Wagub Sumsel Buka ISPOSC 2022

0

Perhelatan Indonesian Palm Oil Smallholders Conference & Expo (IPOSC) 2022 yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia (POPSI) bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di Hotel Aryaduta, Palembang secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Selatan (Sumsel), H. Mawardi Yahya.

IPOSC yang digelar untuk kali kedua tersebut diikuti oleh sekitar 600 petani kelapa sawit. Mereka antara lain tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Perjuangan, Apkasindo, SPKS (Serikat Petani Kelapa Sawit), Aspekpir (Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR-Trans), Samade (Sawitku Masa Depanku), Jaringan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Japsbi).

Ketua Umum POPSI, Pahala Sibuea dalam laporannya mengatakan, dari sekitar 600 peserta konferensi kali ini, mereka berasal dari petani mandiri, kelompok tani, koperasi unit desa dan asosiasi petani. Tema konferensi yang diangkat kali kedua – ISPOSC pertama digelar di Pontianak 2018, adalah Tantangan dan Peluang Petani Sawit Menggapai Perkebunan Sawit Berkelanjutan.

Adapun tujuan dari IPOSC ini, lanjut Pahala, memberikan wawasan kepada petani dan asosiasi betapa pentingnya melakukan sinergi dalam rangka mentransformasikan petani kelapa sawit naik kelas, dalam artian melakukan beberapa hal seperti mengubah pola pikir, perilaku, serta petani berani melakukan kolaborasi atau bermitra.

Ketua Pembina POPSI, Gamal Nasir menambahkan, petani sebagai salah satu pelaku utama kelapa sawit di Indonesia memiliki peran sentral. Pasalnya, dari luas kebun sawit nasional yang mencapai sekitar 16 juta hektar, sekitar 41 persennya dimiliki petani.

Daya saing kelapa sawit ke depan sangat ditentukan oleh perbaikan produktivitas di tingkat petani. “Karena itu, tanpa perbaikan maka daya saing sawit petani kita bakal terancam. Apalagi dengan adanya kebijakan moratorium praktis tidak ada pertambahan luas kebn sawit,”katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Gamal yang juga mantan Dirjen Perkebunan tersebut menyerukan perlunya petani melakukan kolaborasi atau bergabung dengan sesame petani sawit lainnya melalui wadah koperasi unit desa atau kelompok tani demi memudahkan peningkatan kesejahteraan mereka.

Wagub Sumsel dalam pengarahannya memberikan apresiasi atas pemilihan tema yang dinilainya sesuai dengan perkembangan perkelapasawitan saat ini. “Tema ini sangat cocok. Apalagi, saya mendapat informasi bahwa harga sawit saat ini juga sedang cukup baik, yakni mencapai Rp2.600 per kg,” katanya.

Hanya masalahnya, lanjut Mawardi, perbaikan harga sawit melalui kenaikan harga TBS (Tandan Buah Segar) tersebut tidak sebanding dengan kenaikan harga pupuk dalam beberapa waktu belakangan ini.

“Ÿang kami harapkan bagaimana caranya agar stakeholders sawit di negara ini bisa menciptakan kondisi yang memungkinkan kenaikan harga pupuk juga bisa diimbangi dengan kenaikan harga buah sawit sehingga petani tidak sampai harus menanggung rugi,”pinta pak wagub. ****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini