Tingkatkan Produktivitas dan Daya Saing, BPDP, Ditjenbun, PT SIB Adakan Pelatihan SDM Pekebun Sawit

0

PALEMBANG — Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Dian Eka Putra, menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pekebun menjadi salah satu faktor penentu dalam upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing perkebunan kelapa sawit rakyat. Karena itu, pelatihan dan penguatan kapasitas pekebun perlu terus diperluas untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi sektor sawit saat ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Dian saat membuka Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit program Pengembangan Sumberdaya Manusia Perkebunan (SDM Perkebunan) tahun 2026 Angkatan III, yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan PT Sumber Daya Indonesia Berjaya (PT SIB) di Palembang, Senin, 22 Juni 2026.

Pelatihan tersebut diikuti 30 pekebun kelapa sawit dari Kabupaten Banyuasin, salah satu sentra produksi sawit terbesar di Sumatera Selatan. Kegiatan ini menjadi bagian dari program nasional pengembangan SDM perkebunan yang diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis, manajerial, serta pemahaman pekebun terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan.

Menurut Dian, pelatihan memiliki arti strategis bagi Sumatera Selatan yang selama ini menjadi salah satu lumbung produksi kelapa sawit nasional. Ia menyebut Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir sebagai wilayah yang menjadi penopang utama produksi sawit di provinsi tersebut.

“Pengembangan SDM perkebunan merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting. Produktivitas kebun tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau ketersediaan sarana produksi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya,” kata Dian.

Ia menilai tantangan yang dihadapi industri sawit saat ini semakin kompleks. Selain tuntutan untuk meningkatkan produktivitas, sektor sawit juga harus mampu menjawab berbagai isu keberlanjutan yang menjadi perhatian pasar global.

Karena itu, menurut dia, peningkatan kompetensi pekebun menjadi langkah penting agar petani mampu menerapkan praktik budidaya yang baik, efisien, dan sesuai dengan standar keberlanjutan yang berlaku.

Dian juga menyoroti tingginya partisipasi generasi muda dalam pelatihan tersebut. Kehadiran peserta dari kalangan muda dinilai menjadi indikator positif bagi keberlanjutan sektor perkebunan di masa depan.

“Kami melihat cukup banyak peserta dari kalangan generasi muda. Ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan sektor perkebunan ke depan,” ujarnya.

Regenerasi petani, lanjut dia, menjadi salah satu tantangan yang selama ini dihadapi sektor pertanian dan perkebunan. Kehadiran petani muda diyakini akan mempercepat adopsi teknologi, inovasi, serta penerapan praktik budidaya yang lebih modern dan berorientasi pada efisiensi usaha.

Selain itu, generasi muda dinilai memiliki kemampuan yang lebih cepat dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pengelolaan kebun, mulai dari pencatatan usaha tani hingga akses informasi pasar dan teknologi budidaya terbaru.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Kelapa Sawit Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Mula Putra, yang mewakili Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi perkebunan sawit rakyat Indonesia.

Menurut dia, rata-rata produktivitas kebun sawit rakyat saat ini masih berada pada kisaran 3,3 hingga 3,5 ton minyak sawit per hektare per tahun. Angka tersebut masih jauh di bawah potensi produktivitas yang dapat mencapai 5 hingga 6 ton per hektare.

“Masih terdapat gap produktivitas yang cukup besar antara kondisi aktual dan potensi yang sesungguhnya bisa dicapai. Menutup kesenjangan inilah yang menjadi fokus pemerintah,” kata Mula.

Ia menjelaskan bahwa rendahnya produktivitas kebun rakyat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya penggunaan benih yang belum unggul, penerapan teknik budidaya yang belum sesuai standar, pemupukan yang tidak tepat, hingga pemeliharaan tanaman yang belum optimal.

Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas pekebun melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan agar praktik budidaya di tingkat lapangan semakin baik.

Menurut Mula, peningkatan produktivitas menjadi langkah yang jauh lebih efektif dibandingkan perluasan lahan. Dengan produktivitas yang meningkat, pendapatan pekebun dapat bertambah tanpa harus membuka area baru, sehingga aspek ekonomi dan lingkungan dapat berjalan seiring.

Sementara itu, Direktur Utama PT Sumber Daya Indonesia Berjaya (PT SIB), Andi Yusuf Akbar, mengatakan bahwa pengembangan SDM merupakan salah satu kunci utama dalam transformasi perkebunan sawit rakyat menuju usaha yang lebih produktif dan berdaya saing.

Ia menegaskan bahwa pelatihan tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga pada pembentukan pola pikir dan perilaku usaha yang profesional.

“Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi peserta secara menyeluruh, mulai dari aspek pengetahuan, sikap, hingga keterampilan teknis di lapangan,” kata Andi.

Menurut dia, industri sawit saat ini berkembang sangat cepat dan menghadapi berbagai perubahan, baik dari sisi teknologi maupun tuntutan pasar. Karena itu, pekebun perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan meningkatkan kapasitas diri secara berkelanjutan.

Andi menambahkan, peningkatan kualitas SDM juga menjadi fondasi penting dalam mendukung penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan di tingkat kebun rakyat. Pekebun yang memiliki pemahaman memadai mengenai praktik budidaya yang baik akan lebih mudah memenuhi berbagai standar yang dipersyaratkan pasar.

Pelatihan yang berlangsung selama beberapa hari tersebut mencakup berbagai materi, mulai dari teknik budidaya tanaman kelapa sawit yang baik, pengelolaan pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, keselamatan dan kesehatan kerja, hingga pengenalan prinsip-prinsip Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Melalui program ini, peserta diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing sehingga produktivitas dan efisiensi usaha dapat meningkat. Di sisi lain, pemahaman mengenai aspek keberlanjutan juga diharapkan semakin kuat sehingga kebun rakyat mampu memenuhi tuntutan pasar yang terus berkembang.

Kolaborasi antara pemerintah, BPDP, dan lembaga pelaksana pelatihan seperti PT SIB menunjukkan komitmen bersama dalam memperkuat fondasi SDM perkebunan nasional. Upaya tersebut dinilai penting mengingat sektor sawit masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia, sekaligus sumber penghidupan bagi jutaan pekebun rakyat di berbagai daerah.

Bagi Sumatera Selatan, peningkatan kapasitas SDM perkebunan menjadi langkah strategis untuk mempertahankan posisi sebagai salah satu sentra sawit terbesar di Indonesia. Dengan produktivitas yang terus meningkat dan praktik budidaya yang semakin berkelanjutan, sektor sawit diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat sekaligus menjawab tantangan industri di masa mendatang.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini