Duh, Sayang Banget 3,68 Juta Ton Air Kelapa Dibuang-buang

0
Kelapa segar sebagai bahan baku hilirisasi kelapa di Indonesia. (Disbun.kaltimprov.)

Pengusaha Nata de Coco Indonesia (GAPNI) mencatat ada 3,68 juta ton air kelapa terbuang percuma. Padahal, ini bisa menghasilkan devisa untuk negara kurang lebih US$5,25 miliar atau setara Rp 79,65 triliun.

“Sangat besar nilainya, fantastis. Cuman selama ini hanya dibuang,” ujar Ketua GAPNI, Derri Kusuma dalam acara Peluncuran Peta Jalan Hilirisasi Kelapa di Kantor Bappenas, Jakarta, dikutip Selasa (1/10).

Derri menyebutkan, industri nata de coco di Indonesia sebagian besar masih dikerjakan skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra. Produksinya saat ini kurang lebih 2.100 ton per bulan.

“Untuk Pulau Sulawesi dan Kalimantan ini belum ada. Dari data kami, memang masih banyak benar sumber air kelapa yang masih terbuang terutama pulau-pulau terluar selain di Jawa dan Sumatra,” ujar Derri.

Sudahlah begitu, industri nata de coco juga belum sepenuhnya dimanfaatkan di dalam negeri. Saat ini, terutama yang diproduksi oleh UMKM, masih berfokus pada produk pangan, seperti minuman dan makanan olahan.

Masyarakat umumnya tahunya sebagai makanan. Tapi sebenarnya di beberapa negara sudah banyak digunakan untuk beberapa industri. Ada industri tekstil, bahkan industri pertahanan,” kata ungkap Derri.

Sepengetahuan Derri, belum ada industri di dalam negeri yang mengolah nata de coco menjadi bahan nonpangan. Saat ini lebih banyak dikembangkan di beberapa negara, seperti di India, Filipina, Vietnam, dan Korea.

“Ini salah satu produk yang non-food, ada biomasker, selulosa. Ini kebanyakan di Korea dan beberapa negara lain. Ada biolater untuk biasa digunakan untuk fashion, produk-produk fashion,” kata dia. 

Oleh karena itu, dia berharap, ke depan GAPNI bisa bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)dan civitas akademisi lainnya bisa meneliti dan mengembangkan lagi produk nata de coco.

Peluangnya ini sangat masih terbuka. Sangat terbuka luas karena tadi saya sebutkan di beberapa daerah terutama di luar Pulau Jawa ini benar-benar belum dimanfaatkan. Di Sumatera itu baru fokus di Lampung saja,” ungkap Derri.

Derri mengakui, tantangan terbesar untuk industri nata de coco di Indonesia adalah keterbatasan teknologi dan sumber daya manusia (SDM).

“Tantangannya di mana ada sumber bahan baku air kelapa, di situ sumber SDM-nya masih sangat minim,” ungkap Derri.

Selain itu, tantangan terbesar untuk industri nata de coco di Indonesia adalah keterbatasan teknologi

“Harapan kami dengan adanya hirisasi ini, kita bisa berdaya saing di teknologinya. Karena untuk pasar selama ini memang kita termasuk kurang suplainya. Harapannya terutama perbaikan di sisi teknologi,” harap dia.

Dia juga menyoroti perlunya memperluas akses pasar, terutama untuk anggota mereka yang belum merambah ekspor. “Selama ini, fokus kami masih terbatas pada pasar lokal, terutama di sektor pangan yang kebutuhannya belum sepenuhnya terpenuhi,” kata dia.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini