Produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) Indonesia mencatat kenaikan tipis sebesar 2% pada April 2025, dipicu oleh faktor musiman. Data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebutkan produksi CPO naik menjadi 4,479 juta ton dari 4,391 juta ton di bulan sebelumnya. Sementara itu, produksi minyak inti sawit (PKO) turut meningkat dari 417 ribu ton menjadi 425 ribu ton.
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, menyatakan bahwa kenaikan ini juga mendorong akumulasi produksi CPO dan PKO sepanjang Januari–April 2025 menjadi 18,039 juta ton, atau naik 0,85% dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Meski produksi mengalami peningkatan, sisi konsumsi dan ekspor justru menunjukkan tren penurunan. Ini tentu menjadi perhatian kami ke depan,” ujar Mukti dalam pernyataan resmi GAPKI, Selasa (24/6/2025).
Total konsumsi dalam negeri turun menjadi 2,100 juta ton dari 2,168 juta ton pada Maret. Penurunan paling signifikan terjadi pada sektor biodiesel, yang turun 4,58% menjadi 1,046 juta ton. Konsumsi untuk pangan juga menurun sebesar 2,02% menjadi 871 ribu ton. Sementara konsumsi oleokimia relatif stabil, dengan kenaikan tipis 0,32% menjadi 183 ribu ton.
Ekspor Anjlok Hampir 40%
Salah satu sorotan terbesar adalah anjloknya volume ekspor sawit Indonesia. Ekspor produk sawit turun drastis sebesar 39,2% menjadi 1,779 juta ton dari 2,876 juta ton pada Maret. Produk minyak sawit olahan menjadi kontributor utama penurunan, dari 2,128 juta ton menjadi 1,241 juta ton (-41,7%).
Ekspor oleokimia juga ikut melemah, dari 407 ribu ton pada Maret menjadi 368 ribu ton di bulan April.
Volume pengiriman ke Uni Eropa tercatat turun 156 ribu ton, ke India berkurang 155 ribu ton, ke Amerika Serikat turun 113 ribu ton, ke Pakistan menurun 109 ribu ton, dan ke Bangladesh turun 86 ribu ton. Secara tahunan (year-on-year), ekspor dari Januari hingga April 2025 tercatat sebesar 9,416 juta ton, atau 3,08 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar 9,715 juta ton.
Penurunan paling signifikan terjadi untuk pasar India, Uni Eropa, dan Tiongkok, yang masing-masing mengalami penurunan volume ekspor di atas 60 persen dibandingkan tahun lalu.
Meskipun volume ekspor melemah, nilai ekspor produk sawit Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan positif.
Sepanjang Januari hingga April 2025, nilai ekspor naik menjadi US$ 10,818 miliar dibandingkan US$ 8,307 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan nilai ini didorong oleh harga rata-rata CPO yang lebih tinggi, yaitu sebesar US$ 1.183 per ton Cif Rotterdam, lebih tinggi dari rata-rata tahun sebelumnya yang sebesar US$ 1.001 per ton.
Baca juga: Pupuk Indonesia Peringkat 69 Fortune Southeast Asia 500
Di sisi lain, peningkatan produksi yang tidak diimbangi dengan konsumsi dan ekspor menyebabkan stok akhir bulan April melonjak. Dengan stok awal April sebesar 2,017 juta ton dan total produksi CPO+PKO sebesar 4,904 juta ton, serta penyerapan dalam negeri dan ekspor yang menurun, stok akhir tercatat meningkat menjadi 3,046 juta ton.
Menurut Mukti Sardjono, tren ini menunjukkan pentingnya strategi diversifikasi pasar ekspor serta penguatan serapan domestik untuk menjaga stabilitas industri sawit.
“Stok yang meningkat harus dikelola dengan baik agar tidak menekan harga di tingkat petani. Sinergi antara pelaku industri dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk memperluas pasar dan mengoptimalkan konsumsi dalam negeri,” ujarnya.
Baca juga: Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah Pacu Kenaikan Harga CPO
Ia juga menambahkan bahwa GAPKI akan terus memantau pergerakan pasar global serta dinamika kebijakan dagang dari negara mitra ekspor untuk mengantisipasi tekanan lanjutan terhadap industri sawit nasional.






























