Virtual Training PT SIB, Memahami Rantai Pasok ISPO

0
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Transparansi rantai pasok menjadi aspek penting bagi pembangunan kelapa sawit berkelanjutan atau Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Untuk memahami secara komprehensif, Lembaga Pelatihan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (PT SIB) dan PT Mutu Indonesia Strategis Berkelanjutan (PT MISB menyelenggarakan ‘Pelatihan Rantai Pasok ISPO’ yang virtual, 19 Maret 2022.

Ketua Dewan Pengarah PT SIB, Achmad Mangga Barani menyatakan, virtual training rantai pasok ISPO bertujuan untuk menyamakan persepsi pemahaman dan pengetahuan yang lengkap tentang Pemenuhan Persyaratan Rantai Pasok dalam sertifikasi ISPO dan meningkatkan kemampuan dalam melakukan audit persyaratan rantai pasok ISPO.

Menurutnya, saat ini pemerintah Indonesia terus mendorong pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah mewajibkan ISPO melalui Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia.

“Aturan ini dibuat untuk memastikan bahwa kelapa sawit dan produk turunannya diproduksi sesuai dengan standar prinsip dan kriteria ISPO. Sawit dianggap berkelanjutan jika nihil deforestasi dan nihil eksploitasi (NDPE). Di sini lah kemudian mengapa transparansi rantai pasokan komoditas tersebut menjadi krusial,” kata Mangga Barani.

Mangga Barani menambahkan, rantai pasok kelapa sawit yang transparan seharusnya mudah untuk ditelusuri. Keterlacakan tersebut harus sampai di sumbernya yakni perkebunan kelapa sawit tempat tandan buah segar dipanen hingga manufakturnya. Cara termudah untuk memverifikasi sumber pasokan ini adalah melalui sertifikasi keberlanjutan ISPO.

“Verifikasi penting untuk memastikan bahwa kelapa sawit tersebut tidak berasal dari perusahaan perkebunan kelapa sawit yang menyebabkan deforestasi dan kebakaran hutan dan lahan,” kata Mangga Barani.

Direktur PT MISB Rismansyah Danasaputra menyatakan, saat ini pemerintah sedang mempersiapkan ISPO hilir. ISPO hilir merupakan sebuah keharusan di Indonesia sebagai alat untuk menghubungkan minyak sawit yang sudah mendapatkan sertifikat ISPO agar dapat diterima oleh pasar dan dikenal sebagai konsep sustainable.

“Tanpa ISPO HIlir maka sertifikat ISPO hulu yg diperoleh tidak dapat diperhitungkan oleh pasar global,” kata Rismansyah.

Dengan adanya ISPO, lanjut Rismansyah, rantai pasok dan hilir akan menjadi hal yang sangat positif, karena adanya ketelurusan bahan baku TBS yang memasok TBS ke PKS. Sehingga dapat dipastikan bahwa seluruh pemasok TBS maupun PKS nantinya akan bersertifikat ISPO, memiliki bahan baku yang dapat ditelusur.

“Semakin tingginya kesadaran pelaku usaha perkebunan untuk melakukan Sertifikasi ISPO, diharapkan semakin banyak pemasok TBS yang sustain/berkelanjutan dan dapat dimanfaatkan untuk peningkatan perekonomian daerah dan nasional melalui cara yang bertanggung jawab dan lestari,” jelasnya.
Disisi Hulu bahasan rantai pasok sudah selesai dan sudah menjadi bagian Prinsip dan Krtiteria yang diwajibkan kepada seluruh perusahaan, sementara untuk pekebun dalam 5 tahun.

“Ini menjadi tantangan bagi semua pihak dalam mewujudkan sawit berkelanjutan,” kata Rismansyah.

Menurut Rismansyah, minyak Sawit bersertifikat ISPO adalah produk yang diproduksi oleh PKS dari rantai pasok yaitu kebun sawit yang telah sukses diaudit dan memenuhi persyaratan P&C ISPO (bersertifikat ISPO) oleh sebuah Lembaga sertifikasi (LS ISPO) yang diakui/ terakreditasi

“Sumbernya berasal dari, PKS yang memiliki kebun sebagai rantai pasok yaitu kebun inti dan atau ebun plasma yang dikelola oleh Perusahaan, Perusahaan Perkebunan Budidaya Kelapa Sawit dan Pekebun atau Gapoktan dan atau Kooperasi Pekebun Kelapa sawit,” jelas Rismansyah.

Saat ini ada dua model minyak sawit bersertifikat ISPO; Pertama, Model Segregasi. Dalam model ini mensyaratkan 100% bahan baku berasal dari sumber yang sudah tersertifikasi ISPO.

Kemudian, Model Mass Balance yang mensyaratkan pasokan paling tidak 30% produk CPO, PKO berasal dari sumber yang sudah bersertifikat ISPO : (1) Sampai dengan penilikan pertama, (terutama untuk kebun yang terintegrasi dengan pengolahan). (2) Penambahan persentase untuk setiap tahunnya dalam siklus pertama sertifikasi.

Dedi Junaedi, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian menyatakan, komoditas kelapa sawit merupakan komoditas unggulan nasional. Nilai ekspornya hampir setara dengan komoditas barubara. Namun demikian, sawit memiliki keunggulan dalam hal keberlanjutan.

“Batubara, komoditas ini akan habis dan cenderung merusak lingkungan, sementara untuk sawit bisa usahakan secara terus menerus dan ramah terhadap lingkungan, kata Dedi.

Apalagi, saat ini komoditas sawit sedang menikmati harga yang sangat tinggi. Untuk itu, Dedi menyarankan agar sebagian dari keuntungan digunakan untuk memeperbaiki kualitas kebun dengan menerapkan Good Agriculture Practices (GAP).

Selain itu, lanjut Dedi, berbagai kampanye negatif terus menjadi penghambat pengembangan sawit. Dengan penerapan ISPO diharapkan mampu meredam kampanye negatif.

“Tantangan kampanye negatif terus menghambat sawit. ISPO sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit di Indonesia sudah memenuhi kaedah keberlanjutan,” jelasnya.

Direktur Utama PT SIB Andi Yusuf Akbar menambahkan, hadirnya Peraturan Presiden No. 44/2020 yang kemudian ditindak lanjuti dengan terbitnya Permentan No. 38/2020 menyatakan industri sawit wajib untuk mengetahui dan menerapkan prinsip dan kriteria ISPO sebagai instrumen keberlanjutan sawit indonesia.

“Salah satu yang krusial adalah, mandatory Prinsip 6 tentang transparansi. Dimana salah satu yang termuat dan menjadi highlight dalam kriteria dan indikatornya adalah tersedianya personil yang memiliki pengetahuan yang kompeten dalam rangka memelihara sistem rantai pasok yang ada,” kata Andi.

Untuk membantu menyiapkan personil atau Sumber daya manusia (SDM) PT SIB dan PT MISB bersama Kementerian Pertanian berinisiasi untuk menggelar pelatihan rantai pasok.

“Rantai pasok atau supply chain ISPO menjadi pintu gerbang dalam penjaminan ketelusuran produk sawit, sehingga dalam hal mutu kualitas, konsumen akhir tidak lagi perlu khawatir, tentu hal ini juga akan mereduksi diskurus yang terjadi terkait keberterimaan sawit yang masih dianggap tidak berjalan sesuai dengan prinsip sustainibility,” pungkas Andi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini