GAPKI Dorong Percepatan PSR Lewat Kemitraan

0
Kepala Divisi Kebijakan dan Sosialisasi Peremajaan Sawit GAPKI, Muhammad Iqbal pada diskusi di acara 4th Indonesian Palm Oil Smallholder Conference (IPOSC) & Expo 2024 di Kalimantan Ballroom Hotel Aston Pontianak, Jumat (20/9).

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendorong percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) lewat jalur kemitraan.

Kepala Divisi Kebijakan dan Sosialisasi Peremajaan Sawit GAPKI, Muhammad Iqbal, menjelaskan bahwa petani perlu didorong untuk melakukan PSR karena 40 persen produktivitas kelapa sawit Indonesia bergantung pada sawit rakyat.

“Kalau sawit rakyat perlu didorong, kenapa? Karena 40 persen itu akan mempengaruhi terhadap nilai ekspor nanti ke depannya,” ujar Iqbal pada diskusi di acara 4th Indonesian Palm Oil Smallholder Conference (IPOSC) & Expo 2024 di Kalimantan Ballroom Hotel Aston Pontianak, Jumat (20/9).

Iqbal menjelaskan bahwa hingga 2024, nilai ekspor sawit Indonesia mencapai 12,8 miliar USD. Namun, dia mencatat bahwa trennya mengalami penurunan karena produksi mulai menurun, terutama disebabkan oleh usia tanaman yang semakin tua.

“Perlu diingat bahwa ketika tanaman itu makin tua, buahnya besar dan berat, tapi minyaknya sedikit. Itulah kenapa didorong replanting agar tanaman kembali muda, buahnya bagus, dan minyaknya makin banyak,” kata dia.

Karena inilah alasan di balik adanya jalur kemitraan, yaitu untuk membantu petani dalam melakukan peremajaan sawit.

Sebab, Iqbal menjelaskan bahwa salah satu tantangan peremajaan adalah persyaratan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), seperti poligon dan foto udara, yang seringkali sulit dan mahal.

“Ketersediaan data di lapangan juga terbatas, sehingga perusahaan mitra diperlukan untuk melakukan pemetaan dan membuat titik poligon,” sambung Iqbal.

Jalur kemitraan sebenarnya paling menguntungkan karena ada jaminan pembiayaan lanjutan, di samping dana PSR sebesar 30 juta per hektare yang diterima dari BPDPKS.

“Kalau dulu 30 juta, kan masih kurang sekitar 40 juta kan buat pembangunan kebun. Rata-rata 77-80 jutaanlah ya buat 1 hektare pembangunan kebun. Nah, dengan jalur mitra, mitra tuh bisa membantu mencarikan duit tambahan ke bank,” pungkas Iqbal.

Iqbal menekankan, konsep kemitraan ini paling tepat untuk industri sawit. Kenapa? Karena pengusaha yang menanggung padat modalnya. Dari pabrik hingga penjualan CPO, semuanya memerlukan banyak modal dan aliran uang yang tinggi.

Sementara itu, di sektor perkebunan, masyarakat berperan penting. Perkebunan membutuhkan tenaga kerja dan lahan yang sangat besar, sehingga otomatis berdampak pada masyarakat.

“Makanya disebut padat karya. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan semakin tinggi. Semakin besar lahannya, otomatis semakin banyak tenaga kerja yang diperlukan,” ungkap Iqbal.

Di GAPKI, ada empat jenis kemitraan yang dibagi menjadi dua kategori, yaitu jalur dinas dan jalur mitra. “Untuk jalur dinas, sebenarnya juga bisa berjalan, Pak. Jadi, tidak serta-merta dengan adanya jalur kemitraan, jalur dinas tidak bisa berfungsi,” kata Iqbal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini