-masing. Pemanfaatan sumber daya organik yang tersedia di sekitar kebun diharapkan dapat mendukung efisiensi usaha sekaligus memperluas pilihan pekebun dalam memenuhi kebutuhan pupuk.
Kolaborasi BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training melalui kegiatan ini menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas pekebun yang disertai pengalaman praktik. Pelatihan tidak hanya memperkenalkan konsep, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta untuk mencoba proses pembuatan pupuk dan melakukan pengamatan secara langsung.
Dengan keterampilan yang diperoleh, peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan. Penguatan kapasitas dalam pembuatan dan aplikasi pupuk organik diharapkan turut mendukung terwujudnya pekebun yang lebih mandiri, terampil, dan mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya organik di lingkungan sekitar.
























