Tiga Serangga Penyerbuk Asal Tanzania Siap Genjot Produksi Sawit

0
Ketua Bidang Riset dan PengembanganGabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Dwi Asmono. Dok: Supianto/Majalah Hortus

Pemerintah secara resmi mendatangkan tiga spesies serangga penyerbuk dari Tanzania untuk memperkuat produktivitas kelapa sawit nasional. Ketiga spesies tersebut adalah Elaeidobius kamerunicus, Elaeidobius subvittatus, dan Elaeidobius plagiatus, masing-masing sebanyak 2.000 individu.

Menurut Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Dwi Asmono, keputusan ini diambil berdasarkan kajian komprehensif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Pihak-pihak yang terlibat dalam kajian tersebut antara lain Riset Perkebunan Nusantara, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), R&D GAPKI, Perhimpunan Ilmu Pemuliaan dan Perbenihan Sawit Indonesia (PIPPSI), Perhimpunan Entomologi Indonesia, serta Badan Karantina Indonesia (Barantin).

Dia menambahkan, tim eksplorasi GAPKI telah berada di Tanzania sejak Januari hingga awal April lalu. Dalam proses awal, teridentifikasi lima spesies serangga penyerbuk, namun setelah eksplorasi lebih lanjut di lapangan, ditemukan delapan spesies potensial.

“Dari hasil kajian, kami memutuskan memasukkan tiga spesies, yaitu Elaeidobius kamerunicus, Elaeidobius subvittatus, dan Elaeidobius plagiatus. Masing-masing kami datangkan sebanyak 2.000 individu,” jelas Dwi kepada Majalah Hortus baru-baru ini.

Dia menegaskan, proses impor serangga ini sudah melalui prosedur karantina dan clearance dari Komisi Agens Hayati. Saat ini, tiga spesies tersebut sedang diisolasi di PPPKS Marihat, Sumatera Utara.

“Proses observasi dan penelitian akan dilakukan hingga November.  Targetnya, dari total 6.000 serangga yang dimasukkan, mereka bisa berkembang menjadi sekitar 800.000 hingga 1.000.000 individu,” kata Dwi.

Penelitian ini mencakup beberapa aspek penting, seperti kemurnian spesies, potensi penyebaran penyakit, interaksi dengan serangga lokal, serta efektivitas penyerbukan pada berbagai tipe bunga sawit.

“Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa serangga penyerbuk ini aman, efektif, dan tidak akan mengganggu keseimbangan ekosistem lokal,” kata dia.

Jika semua berjalan baik, riset lanjutan akan dilakukan oleh 21 R&D perusahaan anggota GAPKI. Mereka adalah perusahaan-perusahaan sawit yang punya kapasitas riset, termasuk entomolog dan fasilitas untuk pengembangan skala lanjut.

“Target awalnya adalah mencapai critical milestone pada Oktober, dan bila berhasil, Menteri Pertanian diharapkan dapat secara resmi melepas tanda bukti keberhasilan program ini,” kata Dwi.

Anggaran Riset

Untuk riset awal dan pengadaan tiga spesies serangga penyerbuk, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengalokasikan anggaran sebesar Rp 10,4 miliar, sementara dari pihak swasta diperkirakan sekitar Rp 5 miliar.

Menurut Dwi, dengan total anggaran sekitar Rp 15 miliar, jumlah ini terbilang kecil dibandingkan dengan potensi peningkatan produktivitas sawit nasional.

Sebagai gambaran, satu hektare sawit membutuhkan sekitar 25.000 serangga penyerbuk (Elaeidobius kamerunicus). Jadi, pengembangan ini sangat penting karena penyerbuk tidak punya KTP—mereka bisa menyebar secara alami.

“Jika keberhasilan penyerbukan bisa meningkat lagi 10–15 persen, itu sudah sangat signifikan. gap produktivitas bisa ditekan, dan target ambisius seperti B50 atau bahkan B100 lebih mungkin tercapai,” kata dia.

Namun tentu saja, lanjut dia, ini baru satu aspek dari produktivitas. Masih ada faktor-faktor lain, yaitu planting material, kesesuaian lahan, pupuk, perawatan, dan panen. 

Jika kelima aspek ini dikerjakan secara benar, intensifikasi bisa menjadi jalan tercepat dan paling efisien dibandingkan ekstensifikasi.

“Sawit pernah hanya tanaman pagar. Tapi dengan intensifikasi, dia bisa menjadi komoditas industri strategis nasional. Maka strategi yang kita dorong ke depan jelas, intensifikasi dulu, baru pikirkan perluasan,” imbuh dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini