Mentan Amran: Sawit Masih Jadi Tumpuan Ekonomi Indonesia

0
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman. (Foto: Humas Kementan)

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, sektor perkebunan, khususnya sawit, merupakan tumpuan besar bagi perekonomian Indonesia.

Menurut Mentan Amran, Indonesia saat ini merupakan produsen sawit terbesar di dunia dengan total produksi mencapai 46 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 26 juta ton diekspor ke berbagai negara.

“Ini tumpuan negara. Oleh karena itu, kita akan mendorong hilirisasi,” kata Mentan Amran pada konferensi pers mengenai produksi beras nasional yang digelar di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (5/4).

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya pada Maret 2025 tercatat sebesar US$2,19 miliar.

Meski mengalami penurunan 3,55 persen dibandingkan Februari 2025 (Month-to-Month), nilai ini tetap menunjukkan kenaikan signifikan 40,85 persen secara tahunan (Year-on-Year) dibandingkan Maret 2024 yang sebesar US$1,56 miliar.

Selain sawit, Mentan Amran juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penguatan komoditas strategis seperti beras dan jagung, yang dinilainya sebagai elemen vital bagi stabilitas pangan Indonesia.

“Insyaallah pangan kita identik dengan beras, jagung. Ini yang paling vital. Kalau ini bermasalah, kita bisa bermasalah. Ini insyaallah, mudah-mudahan ini selesai dalam waktu cepat,” harap Mentan Amran.

Selanjutnya, dalam sektor peternakan, Mentan Amran menegaskan, pihaknya akan fokus pada pengembangan sapi perah (dairy) dan sapi potong (beef) untuk mendukung kecukupan konsumsi protein hewani dalam negeri.

“Kemudian masuk ke peternakan, kita fokus pada dairy dan beef di peternakan, susu dengan sapi berdaging,” terang Mentan Amran.

Terakhir, dalam sektor hortikultura, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa dibandingkan negara lain, karena terletak di garis khatulistiwa.

Pria berdarah Bugis ini menekankan bahwa Indonesia bisa bercocok tanam selama satu tahun penuh, alias 12 bulan. Menurutnya, kondisi ini menjadi salah satu anugerah besar bagi Indonesia.

“(Dalam sektor) Hortikultura, kita mempunyai keunggulan komparatif-komparatif advantageous ( menguntungkan) yang luar biasa. Pertama, selama dua belas bulan kita bisa bercocok tanam, satu tahun penuh,” imbuh dia.

Lantas, yang kedua, sambung Mentan Amran, Indonesia akan menghadapi bonus demografi, di mana proporsi penduduk usia produktif, yaitu Generasi Z dan Milenial, mencapai 52 persen. Hal ini menjadi kekuatan besar bagi negara.

“Ini kekuatan kita. Kemudian, lahan kita subur, sangat subur. Kemudian, biaya tenaga kerja murah. Ini kekuatan kita,” imbuh Mentan Amran.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini